Hujan, Kita Sedih, Panas, Kita Risih


riaupotenza.com
Oleh: Khairul Amri GM Pekanbaru Pos Group

TULISAN Kolom ini, kembali seputar Pekanbaru. Kota dengan visi Madani, Smart City Madani ini, terus berkembang dan menggeliat. Sekarang, semangat yang lagi disemangati, bukan lagi Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau. Jauh lebih hebat lagi: Pekanbaru, the capital city of Sumatera. Wow.

Kenapa Pekanbaru? Ya, iyalah... Sebab, kemarin Ahad, 23 Juni kota ini berulang tahun ke 235. Hebat kan. Pekanbaru, bukan status kota-nya loh ini, sudah berusia hampir 2,5 abad. Fantastis sekali. Nanti di kolom lain saya coba pula tulis sejarah Pekanbaru. Kali ini kita bukan bicara sejarah Pekanbaru, melainkan tentang Kota Pekanbaru kekinian. Mirip-mirip bahasa millenial gitu, ya. Hehehe.

Sebelum jauh menulis, saya mau ucapkan Selamat berulang tahun deh, buat Pekanbaru. Semoga makin jaya dan maju. Semoga terwujud visi yang sudah dicanangkan oleh Pemko. Semoga pula semua usaha dan upaya mewujudkan visi itu, didukung penuh oleh seluruh warga masyarakatnya. Amin ...

Subuh, Selasa 18 Juni 2019

Pada hari ini, terjadi malapetaka. Hanya berselang 5 hari jelang HUT ke 235 Kota Pekanbaru. Kejadiannya di Jalan Lobak, Kelurahan Delima, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru.

Beberpa menit menjelang azan Subuh. Sepasang suami istri. Pengantin baru, warga Jalan Suka Karya, hendak ke Bandara melewati Jalan Lobak. Suasana dingin, karena masih hujan. Listrik padam, suasana makin gelap. Ketika itu pula nahas menimpa mereka.

Sang istri, Yeni Rezki turun dari motor karena ada genangan banjir di penurunan Jalan Lobak. Sang suami, Anto membawa motor. Malang tak bisa ditolak, ketika berjalan di tepi parit, Yeni terpeleset. Tak ada pegangan. Sudah coba dikejar oleh suaminya. Tapi, kenyataan berkata lain. Yeni hanyut dibawa arus parit yang begitu deras subuh itu. Dalam gelap, tak ada pertolongan dari warga. Perempuan malang itu pun hilang ditelan air dan gelapnya suasana subuh.

Ketahuannya sudah pagi. Warga melapor, termasuk sang suami. Aparat melakukan pencarian, dan Yeni ditemukan hanyut sekitar 2 kilometer dari tempat dia terpeleset, persisnya di Jalan Swadaya, masih kelurahan dan kecamatan yang sama. Dua kilo itu bukan jarak yang dekat. Tapi, ya begitulah dahsyatnya arus air di dalam parit yang menghanyutkan (almh) Yeni Rezki. Semua mendokan Yeni husnul khotimah dan masuk surga.

Ya, begitulah kita di kota ini sekarang. Kalau lagi musim hujan, jengkel bahkan tak jarang membawa kesedihan mendalam. Seperti kejadian yang dialami keluarga Anto dan isterinya, Yeni tadi. Walau setelah itu pemerintah berupaya untuk melakukan perbaikan, ya tetap saja kesedihan berulang. Ya, begitu-begitu lagi. Hujan. Banjir dimana-mana. Lalu timbul kesedihan.  

Nah, cerita saat musim hujan ini hampir pula sama ketika musim panas (kemarau) tiba. Dua musim ini selalu saja memunculkan catatan kurang baik untuk kota ini. Bedanya, kalau musim panas, hampir seluruh Riau yang merasakan efeknya. Sedangkan musim hujan, biasanya daerah-daerah tertentu yang terimbas.

Kenapa pula dengan musim panas? Semua kita dibuat risau dan risih. Karena pada musim ini selalu bencana asap. Lebih  hebat agi, ini sudah menjadi masalah Indonesia bahkan dunia. Bahkan ada pameo: Riau ekspor asap ke provinsi terdekat dan negara tetangga. Wah... ini, kan citra yang tak elok buat Riau. Masalah asap tak hanya membuat kita risih, tapi juga bikin sedih.

Ya, inilah masalah kita sekarang. Hujan membuat kita jadi sedih. Ketika musim panas kita jadi risih.

Untunglah ada sitawar sidingin dari pemangku pemerintahan. Wali Kota pekanbaru Dr H Firdaus MT, langsung menyampaikan ucapan berduka kepada keluarga Anto dan Yeni. Bahkan pihak PUPR, dinas terkait bergerak cepat. Berupaya untuk mencari akar masalah di parit sekitar Jalan Lobak dan Jalan Swadaya itu. Mudah-mudahan setelah ditangani serius, saat hujan lebat datang, kita tak akan diliput kesedihan lagi.

Begitu juga dari Gubernur Riau Drs H Syamsuar MSi. Secara tegas beliau menyanggupi untuk membantu penyelesaian masalah banjir di Pekanbaru. Hebat Pak Gubri. Karena bagaimana pun Pekanbaru adalah ibukota provinsi. Tentu akan cepat selesai masalah ini, jika provinsi turun bersama membantu. Untuk upaya ini, mari kita dukung. Kita doakan pemerintah bisa berpadu menuntaskan masalah yang ada.

Jangan lagi muncul kekesalan masyarakat. Kalau selama ini masyarakat sedih kalau hujan, dan risih kalau panas tiba. Ke depan, hujan dan panas ini mesti jadi berkah untuk daerah kita ini. Tak ada lagi sedih dan risih. Yang ada hanya rasa bangga. Kita bisa senang dan tersenyum, sebab tak lagi bermasalah saat musim hujan maupun musim panas.

Apa mungkin bisa, ya? Pasti bisa. Asalkan semua mau dan semua tahu. Jangan lagi tak mau tahu. Begitu saja, kan tidak sulit. **