Galau Hati Si Kupu-kupu Malam

SOROT matanya sayu. Perempuan berkuncir rambut ekor kuda itu pakaiannya tak minim. Ia berpenampilan biasa dan sopan, yakni celana jeans panjang dan kemeja lengan panjang merah muda. Demikian sekilas gambaran Ria (sebut saja begitu), seorang pekerja seks komersial (PSK) saat nongkrong di depan sebuah kafe di Kalijodo, Jakarta Utara.

Ya, penampilan perempuan cantik berusia 25 tahun itu memang tak seperti PSK lainnya. Dengan menyilangkan kaki, Ria tampak santai di depan kafe di salah satu gang kawasan Kalijodo. Tak ada merek yang terpampang di sekitar kafe itu.
 “Mau kemana? Udah tiga kali bolak-balik, Mas. Pusing ya? Udah minum? Ngopi dulu atau mau dipijit?” sapa Ria dengan senyum ramah,
 
saat aku melewati dirinya di depan sebuah kafe atau lebih tepatanya sebuah kedai minum.
 
Agak sedikit ragu, aku kemudian memutuskan menyambanginya. Tak lupa kulempar senyum pada perempuan yang tak menunjukkan  secara vulgar bahwa ia seorang perempuan pemuas nafsu pria hidung belang.
 
“Boleh ikut nongkrong? Di mana?” sapaku. Ia kemudian menarik tanganku menuju pintu kafe yang meiliki dua bilah daun pintu. 
 Memasuki ruangan kafe, suasana lengang menyelimuti. Hanya Ria dan dua orang wanita yang masih berada di tempat tersebut. Setelah berkenalan, aku menanyakan pada Ria kenapa suasananya sepi. Cukup mengejutkan jawaban Ria yang mengatakan bahwa beberapa temannya telah pulang kampung. Mereka angkat kaki setelah Pemprov DKI berencana membongkar lokalisasi Kalijodo tersebut.
 
Setelah kami memesan minuman — aku pesan kopi hitam, sementara Ria minta minuman bersoda. Obrolan pun mulai mengalir setelah pesanan kami dihidangkan. Ria pun semakin agresif menawarkan layanan kafe mulai dari minuman bir, pijat, dan layanan cinta 30 menit seharga Rp150.000.
 
Namun, di tengah obrolan yang tengah berlangsung dengan Ria, seorang pria yang ternyata adalah sang mucikari memberitahukan batas waktu pertemuan. Jika tak ada pembicaraan kencan, lebih baik angkat kaki dari kafe.
 “20 Menit aja ya, Mas. Enggak boleh lebih, ntar aku balik lagi,” kata mucikari yang berumur sekitar 40an tahun itu dengan nada megancam. “Anda wartawan, ya?” katanya kemudian, tapi ia langsung menghilang sebelum aku sempat menjawab.
 
Mucikari pergi, obrolan dengan Ria kembali dilanjutkan. Dia mulai mengungkapkan banyak hal. Mulai kekesalannya dengan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang berniat membongkar tempat menggantung hidupnya hingga awal ia terjerumus dalam dunia malam.
 
Dia mengaku sejak usia 19 tahun telah mencoba peruntungan di berbagai kafe di Kalijodo. Aktivitasnya sebagai penjaja cinta sesaat itu dilakoninya tanpa masalah.
 
“2010 lalu aku tamat SMA, tapi orangtua enggak sanggup bayar uang kuliah, abis SMA aku langsung ke sini,” ungkapnya. Cerita selanjutnya meluncur dari bibirnya yang  sensual itu.
 “Memang sih aku udah nggak perawan lagi waktu sekolah. Pertama ‘main’ sama tetangga di kampung. Waktu itu aku bener-bener butuh uang untuk ikut study tour sekolahan akhir semesteran. Bayarnya limaratus ribu. Eh, saat jalan-jalan itu (study tour) aku ‘bobol’ lagi sama pacar aku,” tuturnya dengan suara datar seolah ia tak lagi menyimpan penyesalan atas peristiwa masa lalunya itu. 
 
Saat pertama menjadi PSK, dirinya sempat malu. Ia takut jika pekerjaan itu diketahui keluarganya di kampung. Namun urusan perut yang tak bisa ditawar terlebih di perantauan membuatnya tetap nekat melakukannya.
 
 “Aku dijanjikan jadi pegawai toko baju. Mbak yang mengajakku itu bilang, aku kampungan, lalu dia beliin baju, handphone, alat kosmetik. Udah kayak artis aja, jadi enggak enak. Ya aku nurut. Seminggu di rumahnya, malamnya aku malah dibawa ke sini. Katanya mau ngenalin sama juragan toko baju,” lanjutnya.
 
Dia pun bercerita mengenai penghasilannya yang didapat dalam sebulan. Jika dijumlahkan, uang yang dikumpulkan mencapai Rp9 juta hingga Rp10 juta setelah dipotong berbagai pungutan termasuk fee muncikari. Uang itu digunakan untuk kebutuhan hidupnya agar tetap memikat lawan jenis.
 
 “Gini-gini Aku rajin cek kesehatan,” kata perempuan dengan tinggi sekitar 155 sentimeter itu.
 
Selain itu, anak sulung dari 4 bersaudara itu juga rajin kirim uang untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Uang hasil pekerjaannya itu dikirim ke kampung.
 “Bapakku cuma garap lahan orang, satu adikku udah kawin, nomer tiga masih SMP,” ujarnya.
 
Sekarang dirinya harus berpikir keras bagaimana cara melanjutkan hidup jika Kalijodo benar-benar dibongkar. Ria mengaku sudah patah arang. Apalagi melihat aksi sang Gubernur yang ternyata didukung langsung Kapolda Tito Karnavian serta pihak TNI.
“Kamu benci Ahok?” tanyaku.
 
“Entahlah, Mas. Emang dia lagi pegang kuasa, kita bisa apa?” jawabnya ketus.
 
Waktu kutanyakan bagaimana rencana dia selanjtnya, Ria menjawab, “Belum tahu, Mas . Bagaimana nantinya. Mau balik ke kampung aku nggak berani, aku nggak bisa ngapa-ngapain. Mau kawin pun siapa yang mau, lagian aku udah ‘dijebol’ puluhan kali,” tuturnya dengan suara bergetar. Aku bisa menangkap kegalauan dan kegamangannya. Tidak mudah memang meninggalkan pekerjaan dan dunia yang sudah ia lakoni cukup lama. Apalagi hendak memasuki dunia baru, pasti langkahnya akan terbata-bata.
 
“Mungkin aku coba di Glodok aja ‘kali. Ada teman yang nawarin, katanya di sana lumayan aman,” tukuknya masih dengan nada putus asa.
 
Saat asyik bercerita, Ria tiba-tiba terdiam. Tangannya mengambil telepon genggamnya. Dia kemudian menjawab panggilan telepon dari pacarnya dalam bahasa daerah.
 
Udah dulu ya, Mas, cowokku mau jemput,” ujarnya sambil beranjak dari kursi dan melangkah keluar kafe. Aku tahu itu bukan pacarnya, pastilah itu pria yang sudah membooking sebelumnya.
 
Menjelang tengah malam aku melangkah pulang, menuliskan secuil perjalanan hidup seorang perempuan muda yang terlanjur terpuruk ke lembah hitam. Dalam hati aku mendoakan semoga Ria bisa benar-benar keluar dari dunia maksiat ini.***