Tantangan pembelajaran abad 21

Multimedia Interaktif Berbasis Realistik Geometri Solusi Belajar Mandiri Di Era Covid-19


riaupotenza.com
Oleh : Dr Jesi Alexander Alim MPd

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah wajah peradaban dunia. Dalam perkembangannya kita telah sampai pada revolusi industri generasi keempat. 

Konsep pendidikan yang dibangun pada era revolusi industri 4.0 yaitu digitalisasi dan komputerisasi. Hal tersebut memungkinkan adanya interaksi pembelajaran yang tidak mengenal ruang dan waktu. Belajar menguasai konten saja sudah tidak lagi  memadai untuk bisa sukses di abad ke 21. 

pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran  matematika merupakan salah satu konsep kontekstual yang harus dikenalkan oleh guru kepada siswa. Materi yang bersifat abstrak dalam pembelajaran matematika mampu disajikan menjadi lebih real dan kontekstual menggunakan teknologi. Salah satu materi dalam matematika adalah geometri. 

Selama ini pembelajaran geometri belum optimal, guru memberikan rumus secara langsung tanpa mengajarkan konsep dasar dan prosedur yang bermakna bagi siswa. Materi ditampilkan dengan gambar-gambar abstrak dan mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar langsung ditampilkan sifat-sifatnya yang ada dalam buku teks siswa. Pembelajran seperti ini belum membantu siswa untuk mengkontruksi pengetahuan. Sedangkan kualitas buku pelajaran mempengaruhi hasil belajar dan prestasi siswa serta efisiensi mengajar guru.

Peran teknologi dalam pembelajaran geometri dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, memberikan berbagai representasi dan visualisasi konsep, serta sebagai alat bantu siswa untuk dapat mengakses pembelajaran geometri dimanapun mereka berada.

Empat karakter pembelajaran abad XXI menjadi salah satu dasar dalam proses pembelajaran. Namun, faktanya untuk melaksanakan proses pembelajaran empat prinsip belum sepenuhnya dilaksanakan dan dijadikan pilar dari sebuah pembelajaran, terutama di Sekolah Dasar (SD). 

Dalam rangka untuk mengembangkan potensi siswa tersebut salah satu strategi yang perlu dilakukan oleh pendidik yaitu mendesain pembelajaran melalui multimedia interaktif berbasis realistik geometri yang membantu siswa memvisualisasikan pembelajaran geometri. 

Pendidikan matematika realistik ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. 

Selain itu empat karakter belajar abad ke-21 jika disandingkan dengan karakter pembelajaran RME terdapat kesamaan dari keduanya, dimana karakteristik pembelajaran RME menurut Gravemeijer yaitu:

1. Using of Context (Problem)
Pada karakter ini, siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan permasalahannya menggunakan apa yang ada di sekitarnya atau konteks yang dikenali dan sudah dialami oleh siswa. Hal ini berkaitan dengan karakter belajar abad ke-21 yaitu critical thinking and problem solving.

2. Using of Model
Pada karakter ini, siswa menggunakan model-model untuk menjembatani pemikiran mereka dari yang abstrak ke yang lebih konkrit. Hal ini sejalan dengan karakter creativity and innovation pada karakter belajar abad 21.

3. Using of Student’s Contribution
Pada karakter ini, pembelajaran berlangsung lebih mengutamakan kontribusi siswa agar siswa lebih aktif dan mampu menggunakan kemampuannya dengan optimal. Hal ini sejalan dengan karakter critical thinking and problem solving, and creativity and innovation.

4. Interactivity
Pada karakter ini, siswa diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan optimal baik itu dengan teman-temannya maupun dengan gurunya. Hal ini sejalan dengan karakter communication and collaboration.

5. Intertwining
Pada karakter ini, siswa diberikan kesempatan untuk menghubungkan pemikirannya antara materi yang satu dengan materi yang lainnya baik itu termasuk dalam satu pelajaran maupun pada pelajaran yang lain. Hal ini sejalan dengan karakter collaboration.

Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Mata pelajaran geometri kaya dengan materi yang dapat dipakai untuk memotivasi, menarik perhatian dan imajinasi siswa jika disajikan dengan visualisasi. 

Visualisasi dapat membantu siswa membangun konsep geometris dan memfasilitasi visualisasi siswa terhadap objek geometris.

Hal ini dikarenakan pembelajaran bukanlah sekedar memberikan tugas tetapi bagaimana pembelajaran tersebut dapat bermakna sehingga mampu mengantarkan siswa dalam memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan.

Multimedia interaktif berbasis realistik geometri dapat menjadi salah satu solusi bagi para pendidik dalam mengimplementasikan pembelajaran pada saat ini yang berbasis digital. 

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa praktisi pendidikan yang ada di Indonesia dan juga penulis sendiri, Multimedia interaktif berbasis realistik geometri mampu meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa.

Hal ini juga dibuktikan dengan peningkataan motivasi belajar siswa selama model pembelajaran ini diimplementasikan. Selain itu, peningkatan kemampuan penalaran siswa juga terlihat jika dibandingkan dengan sesudah dan sebelum Multimedia interaktif berbasis realistik geometri. 

Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu bukti dan juga referensi bagi para pendidik agar terus berinovasi pada era digital dan juga ketika proses pembelajaran 

Implementasi multimedia interaktif berbasis realistik geometri memiliki sembilan tahapan yakni :

1. Dengan memberi siswa orientasi masalah realistik I. Di sini, guru memberikan masalah kontekstual untuk menumbuhkan motivasi siswa. 

2. Memahami dan menyelesaikan masalah secara matematika horizontal, dalam penyelesaian masalah siswa menyelesaikan dengan cara mereka sendiri  dan guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari solusi dari permasalahan matematika, sesuai dengan pemahamannya.

3. Membimbing dan memberikan stimulasi, yakni siswa dengan bantuan guru menemukan lebih banyak fakta dan konsep

4. Menyajikan hasil kerja, yaitu guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan solusi dari permasalahan yang diberikan.

5. Orientasi masalah, yaitu guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa untuk bekerjasama dengan baik agar hubungan sosial dapat tercipta dengan baik.

6. Memahami dan penyelesaian masalah secara matematika vertikal, yaitu guru harus mampu menjelaskan materi secara konkret sesuai dengan tahapan perkembangan siswa.

7. Mengkonfirmasi Hasil dengan Media interaktif, yaitu siswa mengkonfirmasi hasil kerjanya dengan multimedia intaraktif. 

8. Aplikasi Konsep, yaitu memberikan permasalahan yang akan memperkuat konsep yang telah diperlajar siswa

9. Evaluasi, kegiatan akhir pembelajaran dengan menyimpulkan pembelajaran  dapat dilaksanakan baik secara tatap muka di dalam kelas maupun dalam pembelajaran daring atau online.

Tantangan belajar di era covid 19

Pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) turut mengubah wajah dunia pendidikan, mulai dari metode pembelajaran, penganggaran hingga sasarannya. 

Metamorfosis ini membutuhkan adaptasi agar kegiatan belajar mengajar berjalan lebih efektif. Kebijakan yang diberlakukan adalah belajar di rumah. Sudah lebih dari dua bulan sekolah diliburkan. Tetapi proses belajar mengajar tetap berjalan melalui kegiatan di rumah. Guru mengajar dari rumahnya masing-masing begitu juga dengan para siswa.

Keputusan tersebut diambil Gubernur Riau, H Syamsuar, usai menerima masukkan dari Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan (Plt Kadisdik) Provinsi Riau Kaharuddin, serta Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Riau, Mahyuddin, Ahad, 15 Maret 2020. 

Para siswa dan mahasiswa tak lagi berangkat ke sekolah untuk tatap muka menerima ilmu dan berinteraksi dengan teman sejawat, melainkan belajar dari rumah. Langkah ini dilakukan guna meminimalisir penyebaran virus Corona atau Covid-19.

Keputusan pemerintah Indonesia untuk meliburkan sekolah dan mengganti proses pembelajaran melalui sistem daring (online) membuat kelimpungan banyak pihak. Pemindahan ruang kelas kedalam dunia virtual mengakibatkan terjadinya digitalisasi pendidikan. 

Kini tidak ada lagi sekat pemisah dan ruang kelas untuk belajar, semuanya beralih menggunakan tekhnologi tanpa harus bertemu. Teknologi dalam dunia pendidikan akan semakin besar untuk menciptakan kualitas, efisiensi dan sistem administrasi pendidikan di Indonesia.

Teknologi informasi memiliki peran yang sangat penting terutama bagi dunia pendidikan. Pendidikan tanpa memanfaatkan tekhnologi informasi akan menjadi lemah terutama bidang mutunya, apalagi di tengah Pandemi Covid-19.

Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat merupakan dampak yang sangat besar dari sebuah fakta pada lingkungan siswa, seperti terjadi interaksi belajar-mengajar antar guru dan siswa dalam dunia pendidikan saat ini, karena siswa lebih dilengkapi teknologi, daripada seorang guru.

Pembelajaran daring dapat dilakukan dengan menggunakan Video Tutorial, YouTube, WhatsApp group, Instragram, Zoom dan sebagainya. Namun pengoperasian untuk media pembelajaran belum sepenuhnya terampil dengan sajian yang menarik. 

Selain itu, media pembelajaran daring menjadi momok yang meresahkan. Beban psikis pun bertambah ketika banyak penugasan yang tidak terukur. Namun yang menjadi kendala ada pada kemampuan pemahaman tenaga pendidik dan keterbatasan fasilitas yang menghambat aktivitas mengajar guru. Tak jarang dalam pembelajaran tidak menyentuh semua siswanya dikarenakan tidak memiliki akses teknologi, sehingga pembelajaran terputus. 

Sedangkan guru harus tetap melaksanakan pembelajaran dari jarak jauh, dengan sistem daring. Termasuk sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) kota Pekanbaru. 

Multimedia interaktif berbasis realistik geometri salah satu solusi yang dapat dipakai di masa Pandemi Covid-19. Pembelajaran dengan Multimedia interaktif berbasis realistik geometri dapat membentu siswa memahami materi geometri secara mandiri di rumah.

Keunggulan Multimedia Interaktif

Secara umum, manfaat multimedia interaktif yang  dapat diperoleh adalah  proses pembelajaran yang lebih menarik dan lebih interaktif. Jumlah  waktu  mengajar  dapat dikurangi, dengan tetap menjaga kualitas belajar siswa. Kemudian proses  belajar mengajar dapat  dilakukan  di mana dan kapan saja dan belajar siswa dapat ditingkatkan.

Adapun sejumlah kelebihan yang dimiliki multimedia untuk menjadi alat bantu pilihan bagi kegiatan belajar siswa di rumah secara mandiri adalah :

1. Multimedia membuat siswa mengerti isi pelajaran walaupun siswa belajar sendiri di rumah.

2. Mampu menvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk diterangkan hanya sekedar dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional yang diberikan guru di kelas. 

3. Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung, guna tercapainya tujuan pembelajaran walaupun siswa mempelajarinya sendiri tanpa bantuan guru. 

4. Menambah motivasi belajar selama proses belajar mandiri hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang diinginkan. 

5. Melatih pembelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. 

6. Penggunaan multimedia dalam proses belajar mandiri. Menurut Davis dan Crowther, penggunaan multimedia akan meningkatkan efisiensi, meningkatkan motivasi, memfasilitasi belajar eksperimental, konsisten dalam belajar, dan memandu untuk belajar di rumah (mandiri) lebih baik. ***


Artikel ini ditulis berdasarkan Disertasi untuk penyelesaian S-3 penulis pada Prodi Ilmu Pendidikan Pascasarjana, Universitas Negeri Padang. Tim Promotor Prof Dr Ahmad Fauzan MSc,  Prof Dr I Made Arnawa MSi, Dr Edwin Musdi MPd dan juga tim penguji Prof Nurhizrah Gistituati MEd EdD, Prof Dr Lufri MS dan Prof Dr Zulkardi MI KOMP, M.SC serta pihak-pihak terkait dalam penyelesaian Disertasi ini.