Mantan Petinggi Partai Dimeja Hijaukan, Ini Kasusnya


riaupotenza.com
Mantan Ketua DPC Partai Gerindra Bengkalis Mohd Daniel (40) dimejahijaukan atas perkara utang senilai Rp 3 miliar di Pengadilan Negeri (PN) Kelas II Bengkalis, Kamis (7/11/2019).

BENGKALIS (Riaupotenza.com) - Diduga tak beritikad baik menyelesaikan utangnya, mantan Ketua DPC Partai Gerindra Bengkalis Mohd Daniel (40) dimeja hijaukan. 

Tidak tanggung-tanggung Daniel tidak membayar utang dengan cara menipu, sehingga menyebabkan kerugian pemilik toko material Timur Jaya Bengkalis mencapai Rp2,874 miliar lebih.

Hal ini terungkap dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eriza Susila SH dari Kejari Bengkalis dalam sidang agenda keterangan saksi dan terdakwa yang digelar di Pengadilan Negeri Bengkalis, Kamis (7/12/2019) sore.

Dalam sidang juga terungkap, hutang itu, setelah terdakwa membeli material bangunan untuk mengerjakan kegiatan proyek pembanguan 100 unit rumah di Kepulauan Meranti tahun 2017 silam.

Sidang  digelar di Ruang Kartika dan dipimpin langsung  Ketua Majelis Hakim Annisa Sutawati dan didampingi dua Hakim Anggota, Aulia Fhatma Widhola  dan Mohd Rizky Musmar. 

Sidang itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bengkalis turut menghadirkan Direktur Utama PT Harapan Tri Guna, Hendra Tedi Gunawan, sebagai saksi. Perusahan tersebut digunakan Daniel saat mendapatkn proyek itu.

Hendra, mengakui bahwa perusahaan yang digunakan oleh terdakwa Daniel merupakan miliknya. Namun terdakwa tidak masuk dalam sistem manajemen perusahaan hanya sebatas sebagai status abang ipar.

Keterangan Hendra sempat mengundang geram majelis hakim karena bertele-tele. Bahkan dalam proyek yang dikerjakan terdakwa selesai 100 persen dan pembayaran juga 100 persen, Direktur perusahaan mengaku tak pernah menerima uang hasil proyek tersebut. 

"Saya tidak pernah terima uang dari hasil proyek itu. Uang yang masuk melalui rekening perusahaan kemudian dicairkan melalui cek oleh bendahara perusahaan kepada Medi yang merupakan anggota terdakwa Daniel," ujar Hendra dihadapan majelis hakim.

"Saya baru tahu kalau proyek itu meninggalkan utang kepada toko material, setelah pemilik toko mempertanyakan kepada saya kapan akan melunasi hutang," timpalnya lagi.

Meskipun tidak mengetahui proyek yang dikerjakan, Hendra mengaku, meneken surat perjanjian kontrak, berita acara pembayaran proyek yang mencapai Rp 17 miliar itu. Sementara kegiatan dan uang proyek sepenuhnya di kelola oleh Daniel dan Medi, gitu juga terkait pengambilan bahan material di toko yang terhutang pihaknya tidak mengetahuinya.

Mendengar keterangan Direktur PT Harapan Tri Guna ini terkesan berbelit-belit, majelis hakim meminta langsung dikonfrontir terhadap saksi yang sudah diperiksa sebelumnya Medi. Majelis hakim meminta direktur perusahaan mempunyai itikad baik untuk membayar utang material itu. Karena direktur sebagai pihak yang sangat terkait dan turut bertanggungjawab membayar utang tersebut.

Usai mendengar keterangan saksi dan terdakwa ketua majelis hakim menuntup sidang. Sidang dilanjutkan pekan depan dengan agenda selanjutnya. kar