Cyber PR Di Era New Normal


riaupotenza.com

PEKANBARU (riaupotenza.com) - Pemerintah indonesia akhirnya menerapkan kebijakan Normal Baru ( New Normal) kebijakan new normal merupakan pilihan dalam menekan penyebaran Covid-19 dan sekaligus upaya menyelamatkan ekonomi Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh sendi kehidupan termasuk ekonomi mendapat tekanan dari Covid-19, perusahaan – perusahaan multinasional pun mendapat imbas dari kondisi ini.

Kondisi covid 19 memaksa perusahan untuk memperkerjakan pegawai dirumah atau istilah WFH (work from home). WFH sangat berpengaruh terhadap kinerja Humas, Pada kondisi normal Praktisi PR/Humas bekerja dengan selalu berhadapan dengan stake holder, bertemu langsung, namun pasca covid-19 semua dikerjakan dan dilaksanakan melalui daring atau via online.

Dilansir dari Majalah PR Indonesia edisi 63 pada www.prindonesia.co mendapatkan fakta berdasarkan hasil survei akhir april 2020, pada 103 responden praktisi PR dari seluruh Indonesia, secara keseluruhan 71,8 persen responden mengaku mengalami pemagkasan anggaran/ budget pada program PR saat pandemi ini.

Dengan anggaran minim, Praktisi PR mengakali dengan mengganti kegiatan yang sebelumnya harus dilaksanakan dengan pertemuan langsung menjadi kegiatan via online, secara umum dengan perkembangan teknologi, PR telah mempersiapkan hal itu, terbukti dengan adanya kajian kajian dan kebijakan cyber PR, akan tetapi kondisi covid 19 memaksa hal itu terjadi sebeleum waktunya, atau istilahnya menjadi premature, program cyber disiapkan harusnya disiapkan untuk 1 sampai 2 tahun kedepan, tiba tiba harus dilaksanakan tahun ini.

Praktisi PR dituntut untuk mampu mengkreasikan program PR untuk mampu mnyeusuaikan fenomena dilapangan, bukan hal mudah untuk mengkonversi kebiasaan interaksi di dunia nyata secara lagsung menjadi interaksi dalam dunia maya.

Fenomena ini secara tidak langsung juga mempercepat perkembangan cyber pr, kondisi saat ini menumbuhkan kesadaran bagi perusahan, lemabaga pemerintah atau organisasi bahwa pemanfaatan Cyber PR dengan maximal sangat dibutuhkan.

Kondisi serba online juga menjadi tantangan tersendiri untuk praktisi PR dalam cyber PR, karena seluruh perusahaan bersaing dalam satu suatu dunia maya yang orientasinya lebih kepada semi formal, jika biasanya dalam dunia nyata yang dihadapi oleh PR adalah kondisi Formal, masyarakat yang beragam dan kemudahaan akses internet dan media sosial yang sangat mudah di akses membuat PR harus mampu menyesuaikan penggunaan Cyber PR untuuk mayoritas masyarakat yang luas dan menghadirkan konten konten menarik sehingga membuat masyarakat menyenangi perusahaan tersebut.

Covid 19 menjadi awal bermula persaingan CybeR PR yang lebih ketat, perusahaan dan masyarakat semakin sadar fungsi penggunaaan media sosial dan internet, menyebabkan persaingan semakin komplek, untuk itu praktisi PR dalam kajian cyber PR harus mendapat perhatian lebih, sumber daya manusia harus dipersiapkan dengan matang agar mampu bersaing pada new normal saat ini, hal ini juga secara tidak lagsung membuat praktisi Cyber PR terlihat lebih seksi dan menjadi primadona bagi perusahaan atau lembaga pemerintahan.

Untuk itu mari tingkatkan kemampuan Cyber PR agar kita dalam dunia PR tidak tenggelam dengan fenomena yang terjadi saaat ini.

Penulis: Kannia Mustikawati Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Uin Suska Riau (6 PR A). Rls