Garap Lahan Tidur untuk Budidaya Singkong

Selama Ini Impor, Rebut Peluang Pasar Gaplek Dalam Negeri


riaupotenza.com
H Hasan Basri, Ketum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Provinsi Riau bertemu Direktur PT Indofood Sukses Makmur (Tbk), Fransiscus Welirang di sela acara Kadin di Jakarta, belum lama ini.

DURI (RPZ) - Sebagai negeri yang memiliki banyak lahan tidur, Kabupaten Bengkalis khususnya dan Riau pada umumnya berpotensi untuk budidaya singkong. Singkong selain diolah dijadikan tepung Tapioka, singkong yang dikeringkan (gaplek) ternyata juga mempunyai peluang pasar yang besar di dalam negeri. 

Hal itu disampaikan Drs H Hasan Basri MSi, Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Provinsi Riau kepada riaupotenza.com, kemarin. "Nah, sebenarnya singkong ini bukan hanya untuk industri pabrik kertas saja. Tapi ternyata juga menjadi kebutuhan PT Indofood Sukses Makmur (Tbk). Kenapa, karena selama ini ternyata mereka setiap tahunnya mengimport singkong yang dikeringkan (gaplek) dari Vietnam. Dalam jumlah mencapai antara 700.000 sampai 1.000.000 ton pertahun," ungkap  mantan ASN itu.

Kenapa dari Vietnam, sambung H Hasan Basri. Karena selama ini mereka mendapat jaminan keseriusan dari Pemerintah disana. Yakni berupa jaminan kualitas, jaminan kuantitas dan juga jaminan kontinuitas. "Sehingga ini membuka lapangan pekerjaan yang luar biasa disana," kata mantan Camat Mandau yang telah menyatakan diri untuk maju menuju Bengkalis 1 pada pertarungan Pilkada Serentak Kabupaten Bengkalis 2020 mendatang. 

Alumni SMPN 1 Bengkalis ini bahkan menyatakan sudah melakukan pendekatan saat bertemu dan berbincang-bincang dengan Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur (Tbk), Bapak Fransiscus Welirang di sela acara KadIn di Jakarta 2018 lalu. 

"Pak Frengky (Fransiscus Welirang, Red) mengatakan mereka siap sepanjang Riau ini memang secara masif betul-betul membuka lahan singkong ini untuk kebutuhan mereka. Tapi memang harus didukung Pemerintah Daerah, kemudian juga dukungan dari kelompok tani, Dinas Pertanian provinsi maupun kabupaten, terus BUMD dan Perbankan untuk membuka lahan yang luas ini. Sehingga mereka yang selama ini import gaplek dari Vietnam mereka bisa mengurangi itu. Kalau 50 persen saja kita ambil pangsa pasarnya, berarti kan sudah 500 ribu ton. Kita tanam 30 ribu hektar saja singkong dikawasan Riau ini, itu baru 50 persen kebutuhan Indofood," jelasnya. 

"Ini kan peluang semua. Karena yang akan mengerjakan pengupasan singkong itu adalah home industry. Bisa dikupas di rumah-rumah, itu dampak ekonominya. Karena apa? Karena satu orang tenaga kerja mengupas singkong itu kekuatannya sekitar 300 kilogram perhari," jelasnya lebih detil.

Kemudian untuk mesin pengering singkongnya, itu biayanya pun tidak mahal. "Saya sudah sonding ke BPPT Jakarta itu untuk mesin pengering singkong yang modern investasinya Rp 5 Milyar. Mesin ini bisa mengeringkan singkong 300 ton perhari. Apalagi mesin ini memakai energi elektromagnetik, sehingga singkong bisa kering cepat dan berkualitas tinggi. Tidak menggunakan sinar matahari. Tapi dengan teknologi ini bisa dikeringkan dengan cepat," jelasnya lebih lanjut. 

Karena menjadi indusri rumahan, mereka cukup mengupas saja. Nanti setelah dikupas baru dijemput dan dibawa ketempat masin pengeringan tadi. "Nah, disinilah peran Pemerintah Daerah. Jadi, bentuklah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) oleh Pemerintah Daerah bersama DPRD. Juga membentuk suatu BUMD khusus pengolahan lahan pertanian masyarakat ini, sampai memikirkan juga bagaimana hasil pemasaran pengolahan ini. Sehingga masyarakat yang punya lahan itu tidak pusing-pusing mencari modal, tapi diinvesatasi oleh BUMD. Nanti setelah panen baru bayar, dan BUMD pun mendapat hasil yang cukup dia," ulasnya. 

Tak hanya itu, buat juga peraturan daerah (Perda) nya, sepanjang itu dibolehkan secara ketentuan. Sehingga ini akan membuka lapangan pekerjaan luar biasa, pungkasnya.   maz