Demi Bantu Ayahnya Berobat, Siswi SMA Ini Harus


riaupotenza.com
Tim Baznas dan UPZ IMRA RAPP menjenguk orang Lidia di RSUD Selasih Pangkalan Kerinci.

PELALAWAN (Riaupotenza.com) - Namanya Lidia Ultati. Masih berstatus pelajar di salah SMA di Pangkalan Kerinci. Usianya masih belasan tahun.

Namun, karena kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan seiring ayahnya sakit, memaksanya jarang masuk sekolah. Separoh waktu digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga.

Ayah Lydia, Anto sudah sejak lama menderita sakit. Setelah mengalami kecelakaan saat berkerja di perusahaan. Anto yang menderita sakit gula juga ginjal berhenti berkerja. Ia hanya mendapat biaya pengobatan saja kala itu.

Untuk kebutuhan hidup keluarga yang tinggal di Perum BTN Lama Pangkalan Kerinci, menurut Emi, ibu Lydia mereka sempat jualan miso dengan bantuan dana usaha dari Baznas Pelalawan. Namun, karena kesibukan mengurus suaminya sering sakit, usaha yang sebelumnya cukup banyak diminati warga ini kata warga asal Indragrii Hilir perlahan tutup sendiri.

‘’Karena bapaknya sakit, Lidia pulang sekolah harus berkeja setengah hari untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Kadang pun harus izin dari sekolah. Ibunya tak kerja lagi, usahanya yang sempat maju harus tutup karena menjaga suaminya yang sering drop. Abangnya juga kerja serabutan dan sering bergantian mengantar ibunya ke PMI dan ayahnya ke rumah sakit. Ayahnya sepekan dua kali cuci darah,’’ ungkap Dedi Azwandi, salah seorang anggota Sedekah Rombongan (SR), Ahad (20/10/2019).

Bahkan lanjut Dedi, kadang pelajar kelas XI IPS 2 ini juga kadang pingsan, karena belum sarapan dan makan siang. ‘’Beliau terkadang bawa singkong untuk penganti nasi dan kalau ada uang Rp2000 beliau beli roti untuk menganjal perutnya,’’ sambung Dedi lagi.

Dari cerita panjang bersama Emi, ibu Lydia, diketahui suaminya sudah lama sakit. Sudah dibantu Baznas untuk usahanya yang menjual miso. Namun karena banyaknya di RSUD menemani suaminya, maka usahanya tidak berjalan lagi.

‘’Bayangkan saja, setiap dua pekan cuci darah. Biaya memang ditanggung BPJS. Tapi ada obat lain yang harus ditanggung keluarga pasien. Sekali suntik biayanya Rp113.000. Kali kan saja, sebulan 4 kali Rp904.000. Biaya sangat berat bagi keluarga ini,’’ bebernya.

Tiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Begitu pula kepayahan yang dialami keluarga Lydia. ‘’Alhamdulillah untuk adik kita Lydia sudah kita bukakan rekening di BSM. Bagi saudara-saudara yang berlebih rezeki dan ingin membantu Lydia dan keluarga bisa diantar ke rumahnya di Jalan  BTN Lama Pangkalan Kerinci atau dikirim ke rekening BSM 7134417484 atas nama Emi Cq. Lidia Ultati,’’ terang Dedi yang telah membantu keluarga ini membuka rekening, Jumat (18/10/2019).

‘’Alhamdulillah Allah menjawab doa Lidia. Karena bantuan untuk ayahnya sudah mulai berdatangan. Bahkan, Lidia telah dibebaskan biaya sekolah. Semuanya oleh para donator yang tergerak hatinya untuk meringankan beban Lidia dan keluarganya,’’ tutur Dedi sambil menyebutkan dirinya bersama Ustadz Muslimin Albantany mewakili dari Lazis  IMRA RAPP yang dikomandoi Welly Mairiko dan Indra Gunawan dari Baznas Pelalawan  yang dipimpin H  Eddi Amran Lc MA telah mendatangi langsung ke rumah Lidia hingga ke rumah sakit menyaksikan langsung kondisi orang tuanya yang sakit serta kehidupan merekan.

‘’Terimakasih kepada semua yang telah bergerak. SR, SMANSA Pangkalan Kerinci. Dan terima kasih banyak yang tak terhingga untuk UPZ IMRA RAPP yang telah memberikan sedekahnya dengan menanggung biaya berobat ayah Lidia (Rp 10 juta,red) dan sekolah Lidia serta sekolah adik Lidia,’’ ungkap Dedi dengan nada lirih.

Selain itu juga sambung Dedi yang telah beberapa kali menjadi penghubung kebaikan untuk warga dalam keadaan sulit ini, mengucapkan apresiasi kepada banyak yang telah ikut membantu Lidia. ‘’Alhamdulilah untuk satu bulan kedepan Lidia tak lagi makan ubi.  Sudah ada saudara kita Jalalludin mengantar paket makanan untuknya di sekolah. Alhamdulillah semua berlomba dalam kebaikan,’’ paparnya.

‘’Episode  kisah Lidia berakhir sudah. Beasiswa dan biaya berobat alhamdulilah dicover full dari UPZ IMRA RAPPjuga bantuan kini terus mengalir untuk keluarganya. Dalam fase ini tentu bahagia dan ucapan ribuan terima kasih yang keluar dari mulut adik kita Lidia. Yang membuat saya terenyuh sejenak adik kita Lidia ingin berbagi bantuan yang diterimanya buat tetangga yang susah sekitar rumahnya.  Ini adalah hal yang luar biasa dari Lidia yang tetap prihatin terhadap kehidupan orang lain, meski dirinya sendiri terhimpit. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Ayo sisihkan reski kita sedikit untuk mereka yang membutuhkan. Ketahuilah satu piring nasi yang kita makan ada sesendok hak orang lain yang harus kita salurkan agar keberkahan terus mengalir,’’ pungkasnya. amr