Rupanya Dugaanku Salah


AWALNYA sangat menggelikan. Sambil bercanda, aku mengungkapkan isi hatiku kepada Eni (bukan nama sebenarnya) bahwa aku ingin menjadikannya sebagai istriku. Terbahak dia mendengarnya dan langsung menerima tawaranku.

‘’Ayo saja. Kapan nikah?’’ ungkapnya sambil tertawa. Aku terperangah dengan jawabannya. Aku bingung dibuatnya. Apakah jawabannya itu serius atau bergurau.

Eni adalah perempuan berperawakan kecil dan pendiam. Dia salah seorang teman baik sejak SMA. Dalam keseharian ia tampak sederhana, walaupun ayahnya adalah salah seorang pejabat di salah satu departemen.

Dia punya banyak teman. Hampir setiap hari sepulang kuliah, dirinya selalu bersama teman-temannya, baik perempuan maupun lelaki. Dia memiliki wajah cantik dan pribadi yang menarik, tapi entah mengapa dia tak punya pacar. Padahal hampir seluruh sahabatnya telah memiliki pacar. Eni lebih memilih nongkrong bersama kelompoknya yang rata-rata perempuan, hingga pernah aku kira ia punya kelainan.

Tak pernah aku lihat Eni membawa lelaki untuk dikenalkan kepada kami. Ia selalu berangkat sendiri dan pulang sendiri. Suatu hari, karena sudah larut malam, aku menawarkannya mengantar pulang ke rumah. Ia menerimanya, tapi hanya diperbolehkan membututi mobilnya dari belakang. Padahal aku bertiga dan pria semua.

Aku kuliah di fakultas yang berbeda dengan Eni. Karena usiaku lebih tua tiga tahun, maka aku selesai kuliah lebih dahulu dan langsung bekerja. Sejak saat itu aku tak pernah bertemu lagi dengan Eni.

‘’Didi (bukan nama sebenarnya)’’. Ada suara tertahan memanggilku. Segera aku palingkan kepala ke arah suara tersebut dan menemukan sebuah wajah yang sangat aku kenal. Eni, dengan balutan baju kerja mini lengkap dengan stockingnya, sedang duduk di ruang tamu kantor tempatku bekerja.

Segera aku menghampirinya dan kujabat tangannya keras-keras. Aku peluk hangat dan sejak itu hubungan pertemanan kami terjalin lagi. Uniknya ia masih seperti dulu, belum juga punya pacar. Hal ini membuat pacarku Lena (bukan nama sebenarnya) cemburu melihat keakrabanku dengan Eni.

Pacarku terus mencemburui Eni. Tapi dia malah tertawa dan menjanjikan kepada Lena akan menjauhiku. Tentu saja aku marah ke Lena. Aku lebih memilih bersahabat dengan Eni dan memutuskan hubunganku dengan Lena.

Sejak lamaran bercanda itu diterima, mulailah kami belajar mengenal diri lebih dekat, hingga aku makin mantap ingin memperistrinya. Aku merasa tak salah meminangnya, walaupun kala itu pinangan dilontarkan dengan bercanda. Eni ternyata seorang istri pilihan yang bertanggung jawab penuh mengelola rumahtangga kami. Hingga kami memiliki dua orang anak, hasil buah cinta kami.

Pernah suatu hari ia dengan sukarela meninggalkan karirnya karena ingin mengasuh bayi kecil kami yang baru dilahirkannya. ‘’Aku tidak ingin kehilangan momen-momen indah saat anakku lahir hingga bisa berjalan dan mengucap kata pertama,’’ ungkapnya lugas.

Aku terharu hingga tak mampu berucap. Aku hanya memeluknya dan bersyukur mempunyai istri seperti dirinya. Hingga anakku yang kedua lahir, ia tetap mengasuhnya sendiri, babby sitter hanya mendampingi saja.

Setelah anak kami mulai besar, ia meminta izin untuk bekerja kembali. Di luar dugaan, karirnya cepat sekali berkembang, hingga dalam waktu singkat ia telah menduduki jabatan penting di perusahaan ternama. Namun Eni tetap seperti dahulu, ia menjadi istri yang patuh di rumah dan tak pernah melalaikan kewajibannya sebagai istri.

Dengan sedikit waktunya yang tersisa, Eni berusaha memasak sendiri untukku, walaupun harus dilakukannya larut malam. Ia tak pernah mengeluh dan melakukannya dengan gembira.

Melihat itu aku sering merasa bersalah telah membuatnya harus melakukan semuanya untuk aku dan anak-anak. Aku pernah mengungkapkan hal itu, Eni malah tersenyum, memeluk dan menciumku. ‘’Izinkan aku melakukan yang terbaik untuk keluargaku,’’ bisiknya lembut di telingaku. Terharu aku memeluk dan mencium keningnya. ‘’Lakukan saja semua yang kamu anggap baik bagi kami, sayang,’’ balasku.

Kini, aku mempunyai jabatan penting di kantor dan kerap kali pulang tengah malam karena tumpukkan pekerjaan yang menggunung, tapi tak sekalipun Eni menegurku. Ia selalu terjaga menunggu aku pulang dan menanyakan apakah aku sudah makan malam atau belum. Jika aku lapar, dengan suka cita ia segera ke dapur mengambilkan piring dan menemaniku makan.

Bukan itu saja, anak-anak kami juga tumbuh sehat dan pintar serta mempunyai sifat yang mandiri persis seperti ibunya. Eni nyaris tak pernah memarahi anak-anak. Jika anak kami berlaku tak sopan, ditegurnya anak kami dengan pelukan dan bisikan. Itu saja sudah cukup membuat anak kami berubah.

Aku sangat berbahagia dengan kehidupan rumahtanggaku. Eni hanya memintaku menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuknya dan anak-anak. Ia tak meminta berlebihan, ia tak mengekangku, ia juga tak pernah memarahiku.

Jujur saja, kini aku takut melihat kemandirian istriku, karena selain cantik, Eni juga sangat baik dan jujur. Aku khawatir ia akan meninggalkanku karena kesuksesannya. net