Sejarah Berdirinya Yayasan Al-Huda

Pengabdian untuk Anak Negeri 


riaupotenza.com
Dr Fachri Bais Salam dan Ratmiwati ketua yayasan Al-Huda yang juga sebagai pendiri.

     DIAWALI dari 26 anak asuh yang mereka bina dari suku Talang Mamak yang ada di dalam hutan tepatnya di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau, Dr Fachri Bais Salam dan istri Ratmiwati mulai mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Kepedulian pada dunia pendidikan di indonesia itu memang sejak lama menjadi dambaan Ratmiwati yang sedari kecil adalah seorang anak yatim.
    Ratmiwati remaja berkeinginan bagaimana dapat meciptakan ruang pendidikan murah bahkan gratis agar mereka yang di pelosok terutama suku – suku terpencil di pedalaman dapat mengeyam pendidikan formal. Panggilan jiwa ini di dukung penuh oleh sang suami. Fahri Bais Salam.
    Pasangan suami istri ini dengan susah payah memasuki wilayah pedalaman kebupaten Indragiri Hulu (Riau). Pencarian anak asuh pertama hingga bertemu suku talang mamak dan berlanjut pada suku suku lainnya antara lain suku Sakai, suku Bonai, suku  Akik (dari pulau Rupat) dan ada pula yang antarkan kepada mereka dari suku mentawai (dari sumbar) untuk  mereka asuh.
    Pada tahun 1986 tepatnya bulan Maret dengan bermodal uang pribadi yang tidak seberapa namun dengan niat tulus pasangan suami istri ini memberanikan diri mulai membuat akte yayasan Al Huda agar dapat
menampung anak-anak dari suku pedalaman ini, dengan pendidikan pertama setingkat SMP yakni MTS  di buka dengan hanya 9 orang siswa, minimnya fasilitas saat itu hanya ada ruangan berukuran 3 x 6 beratap bahan bangunan bekas serta lantai tanah.
     Juga tenaga pengajar mereka lakukan berdua karena mereka tak bisa membayar honor guru. Dan yang dapat kita lihat hingga hari ini. Yayasan Al Huda telah mempunyai MTS – SMA – SMK – DIPLOMA 3 serta Strata 1 (S1) dengan 5 gedung bertingkat dan lebih dari 50 ruang kelas bagi peserta didik.
     Pencapaian ini tentu bukan hal mudah bagi Pasangan suami istri ini, begitu banyak suka duka yang mereka alami karena modal yang mereka miliki memang sangat terbatas kala itu. Mempunyai empat orang anak, yang dua diantaranya membaktikan diri saat ini dengan ikut mengajar di yayasan Al Huda, Dr.Fachri Bais salam dan Ratmiwati menceritakan bagaimana suka duka  saat mereka Pertama kali bertemu suku talang mamak di pedalaman hutan. 
     Mengajarkan bagaimana cara berpakaian dan rutinitas keseharian pada umumnya kepada anak anak suku pedalaman. Masih segar dalam ingatan Ratmiwati bagaimana harus pergi belanja ke pasar pada jam 04.00 pagi.  Membuka warung untuk menambah biaya hidup sehari hari hingga mengajari mereka membaca serta menulis.
    Termasuk dalam  membangun ruang kelas pertama dan seterusnya yang mereka lakukan dengan gotong royong. Hingga berdiri gedung awal Al Huda rampung lebih dari 6 tahun di mana saat pembangunan gedung tersebut mereka ikut serta dalam pembangunan kelas.
    Hal itu di lakukan karena mereka tidak mampu membayar biaya tenaga pemborong bangunan secara penuh. Berdiri di atas tanah 1.2 Hektar saat ini yayasan Al Huda sudah mempunyai 5 gedung yang layak untuk proses belajar mengajar.
    Bahkan untuk tenaga pengajar serta peserta didik yang acap kali mendapat pantauan kesehatan di klinik yang mereka miliki. Suatu tujuan mulia yang harus di berikan apresiasi dan patut di jadikan contoh bahwa bp.Fahcri Bais Salam dan ibu ratmiwati telah ikut membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
    Al Huda berhasil melahirkan SDM yang diantaranya tercatat telah menjadi kepala desa, polisi, bahkan TNI.  36 tahun mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dengan mencetak bibit bibit unggul yang mampu bersaing di masa yang akan datang. Pasangan suami istri ini berharap tidak ada lagi anak putus sekolah karena terkendala biaya.(alz)