Galau, Tiket Pesawat tak Terjangkau


riaupotenza.com
Ilustrasi. Net

Oleh: Khairul Amri 
GM Pekanbaru Pos Group

Idul fitri masih dua pekan lagi. Meski begitu, suasana dan semaraknya sudah dirasakan jauh sebelum itu. Bahkan beberapa bulan sebelum Ramadan, pun nuansa lebaran itu, hakikatnya sudah terasa. Masing-masing kita sudah disibukkan oleh urusan hari raya.

Gak percaya? Mari kita bahas.

Kalau Anda dari keluarga Melayu, biasanya jauh-jauh sebelum puasa, sudah sibuk dengan cerita-cerita dan runding keluarga: lebaran ini mau pakai baju seragam apa? Biasanya, seluruh keluarga yang bakal mudik lebaran, menyiapkan baju Melayu seragam. 

Bila Anda berada di rantau, jauh dari kampung halaman dan keluarga. Maka jauh-jauh hari biasanya sudah disibukkan dengan usaha cari-cari informasi tiket murah. Bisa tiket peswat, kapal atau tiket bus. Kalau di dataran Jawa sana, ada juga tiket kereta api. Sehingga tak heran, puasa saja belum mulai tetapi tiket-tiket buat mudik sudah dipesan. Jelang lebaran, semua jurusan mudik sudah penuh terisi.

Cerita tentang tiket inilah yang sekarang memunculkan galau tak berkesudahan. Wabilkhusus tiket pesawat. Jumlah penumpang pesawat turun drastis. Bandara banyak yang sepi. Tempat wisata lokal pun sepi pengunjung. 

Yang lainnya. Akibat harga tiket pesawat melambung tinggi, banyak dari pemudik yang galau. Karena biasanya mereka bisa dapat tiket murah, jika dipesan jauh-jauh hari sebelum mudik. Tahun ini gak bisa lagi. Harga tiket sangat tak bersahabat.

Alih-alih berusaha menurunkan harga tiket pesawat, eh pemerintah malah menetapkan tarif batas atas dan tarif batas bawah. Sepertinya, ini pura-pura serius. Karena tak juga ada solusi untuk masalah yang satu ini. Kalau serius, apa susahnya pemerintah memaksa maskapai itu. Tapi, ya begitulah yang terjadi dan kita rasakan.  

Ini sebenarnya sekalian curcol. Karena bukan Anda saja yang galau. Saya juga ikut galau ni. 

Saya, biasanya setiap tahun naik pesawat buat sampai ke kampung halaman isteri. Kami bertiga, selalu bisa mudik lebih mudah dan tidak terlalu ribet. Tapi tahun ini, kebiasaan itu buyar. Kami tak bisa lagi memaksakan diri untuk naik pesawat. Karena harga tiketnya mahal banget.  

Bayangkan saja. Harga tiket pesawat saat ini buat sekali jalan, itu sebelumnya bisa buat pulang pergi (PP). Pekanbaru ke Batam biasa saya bayar Rp400 atau Rp500 ribu. Tapi sekarang, sekali jalan Rp700 sampai Rp800 ribu. Kalau untuk bertiga, wah... fantastis sekali. Itulah bikin galau, karena tiket pesawat tak terjangkau 

Gunakan Jalur Lain

Apa kami tidak jadi mudik? Dipikir-pikir lagi, memang saya dan keluarga wajib mudik. Apa pasal? Karena di kampung ada orang tua. Mak mertua saya. Dialah lagi satu-satunya orang tua kami. Sekali setahun saya dan keluarga harus mengunjungi beliau. Biar ongkos mahal. Saya harus putar otak agar tetap bisa sampai kampung halaman.

Nah, tiket pesawat mahal. Ya, sudahlah. Gunakan jalur lain. Kami lewat darat saja. Yang penting, kan bisa sampai dengan selamat.

Jalur biasa untuk mudik yang kami lalui: dari Pekanbaru ke Batam naik peswat. Setelah itu naik kapal ferry untuk sampai ke Moro, Kepulauan Riau. Tahun ini, kami naik darat ke Tembilahan. Dari negeri seribu parit itu,  baru kami naik kapal speed ke Moro. Apapun dan dari mana pun jalannya, yang penting sampai kampung halaman dan tidak terlalu memberatkan kantong.

Apa masalah ini akan bisa selesai? Jelaslah bisa. Asal pemerintah benar-benar serius menyelesaikannya. Apa susahnya sih bagi pemerintah memaksa maskapai untuk menormalkan kembali harga tiket pesawat. Kalau terus saja pura-pura serius, ya beginilah yang kita rasakan. Berapa lama? Ya, saya gak bisa jawab. Apalagi Anda. Hmmm.

Mari sama-sama kita dorong agar kondisi galau ini tak bertambah galau. Bagimana kondisi sebelumnya bisa kembali seperti itu. Anda galau? Saya juga. **