Siang Malam Kerja, Truk Proyek tak Kelihatan


riaupotenza.com
Oleh: Khairul Amri GM Pekanbaru Pos Group

SUATU Kesempatan saya diajak rekan keliling Kuala Lumpur. Walau yang dilihat itu ke itu juga, tapi negeri jiran yang sekarang dipimpin kembali oleh Perdana Menteri Mahathir Muhammad ini, terus bersolek. Siang malam. Pagi petang. Hari-hari seperti tak berhenti dengan pembangunan. Di mana-mana sudut Kuala Lumpur nampak sekali pesat pembangunannya. Kata saya dalam hati: bisa jadi ini salah satu cara pemerintahannya untuk terus menyajikan sesuatu yang baru kepada pelancong/wisatawan.

Macam-macam proyek yang sedang dibangun. Mohammad Faizul, salah seorang supir ojek online (ojol) yang saya naiki bercerita, bahwa proyek yang lagi jalan di tengah-tengah Kuala Lumpur adalah pembangunan tambahan jalur MRT (mass rapid transport). Bukan saja di permukaan tanah (upper ground), bahkan banyak pula yang dibangun di bawah tanah (under ground). Begitu pun dengan jalan bawah tanah atau underpass. Sama juga pembangunan gedung-gedung yang tinggi menjulang. Dari atas MRT dan monorel, bisa kita lihat betapa hebat dan luar biasanya kerja-kerja pembangunan di Malaysia.

Saya yang diajak berkeliling terus terang dibuat terkagum-kagum. Lalu saya ingat pula kondisi di Indonesia hari ini. Di negeri saya sedang banyak orang yang suka cerita soalbsusah dan sulitnya hidup. Eh, kenapa di Kuala Lumpur sini seperti tak ada masalah dengan ekonomi? Roda pembangunan mereka nampak terus berputar dan menggeliat begitu pesat. Siang malam terus saja pekerjaan proyek berjalan. Nyaris tak ada henti. Dinamis sekali kehidupan mereka. Pergerakan dan perputaran uang, juga manusia begitu terasa. Kata saya: mudah-mudahanlah bisa nular baiknya ke negara saya, Republik Indonesia. Amin.

Cerita lain dari sini, yaitu soal rapi dan bersihnya proses berjalannya proyek-proyek tersebut. Walau mereka membangun jalan layang atau underpass sekalipun. Begitu juga dengan pembangunan rel MRT, akan tetapi boleh dibilang tak ada yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan lainnya. Jangankan sampai menutup ruas jalan, pengalihan arus kendaraan pun tak kelihatan. Pembangunan berjalan, tetapi arus lalu lintas tetap seperti biasa. Banyak juga pembatas jalan yang dipasang di jalan raya, namun itu tidak menggangu. Ada juga arah lalu lintas yang dialihkan, tetapi sama sekali tidak memacetkan jalan raya.

Begitu pula dengan ceceran tanah di jalan raya. Selama saya dan rekan ini berkeliling Kuala Lumpur, nyaris tak nampak ada ceceran tanah. Tanya punya tanya, ternyata di sini aturannya sangat tegas dan ketat. Jika ada saja kontraktor yang kerjanya tak bersih, semisal ceceran tanah berserakan ke jalan raya, alamat pihak kontraktor ini akan didenda. Bahkan bisa sampai pemutusan hubungan kontrak kerja. Jadi, mengerjakan proyek di negeri jiran ini haruslah sudah lulus berbagai ujian. Salah satunya terkait kebersihan lingkungan kontrak atau proyek yang sedang dikerjakan. Sampai-sampai saya bertanya ke rekan ini: kemana truk besar-besar di proyek ini? Kok tak ada yang kelihatan lewat jalan raya? Kerja seperti tak ada hentinya, tapi truk pengangkut material nyaris tak kelihatan melewati jalan raya. Ternyata, truk ini jadwalnya sudah teratur dan tidak boleh ada sedikitpun ceceran material yang mengotori jalan yang dilewati.

Aneh bin ajaib saja bagi saya. Jika pagi-pagi kita jalan kaki, sambil olahraga pagi. Di sekitar area proyek kita akan berjumpa banyak sekali pekerja berlalu lalang. Pagi-pagi di sini, nyaris tidak ada satupun orang yang santai-santai. Jalan mereka cepat-cepat. Berhenti di tempat sarapan pun cukup dibungkus. Makanan dan minuman yang dipesan segera dibawa ke lokasi proyek. Tak ada waktu buat berleha-leha, apalagi sampai berlama-lama duduk, jika itu bukan pada jam istirahat. Nah, material pembangunan proyek tidak nampak. Sementara pekerja ramai yang berlalu lalang. Tak lama berselang, proyek yang dibangun pun sudah tinggi menjulang. Seperti disulap saja, hehehe.

Itulah bedanya proyek di sana dengan di tempat kita. Cobalah perhatikan betul-betul, kondisi dan realitanya sangat berbeda jauh. Perbedaan menyolok dapat dilihat secara kasat mata: kalau di negeri jiran sana banyak proyek kelihatan, tapi material proyek dan ceceran tanah nyaris tak nampak. Beda di sini, justru sebaliknya: proyek nyaris tak nampak berjalan, eh material dan ceceran tanah terlihat dimana-mana. Padahal, jalan yang dikotori tanah ini umumnya jalan protokol. Membuat pengguna jalan tak nyaman. Tapi tetap saja terulang dan seperti tak ditegur oleh pihak berwenang.

Akibatnya, kondisi tak elok seperti ini terus berulang terjadi. Malahan media sudah gencar memberitakan. Tak ketinggalan pula petugas kebersihan rutin membersihkan jalan, tapi tetap saja perilaku seperti itu terulang dan berulang terus menerus.

Siapa yang mau disalahkan? Nah, kalau berkaca ke negeri jiran, untuk kasus ini tak perlu ada yang disalahkan dan menyalahkan. Cukup satu kuncinya: tegakkan aturan dan beri sanksi tegas bagi yang melanggar aturan. Bila perlu, setelah diingatkan tiga kali, tetap juga tak berubah, maka jatuhkan sanksi pencabutan izin usaha. Kontraktor seperti ini semestinya belum layak dapat kontrak pekerjaan, terutama proyek-proyek pemerintah atau proyek di area publik. Jika tetap juga diberi kelonggaran, ya itu tadi, cuma bikin semrawut dan kotor jalan umum. Hasil kerja pun biasanya tak akan maksimal.

Capek berkeliling, berjalan kaki dan naik kendaraan umum dengan rekan ini, di seputaran Kuala Lumpur. Kami pun duduk istirahat sambil minum jus dan kopi. Mata saya lihat kanan dan kiri, depan dan belakang. Dan, pas di depan kami ada spanduk bertuliskan 'JOm Jumpa Akan Datang'. Kalimat ini sepintas biasa. Tapi bagi saya ini adalah ajakan bagi siapa saja yang sudah pernah datang ke sini, agar lain waktu datang lagi ke Kuala Lumpur. Mereka bisa begitu. Semestinya kita juga harus bisa. Yakinkan diri dan tetap semangat. Jangan lupa hepi. **