Hujan Panjang Tiadakan Karhutla 2017-2018


riaupotenza.com
Deklarasi Riau Merdeka Asap di Ballroom Susiana Tabrani Convention Hall, Pekanbaru, Jumat (13/9).

PEKANBARU (RPZ) Ternyata tidak adanya kabut asap 2017-2018 disebabkan curah hujan yang cukup tinggi sepanjang dua itu, bukan hasil upaya pencegahan atau penanggulangan yang dilakukan pemerintah.

 

Fakta ini didedahkan Alfajri S Ip. MIA pada deklarasi Riau Merdeka dari Asap di Ballroom Susiana Tabrani Convention Hall, Pekanbaru, Riau, Jumat (13/9). 

 

"Kita lihat, ketika musim panas begini kebakaran hutan dan lahan terjadi di mana-mana. Diupayakan pun untuk dipadamkan sangat payah, apalagi tidak ditanggulangi sungguh-sungguh," kata pengamat Karhutla Internasional itu seraya  menunjukkan data-datanya.

 

Selain Alfajri tampil dalam deklarasi Riau Merdeka Asap kemarin, antaranya praktisi pendidikan Dr dr Susiana Tabrani M Pd, Ketua Gerakan Riau Merdeka Asap dr Febriandri Utomo M Biomed, dokter spesialis oksigen Dr dr Syamsul Bahri Sp OG, dokter apesialis anak dr Ari Diansyah Sp A, M Biomed. 

 

Mereka membahas dampak asap Karhutla dari berbagai sisi. Mulai soal ampak pada kesehatan anak dan pendidikan, pada kerugian negara dan dunia usaha sampai soal kebohongan politik pada publik.

 

Alfajri yang sering mengikuti seminar lingkungan hidup dan Karhutla, presiden ketika debat Capres 2014 berjanji akan menyelesaikan soal Karhutla ini dalam tempo tiga tahun, tetapi masuk tahun keempat malah asap tidak berhenti juga.

 

"Janjinya belum lama ini akan mencopot aparat di daerah yang betanggung jawab soal Karhutla pun hilang begitu saja. Mana tindakan janji-anjinya itu?" tanya Alfajri seraya disambut suara mahasiswa dengan riuh.

 

Orang-orang Jakarta, menurut Alfajri, seakan tidak tahu-menahu soal asal yang dihadapi orang Riau. "Hubungan emosional kita seakan jauh sekali dengan Jakarta. Terasa kita lebih dekat dengan Malaysia atau Singapura. Sama-sama jadi korban kabut asap. Kalau dapat dikirim kita kirim kabut asap ini ke Jakarta," ujannya.

 

Susiana Tabrani menyebutkan, kabut asap sangat berdampak buruk pada dunia pendidikan. Anak-anak yang terpapar kabut asap ini berakibat daya tangkap otak anak menurun dan konsentrasi rendah. 

 

Akibat nyatanya, menurut putri Tabrani Rab ini, akan terlihat beberapa tahun ke depan ketika anak-anak kecil itu kemudian ketika benar-benar sedang menekuni pendidikan dasar, menengah atau atas. "Jangan heran bila mereka payah menyerap pelajaran eksak seperti matematika. Ini penzaliman lain terhadap Riau,," ujarnya. 

 

Acara deklarasi Riau Merdeka Asap ini dihadiri ramai mahasiswa berbagai sekolah tinggi dan universitas di bawah naungan Yayasan Abdurrab, yang didirikan tokoh Riau Merdeka Tabrani Rab itu. Selain itu tampak juga banyak hadir aktivis kampus, lingkungan dan sosial, seniman budayawan, tokoh jurnalistik dan lainnya, seperti dosen hukum tata negara Husnu Abadi, Mosthamir Thalib, Aris Abeba, Dheny Kurnia dan sejumlah lainnya. (Rpz)