Wow, Plt Kepala BPBD Bengkalis dan Oknum Mahasiswa Kecipratan Kasus Korupsi Amril Mukminin


riaupotenza.com

PEKANBARU (Riaupotenza.com) - Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi dengan terdakwa Bupati Bengkalis non aktif, Amril Mukminin kembali dilanjutkan di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Kamis (16/7/2020). 

Dalam sidang yang digelar secara video conference (Vidcon) itu, jaksa penuntut umum (JPU) KPK menghadirkan empat orang saksi kehadapan mjelis hakim yang diketuai Lilin Herlina SH MH.

Yakni Tajul Muqadis, Ardiansyah, Arifin Aziz dan Jainuri. Tajul merupakan mantan Plt Kepala Dinas (Kadis) PUPR Kabupaten Bengkalis sejak Januari 2017 sampai Juni 2018, dan saat ini menjabat sebagai Plt Kepala BPBD Kabupaten Bengkalis. Sedangkan Ardiansyah, kala itu selaku PPTK proyek Jalan Duri-Sei Pakning.

Sementara Arifin Aziz dan Jainuri, merupakan mantan General Superintendent PT Citra Gading Asritama (CGA) dan pengawas lapangan proyek Jalan Duri-Sei Pakning.

Dipersidangan itu, JPU dan penasehat hukum Amril Mukminin, berada didalam sidang. Sedangkan para saksi berada di Bengkalis, Pulau Jawa dan sedangkan terdakwa Amril berada di Rutan Klas I Pekanbaru.

Tajul Muqadis menjadi orang pertama yang bersaksi. Melalui sambungan aplikasi Zoom di hadapan majelis hakim, JPU dan penasehat hukum Amril Mukminin, Tajul mengaku ada menerima fee dari PT CGA sebesar Rp100 juta di bulan Juni 2017. Fee tersebut diterimanya setelah tandatangan kontrak.

Dari pengakuan itu, hakim ketua Lilin Herlina lalu membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Tajul nomor 12. Yang mana, dalam BAP tersebut menyebutkan bahwa Tajul menerima komitmen fee sebanyak 2 persen dari nilai pekerjaan.

"Dalam BAP anda mengatakan bahwa fee tersebut dijanjikan oleh Triyanto (orang PT CGA). Komitmen fee untuk Bupati (Amril Mukminin) dan Kadis (Plt) PUPR sebelumnya (Tarmizi). Benar ini," tanya hakim ketua.

"Benar yang mulia," jawab Tajul.

Tidak sampai disitu, masih dalam BAP itu Tajul diketahui menerima uang beberapa kali dari PT CGA. Yang pertama menerima sebanyak Rp50 juta. Kemudian Rp100 juta, selanjutnya Rp200 juta dan terakhir Rp200 juta.

"Yang Rp50 juta itu saya minta bantuan (ke PT CGA) untuk ke Surabaya, untuk pernikahan anak saya. Kemudian Rp100 juta itu tahun 2017 sebelum Idul Fitri, untuk keperluan hari Raya. Yang Rp200 juta seingat saya cuma Rp100 juta. Jadi bukan Rp200 juta. Saya ingat setelah di BAP. Terakhir, Rp200 juta lagi itu setelah Idul Fitri 2017," jawabnya lagi.

"Uang itu untuk saya dan Plt (Kadis PUPR) sebelumnya," sambungnya lagi.

Dalam kesaksiannya, Tajul juga mengaku pernah menerima uang dari karyawan PT CGA, Arifin Aziz, sebanyak Rp100 juta. Mendengar pengakuannya, hakim ketua kembali bertanya kepada Tajul.

"Di BAP ada bilang Rp150 juta. Kemudian ada lagi di bulan Maret 2018 sebanyak Rp50 juta di Jakarta. Mana yang betul," tanya hakim ketua.

"Benar yang mulia (yang di BAP)," jawab Tajul.

Dalam kesaksiannya, Tajul juga mengaku pernah memberikan uang sebanyak Rp150 juta kepada Amril Mukminin. Yang mana, uang itu berasal dari PT CGA.

"Pertama Rp100 juta saya kasih langsung ke Bupati (Amril Mukminin). Itu sebelum lebaran tahun 2017. Kemudian Januari 2018, Rp50 juta. Saya kasih ke Bupati di rumah pribadinya, di Jalan Siak, Pekanbaru," ujarnya.

Tidak hanya itu, Tajul juga pernah memberikan uang kepada orang dekat Amril Mukminin, yakni Iwan Sakai (diduga oknum mahasiswa). Tajul mengatakan, saat itu Iwan Sakai meminta uang kepada dirinya atas perintah Amril Mukminin.

"Ada Rp300 juta saya kasih ke Iwan Sakai. Itu tahun 2017. Yang pertama Rp100 juta. Kedua Rp200 juta," ucapnya.

Terkait dengan Iwan Sakai ini, Tajul sempat dimarahi oleh Amril Mukminin. Hal tersebut dikarenakan Amril Mukminin tidak pernah menyuruh Iwan Sakai untuk meminta uang kepada dirinya.

"Pernah saya dimarahi sama Bupati. Saat itu Bupati marah. Kenapa dikasih (uang ke Iwan Sakai)," ceritanya.

"Jadi itu tanpa diketahui (Amril Mukminin). Iwan Sakai minta ke saya atas nama Bupati. Setelah Bupati tahu dia marah. Saat itu Bupati ngomongnya, kenapa tidak telfon saya dulu," sambungnya.

Terkait hal ini, penasehat hukum Amril Mukminin, Asep Ruhiat SAg SH MH diberi kesempatan untuk bertanya kepada Tajul. Asep bertanya, apakah uang yang diberi Tajul kepada Amril Mukminin adalah uang dari PT CGA. "Tidak," jawabnya.

Atas hal tersebut, Amril Mukminin yang mendengar dari sambungan Vidcon, membantah keterangan Tajul. Amril mengaku tidak pernah menerima uang dari Tajul.

"Saya tidak pernah terima uang dari saksi (Tajul) dan tidak pernah saksi melapor sudah memberi uang sebanyak Rp300 juta ke Iwan Sakai," ucap Bupati Bengkalis non aktif itu.

Tajul mengaku juga pernah menerima uang dari seorang kontraktor bernama Ruby Handoko alias Akok. Ruby Handoko saat ini merupakan anggota DPRD Kabupaten Bengkalis.

Awalnya, Tajul mengaku tidak pernah menerima uang dari Akok. Namun, setelah BAP-nya dibacakan, Tajul akhirnya mengakui hal tersebut. rpz