Kegiatan LPPM Unri Ajarkan Budidaya Ikan dengan Teknologi Bioflok


riaupotenza.com
Tim LPPM Unri dan para mahasiswa KKN foto bersama usai pelatihan.

BENGKALIS (Riaupotenza.com) - Warga Desa Buruk Bakul, Kecamatan Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis beruntung mendapat program dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Riau. Di desa pantai ini diadakan pelatihan pengembangan mata pencaharian alternatif masyarakat.

Tim LPPM Unri ini diketuai oleh Ir Rusliadi MSi. Turut bersama tim, antara lain, Muhammad Fauzi SPi MSi, Iskandar Putra SPi MSi, Ir Alit Hindri Yani MSc, dan Heri Masjudi SPi MSi. Kegiatan yang mengikutsertakan 20 nelayan, dan melibatkan 9 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unri ini, dilaksanakan pada 5 Agustus lalu.

Menurut keterangan Rusliadi, salah satu ciri khas desa pantai yaitu adanya masyarakat yang kehidupannya sangat tergantung dari hasil laut/pantai. Walaupun jumlahnya tidak banyak karena dari waktu ke waktu telah terdesak oleh berbagi persoalan. "Dari hasil wawancara dengan sejumlah nelayan diketahui bahwa saat ini kehidupan nelayan semakin sulit," kata dia.

Hal ini diakibatkan semakin menurunnya hasil tangkapan ikan dari tahun ketahun. Beberapa kendala yang dihadapi dalam menangkap ikan, lanjut Rusliadi, di antaranya, 1). Kondisi armada dan alat tangkap yang tidak layak; 2). Daerah penangkapan ikan sudah semakin jauh, 3). Tidak seimbangnya hasil tangkapan dengan besarnya biaya operasional.

Dengan terbatasnya kemungkinan pengembangan perikanan tangkap di desa ini,  kata Rusliadi lagi, maka nelayan perlu diberi mata pencaharian alternatif/tambahan yaitu budidaya ikan.

Ia menambahkan, salah satu karakteristik desa pantai adalah ketersediaan air tawar yang sangat terbatas, sehingga menjadi  kendala dalam usaha pengembangan budidaya air tawar. Berdasarkan hal tersebut untuk mengembangkan budidaya air tawar di desa pantai dicoba untuk melakukan inovasi ilmu pengetahuan melalui kegiatan pelatihan  terhadap masyarakat dengan teknologi bioflok.

Teknologi bioflok menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah dalam usaha budidaya, yaitu lahan yang sempit, air yang terbatas, harga pakan yang mahal dan  limbah budidaya. Dalam teknologi bioflok lahan yang digunakan hanya mempunyai luas beberapa meter (pekarangan), tidak ada penggantian air. Limbah yang dihasilkan  menguntungkan karena selain dapat menurunkan limbah nitrogen anorganik, juga dapat menyediakan pakan tambahan berprotein untuk kultivan sehingga dapat menaikkan pertumbuhan dan efisiensi pakan.

"Teknologi bioflok dapat dilakukan dengan menambahkan karbohidrat organik kedalam media pemeliharaan untuk merangsang pertumbuhan bakteri heterotrof dan meningkatkan rasio C/N," jelas Rusliadi.

Beberapa tujuan kegiatan ini, tambah Rusliadi adalah, 1) Memberikan pengetahuan praktis kepada nelayan tentang teknik budidaya ikan lele dengan menggunakan sistim bioflok. 2) Dengan dikuasai dan diterapkannya pengetahuan tentang teknik budidaya ikan lele dengan menggunakan sistim bioflok, maka diharapkan para nelayan  mempunyai mata pencaharian sambilan untuk  meningkatkan pendapatan  mereka.

Cuma, dijelaskan tim ini juga, bahwa permasalahan yang dihadapi nelayan dalam mengembangkan budidaya ikan dengan teknologi bioflok, yaitu belum tahu dan pahamnya para nelayan, bagaimana budidaya ikan dengan teknolgi bioflok.

Untuk itu, perlu dilakukan kegiatan pelatihan  tentang teknologi bioflok kepada masyarakat nelayan di desa ini, sehingga mereka mempunyai mata pencaharian alternatif, selain sebagai nelayan.

Lebih lanjut disebutkan Rusliadi, saat pelatihan ini menggunakan metode ceramah, yaitu penyampaian teori tentang teknologi bioflok dan praktik langsung pembuatan wadah dan pemeliharaan ikan.  Selama penyampaian materi dan praktik, peserta pun diberi kesempatan tanya jawab (diskusi).

Adapun untuk menilai ketercapaian tujuan kegiatan, kata Rusliadi, dilakukan evaluasi. Jenis evaluasi yang dilakukan, 1) Evaluasi Proses, dan 2) Evaluasi Peningkatan. Sedangkan pengetahuan, dari hasil evaluasi ketahui bahwa, apresiasi dari peserta pelatihan terlihat antusias terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Ini terlihat dengan banyaknya peserta yang menyampaikan pertanyaan berkaitan dengan materi yang disampaikan serta keingintahuan mereka tentang budidaya ikan lele dengan teknik bioflok.

Selanjutnya, setelah dilakukan penyampaian materi dan praktek pemeliharaan ikan lele dengan teknologi bioflok, peserta mulai mengerti dan paham bahwa budidaya ikan lele dapat dikembangkan di desa mereka.

Dari hasil evaluasi juga diketahui telah terjadi penambahan pengetahuan peserta tentang budidaya ikan lele dengan teknologi bioflok antara 65-85%. rpz