Asal Mula Masyarakat Bali di Riau, Kental Budaya dan Pluralisme


riaupotenza.com

LETUSAN Gunung Agung pada 18 Februari 1963 menjadi lembaran pertama dari kisah masyarakat asal Bali ada di Sumatera Utara hingga ke penjuru Riau. 

Awalnya, sebagian penduduk yang terdampak Gunung Agung Bali itu melakukan transmigrasi ke Perkebunan Bandar Selamat Asahan, Sumatera utara.

Selama 6 tahun, mereka menjadi pekerja kontrak di PTPN II sebagai petani karet. Setelah usai masa kontraknya, sebagian masyarakat Bali yang tinggal di perkebunan Bandar Selamat, memohon untuk mundur dengan hormat sebagai buruh perkebunan dan kembali ke tanah leluhurnya di Bali.

Juga, sebagian dari mereka yang tersisa dan tak kembali ke kampung halaman memilih bertahan dan membentuk sebuah perkampungan Bali. Mereka tinggal diwilayah Kecamatan Wampu, Langkat, Sumatera utara.

Tahun 1989, menjadi sejarah awal masyarakat Bali masuk ke Riau. 

Sisa-sisa pekerja kontrak PTPN II itu pindah dari Kecamatan Wampu, Sumatera Utara ke penjuru Riau. Awalnya, mereka mendirikan kampung diwilayah Bagan Batu, Rokan Hilir. Kemudian disusul kelompok yang sama pada tahun 1995 dan kini menetap di wilayah Kandis, Kabupaten Siak. 

Tokoh Pemuda di Kampung Bali, Kandis, Kabupaten Siak, Nyoman Adi Arianto menjelaskan bahwa diwilayahnya ada 150 jiwa ummat Hindu Bali yang sudah menetap sejak tahun 1995.

Mereka hidup dengan bertani sawit. Kini sudah 3 generasi bermukim diwilayah Desa Jambai Makmur, Kecamatan Kandis itu. 

Meski diperantauan, masyarakat Bali di Riau masih mempertahankan tradisi dan budaya leluhur hingga kini, dalam benak mereka masih ingat dengan pepatah kampung halaman, “tak kering oleh panas, tak basah oleh hujan”.

"Di Riau kini sudah banyak masyarakat Bali, ada 5 lokasi yang kini ditinggali, seperti di Bagan Batu, Kandis, Pelalawan, Dumai dan Pekanbaru," kata Nyoman Arianto. Dia menjelaskan, Setiap hari besar ummat Hindu di Riau selalu berkumpul di Pura. 

Menjunjung Adat Budaya dan Pluralisme

Sebagai generasi kedua, Nyoman Arianto paham betul kondisi masyarakat Bali di Riau. "Kami membaur dengan masyarakat setempat, menjunjung tinggi adat dan menjaga kerukunan," kata dia. 

Sebuah Pura, tempat peribadatan menjadi penanda keberadaan masyarakat Bali di kawasan itu. Tegak berdiri dengan corak khas Bali yang lekat, Pura itu menjadi saksi suka-duka mereka hidup jauh dari tanah leluhur.

Nyoman Arianto, pria kelahiran 1984 ini menuturkan bahwa kerasnya hidup di perantauan membuat rindu kampung halaman di Bali. 

Bertahan dengan tradisi Hindu Bali yang mengakar kuat, mereka hidup sederhana, berdampingan dengan masyarakat di sana.

Setiap hari kemenangan, masyarakat Bali selalu merayakan adat dan tradisinya mengikuti ajaran warisan leluhur.

"Di Kandis Riau ada punya 1 Pura untuk umum, di tiap rumah ada juga namanya sanggah," jelasnya.

Setiap momen adat dan keagamaan, Pembimas (Pembimbing Masyarakat Hindu) Riau selalu membersamai. Dibawah naungan mereka, kegiatan keagamaan dan tempat beribadah selalu terakomodir. 

Kendati demikian, wilayah kampung Bali di kandis Riau masih banyak membutuhkan sentuhan Pemerintah. Akses jalan menuju lokasi masih berbentuk jalan tanah. 

Setahun lalu, tepatnya 26 Mei 2018, Bupati Siak Alfedri meresmikan jaringan listrik di Kampung Bali itu. Kala itu, ia masih menjabat sebagai Plt (Pelaksana tugas). 

Untuk menjangkau wilayah tersebut, Bupati Siak mesti dihadapkan dengan jalan terjal dan berlumpur. Tatkala mobil dinasnya juga sempat didorong saat terperosok di kubangan lumpur. 

Sebagai tokoh Pemuda setempat, Nyoman Arianto berharap, kemajuan kampung bali di Riau dapat didukung dengan infrastruktur yang memadai. Setidaknya, untuk akses jalan menjadi prioritas pemerintah. 

Wilayah kampung Bali di Kandis Riau merupakan wilayah yang kental akan adat dan budaya Bali, sampai beranak pinak generasi selanjutnya, mereka tetap mempertahankan budaya, adat istiadat dan Pluralisme yang akan dijunjung tinggi. nji