Kayu Ilegal di Lukit Diduga Pesanan Oknum Berbaju Loreng


riaupotenza.com
Pengukuran dan pengambilan sampel Kayu oleh aparat kepolisian.

MERANTI (Riaupotenza.com) - Tindakan pembalakan liar (Illegal Logging) di Kepulauan Meranti kembali terungkap. Kali ini Satreskrim Polres Kepulauan Meranti mengamankan dua orang pelaku dan satu unit kapal KM Nusantara V, bermuatan 791 batang kayu diduga hasil perambahan hutan di wilayah perairan Desa Lukit.

Menurut kepolisian setempat, kayu itu semula akan diselundupkan ke Batam Kepulauan Riau menggunakan kapal laut KM Nusantara V. Namun sayang ketika mau bertolak, aktivitas para mafia tercium oleh penegak hukum dan dicegah. 

Padahal beberapa hari sebelum itu, Polres Kepulauan Meranti juga menindak aktivitas yang sama di Sungai Tohor, 3 Februari 2020 kemarin. Barang bukti yang amankan berupa potongan kayu ilegal sebanyak 211 batang. 

Tapi hasil penindakan yang dilakukan di Desa Lukit lebih besar dari itu, 791 potong dengan asumsi berat setara belasan ton. Terhadap kedua aktivitas itu, pihak kepolisian membantah ada keterkaitan pemilik yang sama. 

''Beda kasus. Penindakan yang dilakukan di Sungai Tohor dan Desa Lukit itu beda. Gak ada kaitan,'' kata Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Taufiq Lukman Nurhidayat SIK MH, melalui Kasat Reskrim, AKP Ario Damar SH, Senin (10/2/2020) siang. 

Namun, untuk yang di Sungai Tohor pemiliknya masih didalami. Sementara yang di Desa Lukit dua orang terduga pelaku telah ditahan Jep pria, warga desa setempat sebagai pengurus barang tegahan. 

Setelah itu, Sap pria asal Teluk Uma, Kecamatan Tebing, Karimun, Kepri yang berperan sebagai kapten kapal angkut KM Nusantara V. Namun sayang pemilik dan penampung setibanya barang ini di Batam Kepri, belum diketahui. Dan masih di dalami oleh kepolisian setempat. 

''Pemilik atau orang dibelakang kedua terduga yang kita tahan masih didalami. Sabar ya,'' ujarnya.

Penelusuran media ini di lapangan, otak dari aktivitas illegal logging tersebut mengarah dan diduga kuat dikendalikan oleh oknum aparat. Pasalnya dari pengakuan yang diterima melalui sumber di lapangan, aktivitas itu jalan berdasarkan pesanan dari oknum TNI yang bertugas di Batam, Kepri.  

Kayu Hutan Lukit Diobrak Abrik Oleh Mafia Illog

Hasil penyelidikan, Polres Kepulauan Meranti belum bisa memastikan total dari luas perambahan hutan yang diekspolitasi para mafia Illog tersebut.

Perambahan lokasi berpindah-pindah dan tersebar ratusan titik. Namun titik kordinat terus dihimpun oleh jajarannya di lapangan. ''Tersebar pada ratusan titik. Ada yang berada di hutan produksi terbatas, dan ada juga di hutan hak,'' ujar AKP Ario Damar SH kembali saat didampingi Kanit Tipidter IPDA Rahmad Wahyudi SH.

Keterangan itu juga diperkuat oleh sumber media asal desa setempat. ''Kalau menurut kami, orang itu perambah kerja tidak melihat titik kordinat. Jadi main asal tebang, untuk berapa kali muat. Mungkin seminggu mau dua kali tarik ke Batam. Karena kapal mereka banyak. Setiap trip, hampir seribuan batang kayu olahan yang sama seperti ditahan kepolisian baru-baru ini,'' bebernya.

Lokasi perambahan mereka di wilayah Jeti (dermaga) kecil Desa Lukit. Dan lokasi loading hasil eksploitasi itu juga tidak berjauhan.

Pengepul menurutnya, hanya warga kurang mampu. Mereka menebang, dari lahan kawasan pertanian Desa Lukit, dan jual ke sana (Batam). 

Namun, pemerintah desa atau warga tak berdaya, karena memang dekingan dari aktivitas ada orang "kuat". Dugaan oknum TNI aktif yang punya nama di Batam, Kepri, berinisial Ng. 

Setelah berupaya mencari tau identitas Ng, pada akhirnya 7 Februari 2020 lalu media ini berhasil bertemu dengannya dan melakukan wawancara. Ia mengaku dari Batam dan baru saja sampai ke Selatpanjang, Pusat Kabupaten Kepulauan Meranti. 

Ke Meranti, ia mengaku sedang mengurus keberadaan sekapal kayu yang ditahan oleh jajaran Polres Meranti yang dititip di PT Golden untuk melalui proses penghitungan dan penyesuaian jenis oleh kepolisian dan BPHP wilayah III. 

Namun ia menyangkal jika kayu itu tak berizin sesuai aturan yang telah ditetapkan. 'Jenis kayu mahang. Bukan kayu hutan, dimana salahnya. Tempat perambahan juga legal,'' ujarnya serambi memperlihatkan seluruh dokumen lahan yang mereka garap.

Dia juga mengaku telah merekrut warga desa setempat sebagai pengepul. Inisial orang itu adalah Jep yang saat ini ditetapkan sebagai salah seorang terduga pelaku oleh kepolisian setempat. ''Iya orang itu Jep yang badannya besar. Itu orang kita yang di sana,'' ungkapnya. 

Ketika ditanya apakah ia mengenal dengan beberapa aparat di Kepulauan Meranti. Dia mengaku tidak kenal dengan seluruh aparat penegak hukum terkait. Termasuk Danramil dan Kapolres Kepulauan Meranti. 

''Gak tau aku. Gak kenal aku sama orang itu. Kapolsek Merbau pun gak tau aku, Kapolres juga. Gak ada kenal sama orang sini,'' aku dia. dham