Terlacak dari Nomor Hpnya, Terpidana Korupsi Tiket Pesawat Garuda Tertangkap di Pekanbaru


riaupotenza.com

PEKANBARU (Riaupotenza.com) -  Berakhir sudah pelarian Tutin Apriyani (47). Terpidana kasus korupsi penjualan tiket pesawat Garuda Indonesia ini berhasil ditangkap tim Intelijen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau dan Bali di rumahnya, Perumahan Puri Indah, Jalan Sudirman, Senin (2/12/2019) sekitar pukul 06.00 WIB.

Wanita ditangkap berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) RI Nomor: 2121/K/Pid.Sus/2016 tanggal 26 Juli 2017. Dalam putusan inkrah itu, Tutin harus menjalani hukuman selama setahun penjara.

Asisten Intelijen Kejati Riau, Raharjo Budi Kisnanto SH MH mengatakan, Tutin Apriyani merupakan mantan karyawan BUMN PT Garuda Indonesia. Dia  sempat dibebaskan demi hukum karena masa penahanannya telah habis. "Setelah itu, bersangkutan pulang ke Pekanbaru," kata Raharjo.

Keberadaan Tutin di Kota Pekanbaru sudah terdeteksi sejak satu bulan yang lalu. "Dari nomor telepon yang bersangkutan, memang aktifnya di rumah tersebut (Perumahan Puri Indah)," kata Raharjo didampingi  jaksa dari Kejati Bali.

Dengan telah dilakukannya penangkapan itu, selanjutnya Tutin dibawa ke Bali untuk menjalani masa hukuman.

Tutin Apriyani terlibat korupsi pengadaan tiket bersama dua rekannya, Suhaimin Nidhom dan Anak Agung Istri Wahyuni, karyawan DPSDK GA PT Garuda Indonesia, Bandara Ngurah Rai, Bali. Korupsi itu, terjadi pada September 2005 hingga Maret 2006.

Perbuatan terpidana berawal, ketika menerima kedatangan 15 orang penumpang Continental Airline rute Guam (Amerika Serikat), Denpasar-Jakarta. Mereka  transit di Denpasar karena Continental Airline tidak punya rute ke Jakarta.

Berdasarkan multilateral Interline Traffic Agreement antara Continental Airline dan Garuda Indonesia, maka penumpang diangkut dengan pesawat Garuda tapi tetap menggunakan tiket Continental.

Dalam perjalanannya, terpidana dan rekannya melakukan exchange, MCO dan refund sebagaimana mestinya. Harusnya tiket yang dikeluarkan mendapat persetujuan dari  kantor yang mengeluarkan tiket Continental tapi itu tidak dilakukan terpidana.

Terpidana mendapatkan uang dari exchange tiket  dan penerbitan MCO balance dari kelompok masing-masing penumpang sebesar Rp 14,3 juta. Uang itu dikumpulkan dan dibagi rata untuk kepentingan pribadi.

Akibat perbuatan itu, Tutin dan kawan-kawan  melanggar Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat(1) huruf b Undang-undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU RI Nomorb20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat(1) ke-1 Jo Pasal 64 KUHP. rpz