Aku Bukan Pengumbar Kata Cinta

Aku melepas status lajangku di usia 35 tahun. Sudah beberapa orang pria yang mendekatiku, tapi semuanya gagal. Akhirnya, ada seseorang mengajakku menikah. Betepa bahagianya aku karena sudah lama menginginkan hal ini.

Menerima lamarannya bukan karena aku jatuh cinta atau malu di usiaku yang sudah kepala tiga, tapi aku ingin menjalankan syariah. Makhluk hidup di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, demikian juga manusia.

Aku tidak mengenal lelaki ini dengan baik. Hanya saja aku menghargai niat dan kejujurannya. Cinta aku sudah tak punya, namun ia berhasil sedikit demi sedikit menumbuhkan rasa cintaku yang lama mati.

Ketika ijab kabul, aku tak seperti calon mempelai perempuan lain yang kerap menangis saat meminta izin kepada orangtuanya. Dengan mantap aku mengikuti sepatah demi sepatah kata-kata yang dituturkan penghulu saat aku meminta izin dan restu dari ayah.

Satu hal yang membuatku tersadar adalah saat lelaki itu mengucapkan ijab di hadapan penghulu dengan lantang. Ilusi aku pun berakhir. Aku memandang lelaki yang duduk di sebelah kananku bakal mengisi separuh sisa hidupku. Tak ada rasa getar sedikit pun saat ia menoleh ke arahku sembari mengangguk. Aku membalasnya dengan tersenyum.

Dua minggu usai acara pernikahan, aku pindah ke rumah suamiku. Kami mulai membenahi rumah. Entah karena capek atau memang keduanya sedang emosi, kami sempat sedikit bersitegang. Bukan masalah yang besar sebetulnya. Aku diacuhkan selama tiga hari. Ini sngat menyiksaku, dalam satu rumah tanpa bertegur sapa.

Pernah saat ia terbatuk malam hari, aku tergopoh-gopoh ke dapur mengambilkan air putih. Tapi bantuanku ditolaknya mentah-mentah. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Akhirnya aku hanya terduduk di pojok ruangan sembari menangis diam-diam.
Aku sadari sepenuhnya kalau ini adalah proses adaptasi. Tapi aku tak menyangka kalau ia orang yang betah tanpa menegur pasangannya. Orang yang sudah pacaran bertahun-tahun, bahkan yang sudah menikah belasan tahun sekalipun masih memerlukan adaptasi, apalagi aku.

Jujur, aku tidak betah dengan sikap diamnya. Ini luar biasa, 20 hari usia pernikahan, sudah terjadi dua kali pertengkaran dalam rumahtangga kami. Ia kerap menganggap kalau kata-kataku terlalu keras.

Pemicu pertengkaran kadang hal sepele. Kalau tidak ia yang tersinggung, aku yang sedang sensitif. Masalah kian membesar karena dua-duanya tidak mau mengalah. Pernah suatu saat aku bingung karena ia marah-marah. Padahal saat itu aku tengah bercanda, ternyata ia menganggap serius.

Suatu pagi, selesai menyediakan sarapannya dan ia tak kunjung bangun, padahal sudah aku bangunkannya sejak setengah jam sebelumnya. Ternyata mulutku tidak mau berhenti ngoceh, meski dalam konteks bercanda. Ia marah dan membuatku tersinggung.

Diam-diam aku meninggalkannya. Aku duduk di belakang sembari satu-persatu mengunyah sarapanku dengan susah payah. Begini ya rasa sakitnya proses adaptasi itu? Aku sudah mencoba melakukan yang terbaik, tapi balasannya apa.
Aku jadi paham kenapa banyak perempuan yang memilih melajang, tidak menikah dan memutuskan hidup sendiri meski ia memiliki semua kebutuhan duniawi. Beruntung suamiku cepat menyadari, segera ia menyusul kebelakang dan memelukku seraya mengucapkan maaf berulang kali.

Anehnya, pertengkaran kami tersebut kerap terjadi saat weekend, di mana aku selalu membayangkan akhir minggu yang nyaman dengannya. Aku sempat merasa takut menghadapi weekend, takut kalau akan terjadi pertengkaran lagi. Aku tidak pernah tahu apa yang ada di kepalanya soal pribadiku. Tapi semakin hari, aku kian mencintainya. Aku tipenya bukan pengumbar kata cinta.

Aku sadar sepenuhnya kalau aku sudah memiliki suami dan aku sudah tak lagi bisa egois dan bertindak semaunya. Tapi bukan berarti aku akan menerima saja kalau ada yang tidak beres di depanku. Aku tidak bisa mentolerir suami yang tidak bisa menghargai apa yang telah dilakukan istri. Meski penghargaan itu hanya berupa ucapan terima kasih semata.

Kehidupanku memang baru memulai sebuah babak baru dan aku ingin kehidupan pernikahanku bisa berumur panjang, bahkan hingga kami sama-sama memasuki usia senja. Karenanya tiap masalah yang aku hadapi, aku anggap sebagai sebuah pelajaran. Tapi semuanya usahaku sia-sia. net