Kumaafkan Masa lalu Suami

Sebelum menikah denganku, suamiku pernah berpacaran dengan wanita lain. Wanita itu kini menjadi seperti duri dalam rumah tanggaku. Dia menuduhku sebagai perempuan yang merebut kekasihnya dan sekarang bertekad merebut suamiku.

Namaku, sebut saja Neti, sejak berkenalan dengan Bima (bukan nama sebenarnya) aku mulai memikirkan pernikahan. Dan sejak setahun lalu aku akhirnya resmi menikah dengannya. Pernikahan yang sangat membahagiakanku karena Bima adalah pria yang tampan, mapan dan sejak di kampus dulu ia jadi rebutan. 
 
Dia sangat baik dan perhatian padaku. Kedekatan kami di awal-awal perkenalan pun diketahui oleh orangtuaku, dan orangtua menyetujui hubunganku dengannya.

Tapi belakangan, terutama sejak dua bulan pernikahan, sepertinya kehidupan rumah tanggaku selalu dirongrong. Ada seorang perempuan yang selalu menjadi pemicu pertengkaran-pertengkaran kecil antara aku dengan Bima . 

Entah kenapa, tiap kali bersama, handphonenya  selalu saja berbunyi, pertanda ada SMS masuk. Awalnya aku sama sekali tidak curiga, karena kupikir mungkin saja itu SMS dari teman kantornya.
 
Suatu kali, saat aku mendapati handphone Bima  kembali berbunyi. Fahri sedang keluar rumah tanpa membawa HP.

Hatiku langsung berdetak dan berasa terguncang membaca SMS mesra itu. "Bima, hubungan kita masih lanjut, kan? Jangan menghilang dong." begitu kalimatnya. Sebuah kalimat yang bernada menuntut.

Apakah dia selingkuhan Bima ? Apakah suamiku sudah berbuat serong dengan perempuan lain? Ya Tuhan, jika benar, alangkah jahatnya Bima sudah mengotori perkawinan yang belum berumur setahun ini.

Sehari kemudian aku mencoba menghubungi nomor yang mengirim SMS mesra itu. Ternyata benar seorang perempuan, dia bilang bahwa dia adalah kekasihnya Bima . Mereka sudah pacaran tiga tahun lebih.

Tak kuat menghadapi teror seperti ini, akhirnya aku meminta kejelasan dari Bima tentang siapa perempuan yang sudah dua kali mengirim SMS mesra itu. Bima  memohon padaku untuk tidak meladeni. Ia mengakui bahwa dulu pernah pacaran dengan perempuan itu. Tapi sudah putus sejak dua tahun lalu, persis ketika kami jadian. 
 
Antara percaya dan tidak, kucoba menerima penjelasanya. Namun dalam hatiku masih menyimpan syak wasangka. Betapa tidak, aku tidak tahu apa aktifitas suamiku selama di luar rumah. Terlebih, soal perempuan itu, entah di mana ia berada. Atau jangan-jangan ia satu kantor dengan suamiku. 

Sesak rasanya dadaku memikirkan dan membayangkannya. Bima  bilang sudah lama putus dengan perempuan itu, artinya perempuan itu hanyalah mantan kekasih Bima . Jadi katanya, aku tak perlu mencemaskannya. Aku juga berharap semua segera berlalu.

Harapan tinggal harapan, selang beberapa waktu kemudian, kembali kudapati kenyataan menyakitkan. Bima  menerima telpon dari seseorang yang ternyata dari perempuan. Kebtulan aku mendengar saat Bima  menerimanya di samping rumah.

"Please, aku sudah beristri, jadi jangan ganggu lagi. Kita sudah punya kehidupan masing-masing," kalimat dari Bima  kudengar agak menyentak.

Tak lama kemudian Bima  kembali berkata, "Kamu kan tidak hamil, tanggung jawab apa yang kamu minta?" 

Aku langsung shock mendengar kata-kata 'hamil' dan 'tanggung jawab' yang keuar dari mulut Bima .

Dari mencuri dengar pembicaraan Bima  dengan perempuan itu, kemudian  aku benar-benar meminta Bima  berterus terang mengenai hubungannya dengan perempuan bernama Nurul itu. 

Suamiku, yang kupercayai semua pengakuannya dulu, ternyata telah menyembunyikan masa lalunya yang cacat. Ia yang kusangka alim, ternyata telah pernah berbuat mesum dengan pacarnya semasa kuliah dulu. Benar-benar membuatku kecewa. Meski Bima  kemudian mengakui semuanya, dan meminta maaf karena selama ini tak berterus terang. 
 
Pernah kucoba menelpon nomor perempuan itu. Kutanyakan bagaimana hubungannya selama ini dengan Bima. Lalu perempuan itu (sebut saja namanya Nurul) menjawab, "Cukup lama, dua tahun. Tapi gara-gara kami, kami putus!"

Kaget dengan umpatannya, aku segera memutus telepon. Dan sejak itu kucoba untuk mentralisir keadaan dengan mencoba ikhlas atas semua yang terjadi di masa lalu suamiku.

Lagi pula, jika terus-menerus kupersoalkan, tak akan menyelesaikan masalah juga. Yang ada mungkin akan menambah persoalan baru. 

Karena takingin Nurul bakal mengganggu hubungan kami, akhirnya aku dan Bima  pun saling ganti kartu, agar Nurul tidak mengganggu hubungan kami. 

Kucoba menerima masa lalu suamiku dengan lapang hati. Meski kadang terselip juga rasa sakit hati karena merasa dibohongi. Kecewa karena Bima  tak sebaik yang kukira dari awal. Tapi, bagaimana pun hidup harus tetap berlanjut. Kumaafkan masa lalu suamiku. ***