Hari Pendidikan Nasional di Tengah Wabah Covid-19

Ini Kata Calon Rektor UMRAH Terpilih, Agung Dhamar Syakti


riaupotenza.com
Dr Agung Dhamar Syakti SPi DEA

PEKANBARU (Riaupotenza.com) - Setiap 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahun ini, dunia pendidikan tanah air dihadapkan pada kenyataan munculnya virus Corona (Covid-19). Sehingga semua Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), dilaksanakan dari rumah atau dikenal dengan istilah belajar dari rumah. 

Sampai-sampai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI sudah menetapkan tema Hardiknas tahun ini: Belajar dari Covid-19. 

Melihat kondisi begini, menurut calon Rektor terpilih Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Provinsi Kepri Dr Agung Dhamar Syakti SPi DEA,  semua pihak harus bisa beradaptasi dan fleksibel, termasuk dunia pendidikan. 

"Biasanya kita belajar di sekolah. Sekarang belajar dari rumah. Ini adalah bentuk adaptasi dan fleksibilitas kita dengan kondisi yang ada," kata alumnus Ilmu Keluatan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unri itu, kepada riaupotenza.com (PPG) via wawancara by phone, Jumat (1/5/2020). 

Kemudian, kata dia, pahami informasi tentang Covid itu dengan benar. Pemerintah pusat dan daerah harus pula memberi informasi yg sama ke masyarakat, apa itu Covid, sehingga masyarakat bisa memahaminya. 

Akibat Covid, lanjut Agung, terjadi kompleksitas. Sekolah di rumah, perekonomian jadi lesu. "Nah, bagaimana ini bisa dikomunikasikan dengan baik dan benar, agar semua pihak bisa berkolaborasi  menanganinya. PSBB, kenapa harus dilakukan. Jelaskan dengan benar, agar masyarakat paham, dan akhirnya mampu menghadapi kondisi itu," jelas Agung lagi.

Menurut Doktor lulusan Prancis ini, banyak peran yang bisa diambil dunia pendidikan saat ini. Misalnya perguruan tinggi, bisa melakukan riset untuk menemukan vaksin atau obat dari penyakit ini. Disamping juga bisa membantu pihak-pihak untuk mengkampanyekan tentang pola hidup sehat dan cara beradaptasi dalam situasi seperti ini.  

Diakuinya, diawal-awal virus ini menyebar, sulit medapatkan hand sanitizer dan disinfektan. Ketika itu pihaknya berperan, memberikan penjelasan dan pemahaman ke masyarkat tentang cara lain untuk tetap bisa tidak terjangkit virus ini. Misalnya, dengan zat lain, yang juga bisa membunuh virus Corona itu. Itulah pentingnya komunikasi yang baik, agar bisa kolaborasi dalam penanganan Covid -19 secara komprehensif. 

Menyinggung soal KBM yang saat ini berjalan di rumah atau secara online, Agung yang juga Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) UMRAH itu, mengakui, bahwa cara itu tidak serta merta bisa menggantikan pola KBM dengan bertatap muka.

"KBM seperti biasa di sekolah, tidak bisa tergantikan dengan pola belajar online di masa Covid ini," tegas Agung.

Memang kata dia, terus didorong saat ini penggunaan IT, sebagai salah satu kompetensi dan literasi yang ingin dicapai para peserta didik. Tetapi, dalam pendidikan perlu ada kontak, perlu ada interaksi sosial dan tidak bisa terus menerus seperti ini. 

"Ada nasihat guru ke siswa atau dosen ke mahasiswa. Praktikum di lab, walau sudah ada virtual. Tapi pertemuan langsung itu paling tidak setengahnya harus ada. Sesuai ketentuan, 30% dengan IT dan 70% mesti tatap muka. Namun dalam kondisi ini tentu pilihan kita ya seperti ini, karena bertujuan baik, seperti memutus mata rantai penyebaran virusnya," kata Agung memberi alasan.

Namun demikian, kalau ada kekhawatiran kondisi ini akan menurunkan kompetensi bangsa, khususnya di bidang pendidikan, Agung dengan tegas mengatakan, tidak begitu halnya. 

"Bahwa ini ada stagnasi di satu titik, itu benar. Tapi ini akan jadi pembelajaran buat kita juga. Dan, secara teknis vaksin itu akan bisa didapatkan dalam 6 bulan ke depan. Yakinlah kita. Karena para peneliti mulai bekerja keras untuk mendapatkan itu. Jadi, upaya pencegahan dari virus ini terus dan terus berjalan. Bahwa ada 1 tahun kita belajar tidak maksimal, ya. Tapi, kan itu tidak nol sama sekali. Kuliah online dan belajar online atau transfer pengetahuan, itu tetap beralan. Jadi, tak ada sampai ke sana," ujarnya. 

Bagi dirinya, kata Agung lagi, kondisi ini akan jadi pembelajaran berharga sekali untuk semuanya. Sehingga nanti ketika Covid -19, semua bisa aman. "Kita ndak tahu nanti virus apa lagi. Kan, kita jadi paham dengan instruksi, ketika lockdown ya diikuti. Ketika harus PSBB, kita sudah memahaminya," ucap Agung, sambil mengajak semua tenaga pendidik untuk terus optimis.

Justru, tambah dia, dengan kondisi ini, harus dipastikan soal kompetensi itu. Kuliah, jelas sekarang bisa secara daring atau online, jadi informasi dan diskusi bisa disampaikan. Contoh lain misal skripsi atau tugas akhir, melakukan penelitian, misal di LIPI, tiba-tiba tak bisa penelitian, bahkan tak bisa lagi ke kampungnya. Cara antisipasi, mesti dicari cara untuk tugas akhir yang setara dengan skripsi. 

Agung menyontohkan di di FIKP UMRAH, para mahasiswa semester akhir itu, harus membuat tulisan review yang harus dipublikasi di jurnal nasional terakreditasi. Sehingga mahasiswa tetap punya produktivitas saintifik, bahkan punya nilai lebih dari skripsi, karena terpublikasi di jurnal. "Itu yg bisa kita nilai. Atau bentuk lain, masih memungkinkan menjadi relawan, pun bisa jadi tugas akhir, jika kondisi ini masih berlanjut," jelasnya, memberi contoh.

Lalu Agung berpesan, kepada semua guru atau tenaga pendidik agar terus belajar dan bertanya jangan pernah jemu. Kata dia, itu adalah salah satu bentuk kurikulum 2013. "Dimana pun kita, harus terus belajar. Kita adalah pembelajar sepanjang zaman," kata dia penuh semangat. uli/rpz