Polisi Gagalkan Penyeludupan 9 Pekerja Migran Ilegal


riaupotenza.com
Polisi Kepolisian Resort Kepulauan Meranti menangkap satu unit kapal cepat atau speed boat berisi sejummah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang diduga akan diberangkatkan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) Ke Malaysia pada Selasa (21/7/2020) di perairan Kepulauan Meranti.

MERANTI (Riaupotenza.com) - Kepolisian Resort Kepulauan Meranti berhasil menggagalkan penyeludupan 9 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan dibawa ke Negeri Jiran, Malaysia.

Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Taufiq Lukman Nurhidayat melalui Kasat Reskrim AKP Prihadi Tri Saputra membenarkan bahwa para pekerja tersebut diamankan personil Polres Rangsang Barat sekira pukul 09.30 WIB.

"Mereka kita temukan di jalur sungai Senteng-Parit gantung sudah dua hari warga setempat melihat satu unit kapal boat dengan bermuatan sejumlah orang yang tidak dikenali," kata Prihadi Rabu (22/7) sore.

Kata Prihadi, di Lokasi desa Kedabu Rapat, dengan menggunakan perahu jenis pompong jaring Kapolsek dan anggota menyusuri sungai tersebut kemudian menemukan sebuah speedboat bermuatan 9 orang sedang terikat di batang kayu bakau. "Berdasarkan interogasi awal yang dilakukan oleh Kapolsek diperoleh informasi bahwa sekelompok orang tersebut datang dari Batam dengan tujuan ke Malaysia bermaksud untuk mencari pekerjaan," ujarnya.

Dimana dalam perjalanan menuju Malaysia kapal yang ditumpangi mengalami gangguan mesin dan akhirnya berhenti di desa Kedabu Rapat untuk perbaikan dan sudah berada dilokasi ditemukan sejak hari Minggu dini hari. "Diketahui pula bahwa kapal tersebut adalah milik sdr Firdaus yang rencananya akan mengantar rombongan sampai ke Malaysia, namun yang bersangkutan pada saat kapal ditemukan tidak berada ditempat dan sudah pergi sejak pagi dan tujuannya tidak diketahui dan yang bersangkutan tidak kembali lagi," jelas dia.

Dijelaskannya tindakan para PMI telah diamankan bersama Speedboat. Kepada seluruh PMI juga telah dilakukan pemeriksaan secara protokol kesehatan, dan keseluruhan PMI dinyatakan non reaktif. Penemuan ini juga dikatakan Pridadi sedang ditangani lebih mendalam.

"Kegiatan yang dilakukan adalah melengkapi Administarsi Penyelidikan membawa, mengamankan sekelompok orang dimaksud menuju Mapolres Kepulauan Meranti, melakukan pendataan dan meminta keterangan. Berkoordinasi dengan Dinas Instansi terkait," bebernya.

Dari pendataan yang dilakukan diperoleh data/ identitas  dari para calon pekerja berjumlah 9 (Sembilan) orang yang terdiri dari 8 (delapan) laki-laki dan 1 (satu) perempuan dengan perincian   MA (44) Laki-laki  Alamat Geranting Pulau terong Belakang Padang – Kepulauan Riau (diduga sebagai koordinator keberangkatan) A (45) Perempuan Alamat Dusun Purwosari Babakan Kawunganten Cilacap Jawa Tengah, S (56) Laki-laki, 56 Thn, Alamat Desa Sepit kecamatan Seruak Lombok Timur – Nusa Tenggara Barat; J (22) laki-laki Alamat Desa Embung Raja, Kecamatan Terara Lombok Timur – Nusa Tenggara Barat; M (45) laki-laki Alamat Desa Bungtiang Kecamatan Sakra Barat Lombok Timur – Nusa Tenggara Barat; Samsul (39) Laki-Laki, Alamat Desa Embung Raja, Kec. Terara Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat; S (43) Laki-Laki, Alamat Desa Embung Raja, Kec. Terara Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat; Z (48) Laki-laki Alamat Desa Embung Raja, Kec Terara Lombok Timur – Nusa Tenggara Barat; BA (33) laki-laki Alamat Desa Kundur Tebing Tinggi Barat, Kepulauan Meranti.

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap para pihak, pihak kepolisian menyimpulkan bahwa para pekerja yang akan berangkat sebelumnya pernah pekerja di Malaysia, dan kembali ke Indonesia atas alasan tertentu namun untuk kembali ke Malaysia tidak bisa dikarenakan perubahan regulasi karna pendemi Covid-19;

"Para pekerja masuk secara mandiri ke Batam dari Surabaya, Cilacap dan Riau  dan mencari tumpangan melalui jalur tikus (secara illegal) untuk bisa masuk ke wilayah negara Malaysia guna mencari pekerjaan," ungkapnya.

Para PMI berangkat dari Batam pada Sabtu tanggal 18 Juli 2020 sekitar pukul 19.00 Wib dari pelabuhan rakyat di daerah Sekupang, Batam, Kepri dengan menggunakan 1 unit speed boad milik Firdaus- Tekong laut  yang saat ini DPO.

Dijelaskan Prihadi para PMI juga bahkan sudah membayar sejumlah uang kepada Firdaus. "Masing-masing pekerja membayar sebesar Rp.3.000.000,- kepada saudara Firdaus untuk bisa diberangkatkan ke Malaysia, saat ini keberadaan Firdaus selaku Tekong laut masih dalam penyelidikan personil Polri," bebernya.

Dikatakannya, untuk saat ini para PMI sedang diamankan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kepulauan Meranti. "Hasil koordinasi dengan DInas Sosial dan Baznas Kabupaten Meranti, menempatkan para Pekerja Migran Indonesia sejumlah 9 orang tersebut di Balai Latihan Kerja guna pendampingan sosial dan atau pemulihan fisik psykis," sebutnya.

Pembiayaan terkait biaya kehidupan para PMI selama pemulihan dan pendampingan akan menjadi tanggung jawab bersama Pemda Kab. Meranti. "Direncanakan selama 1 sampai dengan 3 hari akan di sini, dan direncanakan mengembalikan para PMI kedaerah Asal via Batam, Kepri," pungkasnya. dham