Pengabdian Masyarakat LPPM Unri di Desa Bandul Meranti

Berdayakan Masyarakat dengan Sylvofishery Kepiting Bakau


riaupotenza.com
Kegiatan sosialisasi dari Tim LPPM Unri di Desa Bandul, Kabupaten Kepulauan Meranti, yang diikuti oleh para nelayan setempat.

MERANTI (Riaupotenza.com) - Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi,  Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian, Tim Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) Universitas Riau (Unri) berupaya memberdayakan masyarakat pesisir. 

Sasaran pemberdayaan dilaksanakan di Desa Bandul, Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kabupaten Kepulauan Meranti, melalui Sylvofishery Kepiting Bakau (Schylla serrata). Kegiatan sosialisasi dilakukan pada 16-19 Juli lalu, dan pendampingan hingga Oktober mendatang.

Tim pengabdian ini terdiri dari Budijono SPi MSc, Drs Muhammad Hasbi MSi, Andri Hendrizal SPd MSc, beserta para  mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) 2019, Universitas Riau di Desa Bandul.

Seperti diketahui, budidaya sylvofishery kepiting bakau merupakan perpaduan konsep konservasi hutan mangrove dengan ekonomi melalui budidaya komoditas perikanan, dalam hal ini kepiting bakau. 

Konsep sylvofihsery terutama banyak diterapkan di kawasan pertambakan sebagai upaya untuk melestarikan keberadaan hutan mangrove, sehingga dalam aplikasi budidaya sylvofishery menjadi beragam cara.

Salah satunya adalah sistem kurungan tancap yang dapat dan mudah diaplikasikan di sekitar rumah masyarakat pesisir atau daerah mangrove yang masih alami atau terdegradasi.

Dari hasil kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh pertambahan berat kepiting bakau mencapai 170 gram selama satu bulan pemeliharaan, dari berat awal 90 gram dengan tingkat survival rate kepiting bakau mencapai 70%, sehingga prospek penerapannya sangat menjanjikan. 

Budijono SPi MSc, selaku Ketua pengabdian mengatakan, bahwa sistem kurungan tancap ini dinilai lebih ramah lingkungan karena tanpa merusak atau mengubah bentang lahan mangrove seperti halnya budidaya tambak.

Namun budidaya kepiting bakau sistem kurungan tancap mungkin belum tersosialisasi pada sebagaian besar daerah pesisir di Riau, terutama masyarakat pesisir di Kabupaten Kepulauan Meranti.

"Dengan budidaya sylvofishery kepiting bakau sistem kurungan tancap tersebut, kata dia, masyarakat pesisir terutama berprofesi sebagai nelayan dapat melakukan diversifikasi usaha, melalui kegiatan budidaya dan sekaligus turut berpartisipasi dalam melestarikan mangrove," katanya. 

Selain itu juga, tambah Budijono, dapat pula memberikan tambahan ekonomi yang selama ini sangat mengandalkan hasil tangkapan di laut, yang tidak menentu karena pengaruh musim, keterbatasan modernisasi alat tangkap dan armada penangkapan serta biaya operasional penangkapan cenderung terus meningkat. rpz