Penghulu Teluk Nilap Kunjungi Balita Penderita Hidran Cephali.


riaupotenza.com
Datuk Penghulu Teluk Nilap, H.Gamal Bacik SE saat menjenguk Atiya berbaring tidur diatas ayunan. Zulkifli

KUBA (RPZ)- Miris melihat kondisi balita penderita penyakit Hidran Cephali, bagian kepala semangkin membesar sementara bagian tubuh terus mengecil. 

Balita berusia satu tahun tiga bulan ini diketahui bernama, Atiya anak pertama  dari pasangan, Budi Kurniawan dan istri Sri Rahmadani warga Sumatra Utara.

Saat ini balita itu dirawat dikediaman orang tua sang ibu atau nenek dari balita tersebut diwilayah RT 02, RW 3, Dusun Karya Nyata, Kepenghuluan Teluk Nilap, Kecamatan Kubu Babussalam (Kuba), Kabupaten Rokan Hilir.

Sebelumnya, balita ini telah dilakukan operasi satu kali di Rumah Sakit (RS) Putri Hijau Medan, Senin (11/1/2021) lalu. Begitu dioprasi kondisinya bukan semangkin membaik malah terus rewel menangis dan muntah-muntah hingga saat ini.

Dokter menyarankan agar dilakukan operasi ulang. Namun akibat kondisi fisik sang bayi yang semangkin mengecil membuat pihak keluarga kesulitan meneruskan perobatan cucu dari Siti  Aminah ini.

Datuk Penghulu Teluk Nilap, H.Gamal Bacik SE di damping Kadus Dusun Karya Nyata, Jumat (16/7/) mengunjungi kediaman balita tersebut. Dalam kunjungannya, Penghulu langsung melihat kondisi sang bayi yang sedang tidur di atas ayunan di dalam kamar.

Datuk Penghulu meminta kepada orang tua dan keluarga sang bayi untuk bersabar dan terus berdoa semoga ada mukjizat dari Allah mengangkat penyakit yang diderita, Atiya sehingga bisa sembuh dari sakitnya.

"Setiap manusia pasti ada permasalahnya, cuma beda-beda, kepada orang tua harus bersabar dan berusaha dan berdoa demi kesembuhan anak yang kita cintai ini," pintanya.

Sri Rahmadani orang tua Atiya mengatakan, keluhan sakit yang di derita anaknya itu merupakan bawaan sejak dari kandungan, begitu lahir penyakit itu memang sudah ada. Cuma saat ini ia dan keluraga hanya bisa pasrha  dan tak mampu berbuat banyak dalam perobatan medis kepada anak pertamanya itu.

"Waktu hamil dulu di USG memang sudah ada penyakit itu, sudah pernah di operasi satu kali, saran dokter dioperasi lagi, cuma kondisi fisiki anak ini terus mengecel jadi kalau mau dimasukkan jarum infus pembuluh darahnya pecah, sekarang kami hanya bisa pasrah saja," keluhnya.

Faktor biaya juga salah satu menjadi penghambat dalam mendapat pengobatan bagi Atiya, saat dioperasi menggunakan kartu BPJS.

"Dulu operasi pakai BPJS, mau kontor terus biayanya transfortasi banyak, sekarang cuma bisa pasrah dan mohon doa dari semua masyarakat agar penyakit anak saya bisa sembuh dan layak sebagai anak-anak lain," pungkasnya. (Zul)