Studi Jurnalistik FW KLA Kota Pekanbaru ke Denpasar, Bali (2-selesai)

Karena Peduli, Bali Dapat Jatah Menteri


riaupotenza.com
Ketua FW KLA Kota Pekanbaru Hendri Z (paling kanan) bersama pengurus APSAI se Indonesia berkesempatan foto dengan Menteri PP dan PA RI Bintang Puspayoga (lima dari kanan).

WALI Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya, begitu peduli. Buktinya, ia begitu serius soal Kota Layak Anak (KLA). Semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilibatkan. Alhasil, Bali meraih predikat KLA Utama.

Berkeliling di Bali, Khususnya di dua daerah, yakni Kota Denpasar dan Kabupaten Badung adalah bagian dari agenda utama rangkaian Studi Jurnalistik FW KLA Kota Pekanbaru ke Kota Denpasar, 28-29 November 2019.

Menaiki mini bus/travel sewaan, rombongan FW KLA diajak berkeliling. Dari tempat menginap, di Jalan Suli, Kota Denpasar, paling tidak ada 3 kali trafic light (lampu pengatur lalu lintas) yang kami lewati, hingga sampai tujuan di Kantor Dinas PPPA dan KB Kota Denpasar.

Kesan yang nampak, kota ini benar-benar bersih dari gepeng. Apalagi yang berlabel anak-anak. Jangankan gepeng, para loper koran pun tak terlihat berjualan di lampu merah atau perempatan jalan utama.

Ketika berjalan-jalan sambil jogging di sepanjang pantai Kuta, Kamis pagi (28/11/2019), barulah ada loper.

"Dulu ramai sekali yang jualan koran di Kuta. Ratusan loper di sepanjang pantai. Tapi sekarang sudah bisa dihitung jari," kata seorang loper koran yang sempat berbincang dengan Pekanbaru Pos. Namanya Ismail. Perawakannya sudah bukan anak-anak lagi. Bertemu sambil duduk menunggu pembeli di depan mini market di pantai Kuta.

Begitulah Bali menata kotanya. Selain bersih, tertata, kota di sini juga bebas dari gelandangan dan pengemis, khususnya anak-anak.

Tak heran. Sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia, tentu Bali perlu menjaga marwah dari kesan-kesan kurang baik. Sebab, turis lokal dan manca negara pasti akan senang, jika semua berjalan baik dan tertata rapi. Itu pula salah satu daya tarik Bali.

Tak hanya Dikenal karena Pariwisata

Siapa yang bisa menyangkal, kalau Provinsi Bali sudah terkenal di seantero dunia. Malah sebagian turis manca negara, ada yang lebih familiar dengan nama Bali, ketimbang Indonesia. Itulah Bali, yang terkenal sedunia karena pariwisatanya.

Di setiap kabinet, Presiden pun sangat sering mempercayakan Menteri-nya, khusus pariwisata, kepada putera terbaik dari Provinsi Bali. Nama Bali begitu mendunia, dan kepercayaan orang nomor satu di Indonesia pun, selalu tertuju ke Bali. Pariwisata menjadikan Bali hebat.

Namun begitu, saat ini Bali justru makin dikenal dari sisi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Betapa tidak. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA) saat ini, dipercayakan kepada srikandi dari Provinsi Bali.

Siapa dia?

Dia adalah I Gusti Ayu Bintang Darmawati, atau yang lebih dikenal dengan nama: Ibu Bintang Puspayoga. Ia juga istri dari mantan Wali Kota Denpasar yang juga pernah menjabat Wakil Gubernur Bali AA Ngurah Puspayoga.

Berkebetulan, pas saat Studi Jurnalistik FW KLA ke Kota Denpasar, Menteri Bintang Puspayoga pun berada di Bali. Ia hadir untuk membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) di Hotel Mercure Legian, Kuta, Bali.

Melihat Menteri Bintang Puspayoga, yang terbayang adalah wajah keibuan dan sangat peduli dengan anak-anak. Bahkan, pas saat sambutan di forum Rakernas APSAI, ia sempat terdiam dan suaranya sedikit serak, ketika mengenang nasib anak-anak Indonesia saat ini.

"Saya memang suka terharu kalau bicara soal nasib anak-anak Indonesia hari ini," ujar Menteri Bintang Puspayoga. Makanya, kata dia, semua elemen wajib bertanggung jawab dengan nasib anak-anak Indonesia. Karena masa depan negeri ini tergantung pada anak-anak saat ini.

Bahkan menteri berpesan, kepada semua pihak, terutama dunia usaha, agar serius memperhatikan nasib anak-anak Indonesia. Perlindungan dan pemenuhan hak anak, kata dia, menjadi fokus pemerintah. Agar pada saat 2045 atau 100 tahun Indonesia merdeka, negeri ini betul-betul sudah siap menghadapi berbagai persoalan bangsa.

Kabid Pemenuhan Hak Anak (PHA) Dinas PPPA Kota Pekanbaru H Bukhairo dan Ketua FW KLA Kota Pekanbaru Hendri Z, sempat pula berjabat tangan dengan Menteri Bintang Puspayoga. Begitu pun dengan sejumlah pengurus APSAI se Indonesia, termasuk Sekum APSAI Kota Pekanbaru Khairul Amri dan pengurus Agus Juharto, ikut pula foto bersama Menteri PP dan PA usai pembukaan Rakernas APSAI.

Kata Kunci, Peduli dan Peduli

Seperti dijelaskan Kabid PHA Dinas PPPA dan KB Kota Denpasar Agus Tresna, saat pertemuan dengan FW KLA Kota Pekanbaru, bahwa kunci untuk KLA Utama adalah peduli dan peduli.

Ia bercerita, saat Kota Denpasar mulai serius, menata kota untuk menuju KLA Utama. Pada suatu ketika, ada taman kota, letaknya dekat dengan Dinas PPPA dan KB Kota Denpasar, yang sudah punya CCTV.

"Saat taman sudah ditata bagus. CCTV juga sudah dipasang di taman. Namun ternyata aliran listrik belum nyala. Nah, bentuk peduli kita, saat itu kita laporkan ke Sekdako Denpasar. Begitu laporan masuk, dinas terkait langsung di telepon dan diminta segera menyambung aliran listrik untuk CCTV tersebut. Dalam waktu sekejap, nyala CCTV dan alat pantau elektronik itu berfungsi di taman tersebut," kata Agus Tresna bercerita.

Begitulah histori Kota Denpasar, Provinsi Bali hingga berhasil menyandang predikat KLA Utama. Sementara dua kota lainnya, yakni Kota Surabaya dan Solo, sudah lebih dulu meraih predikat tersebut.

Walau predikat KLA Utama ini bukanlah tujuan akhir, bagi Pekanbaru sebagai salah satu kota yang sudah menyandang predikat KLA Nindya, satu tingkat di bawah KLA Utama, tentu bukan hal yang mustahil untuk sampai ke sana.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh Kota Denpasar sudah pula diketahui secara jelas. Bahkan hebatnya, tersebab peduli pada perlindungan anak dan pemenuhan hak anak, Bali pun saat ini diberikan kepercayaan: salah seorang tokoh terbaiknya menduduki jabatan Menteri PP dan PA Republik Indonesia. Tentu, pastilah hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Selamat berjuang Kota Pekanbaru. rpz