Rindu Anak di Tengah Pandemi Covid-19


riaupotenza.com

MENAHAN Rindu, inilah yang dirasakan Fenny Susanti saat ini. Sudah kurang lebih tiga bulan, perempuan 35 tahun ini tak bisa bersua dengan putri sulungnya.

Penyebabnya, karena wabah pandemi Covid-19. Ya, putri sulungnya saat ini menimba ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) Almunawarah.

''Putri saya mulai masuk Ponpes tanggal 5 Agustus lalu. Sejak saat itu, hingga kini saya tak pernah lagi berjumpa sama anak saya,'' kata ibu yang mempunyai dua putri ini, Senin (26/10)

Dijelaskannya, tidak bisanya bersua dengan putrinya karena pandemi Covid-19. Sebab, pihak pesantren menerapkan protokol kesehatan, sehingga siapapun wali muridnya, tak bisa menjenguk anaknya.

Curhatnya, minggu pertama anaknya masuk pondok, ibu dua anak ini bahkan tak bisa tidur. Kerinduan terhadap putrinya, selalu menghantui, terutama saat akan tidur.

''Sejak kecil hingga mau masuk pondok, saya tak pernah pisah dengan anak saya. Jadi, terasa kali sedihnya saat pisah dengan putri saya,'' katanya dengan mata berkaca-kaca.

Memang setelah anaknya di pondok, Fenny pernah melihat wajah putrinya. Itu setelah kurang lebih satu bulan anaknya di pondok. ''Wali murid ditelpon oleh ustadzahnya melalui VC whatsapp, tapi paling lama hanya 5 menit, karena giliran dengan santri yang lain,'' akunya sedih.

Bahkan saat mengantar paketpun, wanita yang tinggal di Jalan Temu Kasih, Kelurahan Industri Tenanyan, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbari Roau ini tak bisa jumpa dengan putrinya, walau hanya beberapa detik pun.

''Kita hanya bisa sampai pintu gerbang, lalu paketnya diantar oleh satpam pondok. Inilah yang bisa saya lakukan untuk melepas rindu sama anak,'' katanya lagi.

Saat ini, Fenny berdoa agar wabah pandemi Corona cepat punah. Sehingga saat datang mengantar paket bisa berjumpa dengan putrinya tersebut.

Hal serupa juga dialami oleh Siska Nopiani. Ibu dua anak yang menetap di Kota Garo, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau ini juga menahan rindu untuk berjumpa sama putrinya.

''Berat banget rasanya menahan rindu dan kondisi seperti ini. Mau bilang apa lagi. Ini kebijakan pemerintah, khususnya pihak pesantren,'' ceritanya.

Wanita ini berharap virus corana cepat musnah. Sebab, sudah tak tahan lgi dengan kondisi ini. Selain, perekonomian yang semakin menurun, kerinduan terhadap putrinya bisa terlepas.

Sementara salah seorang ustad Pondok Pesantren Almunawarah, Rafeldi sebelumnya menjelaskan, saat ini di area Ponpes wajib makai masker, tidak berkerumun dan harus sering cuci tangan dan selalu jaga jarak.

Dan untuk sementara waktu ini, sampai batas yang belum ditentukan pihak pesantren juga melarang wali murid untuk berjumpa dengan anaknya. Hal ini untuk mencegah wabah virus Covid-19 masuk ke pondok ini.

Bahkan, pihak pengelola pondok sejak adanya virus corona sudah menerapkan protokol kesehatan. Diantaranya, selama pandemi covid, pihak ponpes menerima pembayaran syariah dan administrasi lainnya melalui transfer.

Wali murid dapat kode unik untuk melakukan transfer, kemudian tranfer ke salah satu bank, jika sudah segera konfirmasi bagian keuangan dengan menyertakan bukti transfer.

Kemudian soal, pengiriman paket yang diantr harus menyertakan nama lengkap santri, kelas dan asrama. Paket diserahkan pada satpam dan mengirim dengan menandatangani bukti penyerahan. Selanjutnya, satpam mengantarkan paket ke gerbang dalam dengan terlebih dahulu disemprot disenfektan, setelah itu bagian bapenta menyerahkan paket ke santri dan santri menandatangani bukti penerimaan.

Kemudian juga ada protokol kesehatan bagi pekerja atau karyawan. Yakni pakai masker dari rumah dan sampai tempat kerja. Hondari menyentuh bagian wajah dengan tangan, jika berkendaraan umum jaga jarak, cuci tangan pakai sabun setiba tempat kerja, selanjutnya tiba di rumah langsung mandi dan cuci baju. jdi