Mudik, Mudik, Mudik...Ingat Jalan Balik


riaupotenza.com
Oleh: Khairul Amri GM Pekanbaru Pos Group

LIBUR Idul Fitri usai. Minal aidin wal faizin, maaf lahir dan batin. Pasca libur lebaran, kolom ini hadir lagi, setiap Senin. Bacaan ringan, menemani sarapan dan waktu ngopi pembaca semua. Mari kita mulai.

Pondok kami, 25 Mei

Sehari sebelum 25 Mei, seisi rumah sudah heboh. Masing-masing sibuk packing barang. Satu orang nge-pack 1 tas besar, plus tas kecil sandang/ransel. Bolak-balik, masuk keluar kamar. Naik turun lantai bawah dan lantai atas rumah. Ada pula yang sibuk gosok baju. Siap-siap kemana? Mau kemana lagi, ya mudik hari raya.

Subuh 25 Mei, semua sudah bangun. Tak biasa, jam segitu semua sudah pada siap-siap dan rapi. Pagi ini, rombongan pertama: anak dan ponakan akan berangkat mudik. Tujuannya Moro, Kabupaten Karimun Kepulauan Riau. Jalur yang dilalui, Pekanbaru, pelabuhan Buton Siak, Tanjung Balai Karimun dan lanjut ke Moro. Perjalanan ini sekitar 10 jam. Kalau nginap di Tanjung Balai, bisa lebih lama.

Lama juga menunggu. Akhirnya mobil travel yang ditunggu pun tiba. Semua barang dan orang naik ke mobil, menuju pelabuhan Tanjung Buton di Siak Sri Indrapura. Isi rumah berkurang, tinggal berdua (saya dan istri). Menunggu giiran juga buat mudik, hehehe.

Cerita di pondok kami, 2 Juni

Semua barang sudah siap di kemas. Kalau soal begini, istri memanglah kemat. Saya ingatkan: jangan bawa barang banyak. Nanti wajib bayar bagasi di pesawat.

Tak lama bersiap-siap, jemputan ke bandara pun tiba. Kami tancap ke bandara sekitar pukul 09.15 wib. Dan, naik pesawat sekitar pukul 11.50 wib.

Cerita tiket pesawat, inilah ironi. Sejak pemberlakuan aturan oleh maskapai, aturan yang mengikat penumpang. Setiap orang yang akan naik pesawat hanya boleh membawa 1 tas bawaan. Itu, pun beratnya tak boleh lebih dari aturan mereka. Sudahlah tiket mereka berlakukan harga batas atas. Eh, bagasi pun mereka batasi. Kalau tidak mikir bakal susah gonta ganti kapal, angkat barang bawaan, tak kan kami tempuh jalur udara ni. Tapi mau macam mana lagi. Pesawat bukan punya kita. Jadinya, mau tak mau kita ikut selera mereka. Tiket mahal. Bagasi dibatasi. Tetap saja akhirnya naik pesawat.

Rute mudik saya bersama istri tahun ini: Pekanbaru ke Batam, nginap 1 malam di Batam, barulah pagi besoknya nyeberang ke Moro, Karimun. Capeknya memang agak kurang. Tapi, fulus alias duitnya mesti siap-siap lebih. Hmmm.. Mau pilih mana? Kami tak punya pilihan. Pilihan cuma satu, sampai ke kampung.

Tak jadi mudik ramai-ramai lewat rute Pekanbaru-Tembilahan? Tahun ini belum nampaknya. Sebab rombongan pertama sudah berangkat ramai-ramai. Tinggal kami, saya dan istri, akhirnya mengalah juga: naik pesawat juga ujung-ujungnya. Lain waktu, rute baru ke Tembilahan tujuan Moro, Kepri pantas juga dicoba.

Ingat Jalan Balik

Tunggu apa lagi? Senin, 10 Juni 2019 sudah kembali beraktivitas. Kantor sudah mulai buka, dan pegawai negeri juga swasta pun sudah ngantor. Tak ada alasan untuk malas-malasan. Saatnya kembali memulai dan menyelesaikan target-target yang belum tercapai.

Kunci mudik itu, ya ingat jalan balik, hehehe. Kalau sudah mudik, ada banyak sekali cerita. Begitu juga saat arus balik, tak kalah heboh dan meriah. Saat akan mudik kita semua begitu semangat. Mestinya saat balik pun begitu, agar nanti pas masuk kerja kita makin semangat.

Jalur balik saya dan keluarga tahun ini, juga sama dengan jalur mudik kemarin. Tiket pesawat tetap mahal, tak turun-turun. Mau bagaimana lagi. Rute Moro ke Batam dan lanjut ke Pekanbaru tetap masih yang harus dijalani. Entah sampai kapan harga tiket pesawat akan turun. Sudah ada berita: tahun ini 1,9 juta jumlah pemudik berkurang dari tahun lalu, akibat ini. Tapi tetap saja harga tiket burung besi itu melambung tinggi, setinggi terbangnya.

Sabtu, 8 Juni saya dan keluarga sudah di Batam. Menyempatkan pula buat berhari raya di rumah sanak keluarga. Berkeliling kota Batam yang makin hari makin menawan. Menikmati suasana indahnya malam di Batam, untuk selanjutnya bersiap-siap ke Pekanbaru.

Siang ini, Senin 10 Juni menapak kaki lagi di kota Pekanbaru, smart city madani. Panjang juga cerita saya mudik dan balik lagi. Hehehe. Saya yakin, pembaca semua pasti juga punya cerita. Mari berdoa: kita semua sehat dan diberi umur panjang. Bertemu Ramadan dan Idul Fitri tahun depan. Berbagi cerita mudik dan balik lagi kita. **