Awas, 'Induk Iblis' Selalu Siap Menggoda (Marhaban Ya Ramadan)


riaupotenza.com
Oleh: Khairul Amri GM Pekanbaru Pos Group

KESEMPATAN Saya bertemu para calon pemimpin bangsa, di masa depan. Ribuan siswa-siswi salah satu sekolah kejuruan (SMK Negeri) di Pekanbaru. Kebetulan saya hadir bersama tim Pekanbaru Pos Mengaji bersama Rabbani, beserta para sponsor lain. Kesempatan ini saya manfaatkan pula untuk berinteraksi langsung dengan para siswa-siswi ini.

Jumat pagi (3/5), pukul 07.30 wib.

Lapangan tengah sekolah itu. Penuh diisi siswa-siswi, juga hadir kepala sekolah dan majelis guru. Umumnya mereka berbaju biru, seragam khusus sekolah. Ada juga yang berseragam pramuka. Walau panas pagi menyengat, mereka semua tetap semangat.

Sambil menunggu. Mumpung Ustadz belum hadir, saya ambil kesempatan itu untuk tampil. Kesempatan memberikan sambutan di depan siswa-siswi ini tak saya sia-siakan. Mulailah saya berinteraksi dan berbicara.

Sambil memperkenalkan Pekanbaru Pos kepada seluruh yang hadir, saya lihat para siswa ini mulai gerah. Cuaca semakin panas. Saya tak boleh kehabisan ide, agar mereka tetap betah di lapangan.

Saya mulai berkeliling dari sudut ke sudut. Semua siswa saya ajak komunikasi. "Allahuakbar," teriak saya. Mereka pun balik membalas, "Allahuakbar." Semua mengepalkan tangan ke udara. Suara bergemuruh, dan lapangan yang tadinya panas menjadi penuh dengan semangat siswa-siswi. Karena sudah nampak akrab, mulai saya mengajak para siswa untuk berdialog.

Momen puasa Ramadan yang sudah semakin dekat, saya jadikan bahan dialog.

Saya pancing mereka dengan kalimat: berani jujur. Siapa yang berani jujur masuk surga. "Anak milenial berani jujur. Yang berani jujur masuk surga," kata saya. Semuanya nampak senang. Semua setuju dan seperti tak sabar menunggu pertanyaan saya.

Saya mulai. "Siapa yang tahun lalu puasanya penuh 29 atau 30 hari?," tanya saya. Hampir semuanya tunjuk tangan. Termasuk para siswi, yang duduk di panggung tengah lapangan.

Tapi, begitu saya ulang: siapa jujur masuk surga, tangan yang tadinya diangkat ke atas, pelan-pelan turun satu persatu. Saya cuma bisa senyum, dan seskali tertawa.

Saya tidak kehabisan pikir. pertanyaannya saya balik. "Siapa yang puasa tahun lalu tidak penuh? Dan, siapa pula yang berani menyebutkan alasan meninggalkan puasa," kata saya lagi.

Karena komitmen jujur tadi, walau ditanya yang tidak berpuasa, ternyata banyak juga yang angkat tangan. Hehehe. Namun saat saya pancing untuk maju ke depan, dan siapa berani akan dapat hadiah, tak satupun dari mereka yang berani maju. Padahal sudah saya pegang satu buah buku dari Ganesha Operation untuk dijadikan hadiah. Tetap mereka bersorak, tak mau maju.

"Baiklah. Yang berani jujur. Mau maju ke depan untuk berbagi jujur. Saya kasi Rp50 ribu. Ada saya siapkan Rp100 ribu, untuk dua orang," teriak saya.

Mendengar hadiah uang, banyak siswa putra yang berebut maju. Hehehe. Dan, terjaring empat siswa yang berani maju dan berkomitmen jujur untuk share pengalaman puasa tahun lalu. Mereka pun saya ajak berdialog. Rekan-rekan sesama siswa, majelis guru dan kepsek, termasuk Ustadz yang sudah hadir, pun ikut tertawa.

Godaan 'Induk Iblis'

Di bulan Ramadan, iblis dibelenggu. Pintu surga dibuka lebar-lebar, dan pintu neraka ditutup rapat. Tapi kenapa ada saja manusia yang bisa lalai dan tergoda.

Terbukti dari cerita jujur para siswa ini.

Dari empat orang siswa ini, ada yang mengaku batal puasa empat kali. Ada juga batal 9 dan hari. Hebatnya, ada siswa ini yang jujur: batal puasa 21 hari. Meski begitu, mereka ingin berubah dan mengganti puasanya. Sebab kewajiban berpuasa diharuskan kepada umat Islam yang sudah baligh dan berakal.

Apa alasan batal puasa? Ada yang beralasan membantu orangtua bekerja. Karena orangtua mencari nafkah, dia membantu ekonomi keluarga. Akhirnya batal berpuasa.

Tapi, ada pula yang mengaku: tak kuat menahan godaan. "Ternyata benar, pak. Godaan teman lebih dahsyat dari godaan iblis," kata siswa ini. Seluruh siswa lain pun tertawa.

"Berarti di bulan puasa pun masih ada induk iblis?," ujar saya.

"Mungkin iya, kali pak," kata siswa itu lagi. Teman-temannya makin geli melihat tingkah dan mendengar jawaban kawan sebayanya. Sepintas, dia menganggap kalau godaan itu datang dari induk iblis. Selalu saja bisa tergoda. Tak sanggup menahan rayuan teman sebaya. Hehehe.

Itulah realita yang saya dengar dari para siswa ini. Mereka semua sangat ingin menuntaskan puasa Ramadannya, tapi tetap datang godaan dari kiri dan kanan. Padahal, iblis sudah dibelenggu, tapi ternyata induknya masih saja berkeliaran.

Meski begitu, para siswa ini juga patut diapresiasi. Mereka berani jujur, walau berbuat tidak baik. Agar ke depan, mereka bisa berubah menjadi lebih baik. Kita doakan.

Menjelang Ramadan, maaf lahir dan batin. Hari ini, Senin (6/5/2019) awal Ramadan. Mari kita jalankan ibadah puasa kali ini dengan sebaik-baiknya. Kita berdoa: semoga puasa tahun ini lebih baik dari puasa tahun sebelumnya. Amin ... **