Anggaran JSR 2020 Membengkak Rp670 Miliar


riaupotenza.com
Kondisi pembangunan JSR yang gagal dibangun pada tahun 2014 silam.

MERANTI (Riaupotenza.com) - Masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti mengharapkan kelanjutan pembangunan Jembatan Selat Rengit (JSR) yang menghubungkan batas wilayah antar kabupaten kota, kecamatan dan desa bisa segera teralisasi.

Demikian dikatakan Ketua DPK KNPI Pulau Merbau, Hairun Nizat bahwa Pulau Merbau (Semukut) dan Pulau Tebingtinggi (Alai) merupakan satu-satunya jalur penghubung yang dilalui oleh ratusan orang setiap harinya, baik menuju kota maupun sebaliknya.

Dalam 10 tahun terakhir, masyarakat hanya bisa mengandalkan alat transportasi laut yakni menggunakan perahu tambang (kempang).

Padahal, guna meningkatkan perekonomian masyarakat akses untuk mencapai suatu tujuan harus jelas adanya.

Dilokasi, diceritakan dia, biaya yang dikucurkan untuk menyeberangi sungai berkisar antara 7.000-10.000 sekali menyeberang (harga normal).

Jika digenangi air pasang besar maka masyarakat akan dibebankan dengan biaya tambahan sebesar 5.000-10.000 (biaya untuk melintasi jalan yang putus).

Kendati begitu, masyarakat berterima kasih atas adanya alat transportasi umum tersebut. Tanpa adanya mereka masyarakat tidak akan bisa menuju ibukota ataupun sebaliknya.

Namun apakah hal ini akan terus dirasakan oleh masyarakat dan sampai kapan, tanya Hairun Nizat kembali.

Menurutnya, rata-rata perekonomian masyarakat pulau merbau sangat minim ditambah biaya hidup dan transportasi semakin tinggi tentu sangat berdampak buruk bagi kelangsungan hidup mereka.

"Disini saya mewakili masyarakat Pulau Merbau meminta kepada Pemkab Meranti untuk sesegera mungkin merealisasikan kelanjutan pembangunan JSR," bebernya.

Dikatakannya, jika Alasan APBD tidak mencukupi mengakomodir pembangunan tersebut maka solusi apa yang seharusnya dilakukan.

"Sinergitas Pemkab Meranti , Pemprov Riau dan Pusat kita harapkan harus memberikan dampat positif bagi masyarakat," pungkasnya.

Seperti diketahui, sejak terhenti pada tahun 2014 silam, pembangunan JSR direncanakan berlanjut pada tahun 2016 lalu, namun batal. Kemudian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti merencanakan akan melanjutkan kembali pada tahun 2020 ini.

Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti, Drs H Irwan membeberkan bahwa untuk melanjutkan pembangunan JSR kembali pemerintah daerah sedang melakukan penghitungan ulang karena setelah dilakukan Review Design terjadi peningkatan biaya.

Proyek Jembatan Selat Rengit merupakan megaproyek yang sebelumnya menelan anggaran Rp447 miliar kini membengkak dan akan menelan biaya sebesar Rp.670 miliar.

"Kita sudah menghitung ulang. Nilainya terlalu mahal, kalau mengandalkan APBD kita itu tidak akan kuat, saya sedang mengusahakan agar pembangunan itu di Take over oleh dana APBN atau mungkin provinsi," kata Irwan, beberapa waktu lalu.

Irwan juga menyampaikan kegagalan pembangunan yang rencananya untuk menghubungkan Pulau Tebingtinggi dengan Pulau Merbau itu menjadi pengalaman untuk tidak terulangi. Sehingga, pembangunan kedepannya bisa dilaksanakan dan dituntaskan. Dengan ini, diharapkan program merangkai pulau dan mengentas kemiskinan di Pulau Merbau bisa secepatnya tuntas.

"Jembatan itu harus siap, selain itu bisa dijadikan icon Meranti, juga untuk mengentaskan kemiskinan. Karena kantong kemiskinan paling tinggi di Pulau Merbau," ungkapnya. dham