'Menjual' Olahraga, Cash Money atau Value in Kind?


riaupotenza.com
Anis Murzil ST Ketua Umum KONI Pekanbaru

PEMBINAAN Olahraga prestasi, tak hanya sekedar mengejar mimpi meraih medali. Dan tidak pula sekedar melepas tanggungjawab memberikan bonus prestasi. Namun tujuan olahraga nasional adalah membangun manusia seutuhnya, mampu berkarya di dalam pembangunan nasional dan berprestasi di bidang olahraga serta ikut berpartisipasi secara aktif di dalam usaha perdamaian dunia.

Kondisi mutakhir, hampir seluruh organisasi Olahraga di tingkat daerah bahkan nasional saat ini mengeluh dengan kondisi keuangan. Bahkan di beberapa daerah tidak bisa menjalankan kegiatan rutin keolahragaan dibawah naungan KONI karena tidak mendapatkan dukungan anggaran yang cukup dari Hibah Pemerintah Daerah. 

Pada dasarnya, sesuai dengan Undang - Undang Sistem Keolahragaan Nasional, bahwa pendanaan keolahragaan menjadi tanggungjawab pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Bahkan pemerintah wajib mengalokasi anggaran pembinaan Olahraga dari APBD/APBN. Namun tetap menyesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah, karena dana untuk keolahragaan disalurkan melalui KONI dalam bentuk hibah daerah. 

Ditengah kondisi keuangan daerah yang kurang baik saat ini, KONI sebagai komite olahraga yang dibentuk berdasarkan undang undang ini tentu harus mengambil langkah - langkah strategis agar kegiatan keolahragaan terus berlangsung. Namun tetap tak terlepas dari peran utama pemerintah, karena Komite Olahraga hanya bersifat membantu pemerintah dalam menjalankan fungsinya pengelolaan, pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi. 

Komite Olahraga yang diatur dengan AD/ART memiliki kewenangan untuk berinovasi dalam menggalang sumber daya untuk pembinaan olahraga prestasi. Bahkan salah satu kriteria ketua umum KONI tegas dibunyikan harus mampu menjalin kerjasama dengan badan badan usaha dan instansi terkait guna menunjang pembinaan olahraga prestasi. 

Barangkali inilah era nya KONI membuka diri seluas - luasnya kepada seluruh badan usaha baik tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. Dalam artian KONI harus menyambungkan komunikasi dengan badan usaha tentang apa yang menjadi beban dan tanggungjawab KONI sebagai pembantu pemerintah. Menyingkap tabir yang menghalangi pandangan badan usaha ke seluruh batang tubuh KONI.

Tentunya KONI harus mengetahui rule of the game yang dimiliki dunia usaha agar bisa tertarik dengan kegiatan keolahragaan. Bak meminang gadis cantik yang kaya raya, KONI tak bisa menampakkan wajah lusuh dan miskin dihadapan Duni Usaha. KONI harus tampil dengan gagah, berwibawa, santun dan yang paling penting adalah memberikan segenggam harapan. KONI harus paham apa yang menjadi keinginan dunia usaha, sehingga mau bekerjasama dalam pembinaan olahraga. 

Inilah Sell of Sports, menjual olahraga. Menawarkan kepada dunia usaha bahwa dalam setiap kegiatan olahraga ini ada publik yang menjadi market produk dunia usaha. Ada media yang bisa dijadikan publikasi dan pencitraan perusahaan. Dan ada man power profesional dan cerdas yang bisa dilirik sebagai human resources perusahaan. Inilah yang dimaksud dengan wibawa KONI. Hingga dunia usaha menjadi terpikat bahkan tergila - gila dengan pembinaan olahraga prestasi. 

Maka tak ada alasan KONI untuk tidak memulai. KONI harus membuang pikiran primitif yang beranggapan bahwa tidak ada guna meminta dukungan dunia usaha, toh tidak akan dibantu. Selama pemikiran itu masih dipakai, walhasil olahraga prestasi akan begini begini saja. 

Menjual Olahraga ini tak hanya berharap dibeli dengan Cash Money (uang tunai), tapi Value in Kind (Nilai dalam bentuk barang) dari fasilitas yang tersedia atau disediakan oleh dunia usaha sangat terasa manfaatnya. Bahkan bisa membantu jauh lebih besar. Misalnya, penyediaan transportasi, akomodasi, konsumsi, hadiah trophy, uniform, dan lain sebagainya. 

Maka marilah berfikir untuk menjual olahraga ini, dan mari berburu Value in Kind. Karena jayanya olahraga dari dukungan bersama. ***