Harap-harap Cemas


riaupotenza.com

Oleh : Khairul Amri
GM Pekanbaru Pos Group

BEBERAPA Hari ini, dan beberapa hari ke depan ada yang hatinya tidak tenang. Bahkan ada pula yang galau. Sampai ada yang emosian, sampai-sampai protes ke jamaah masjid. Dia tak terima, karena sudah membantu, tapi tidak mendapat dukungan signifikan di tempat tersebut. Alhasil emosi dan marah-marah, sampai sempat diusir warga.

Kita mulai dari yang paling tidak tenang, yakni Calon Presiden dan tim sukses (timses)-nya. Kenapa mereka ini paling galau? Karena seluruh rakyat Indonesia berhak memilihnya. Ada 34 provinsi di tanah air, ditambah dengan suara dari luar negeri. Begitu luas dan banyak jumlah pemilih sehingga sangat sulit dan lama sekali proses putusannya. Kalau tak siap-siap bisa saja sampai sakit.

Harus kita apresiasi, ada sistem hitung cepat (Quick Count/QC) yang sudah dilansir banyak media. Tapi sistem itu pun ternyata punya masalah. Cuma satu hari QC ini tampil di layar kaca, setelah itu tak semua tv (lagi) yang merilisnya. Sebegitu hebat protes terhadap sistem QC ini. Akhirnya, beberapa lembaga survey mundur dan tv pun tak mau lagi menayangkannya. Situasi ini makin membuat galau bercampur resah dan risih. Ya, tentu KPU sebagai penyelenggara pemilu, yang bisa jadi tumpuan akhir.

Apa benar KPU bisa jadi tumpuan akhir? Ini pula masalahnya. Sistem perhitungan suara (situng) KPU yang berbasis form C1 pun, tak pula sepenuhnya benar. Banyak muncul di medsos,  terkait perbedaan data di situng KPU ini. Dan itu diunggah secara terbuka di medsos. Alih-alih menangkal dan meluruskan kesalahan itu, malah Komisioner KPU membenarkan kalau entry data di situng tersebut keliru. Hmmm, mau percaya sama lembaga mana lagi?

Kedua timses Capres berpacu menghitung data suara versi masing-masing. Mulailah saling klaim: menang. Dua Capres saling ekspos, bahwa mereka adalah pemenang Pilpres. Bahkan ada yang sudah dapat ucapan selamat dari pemimpin negara-negara besar di dunia. Ada pula yang berpidato politik, lalu sujud syukur di hadapan para pendukungnya. Kondisi ini makin membuat rakyat bingung.

Begitu juga dengan suara partai politik, syarat Parliamentary Treshold (PT) 4% untuk bisa duduk di parlemen. Meski ada parpol yang berkoalisi sama-sama mengusung Capres, eh pas penghitungan suara parpol justru mereka saling tak percaya. Hehehe. Parpol yang satu menganggap parpol yang lain curang. Melakukan penggelembungan suara partai. Bahkan, lucu-lucuan di medsos, ada petinggi partai yang percaya QC untuk menghitung suara Pilpres. Tapi pas giliran hitung suara partainya, malah justru dia pula yang gencar tak percaya QC, hehehe. Semua seperti main-main saja.

Ada lagi yang harap-harap cemas. Yaitu calon anggota DPD RI dan DPR RI. Karena cukup luasnya cakupan daerah pemilihan (Dapil Riau 1 dan Dapil Riau 2), para caleg ini makin galau. Ditunggu-tunggu juga hasil penghitungan suara di TPS, eh tak juga kunjung dapat hasil pasti. Belum lagi, banyak pula yang main klaim. Pengumuman resmi belum ada, buru-buru mereka buat info di medsos, kalau jumlah suara mereka cukup untuk duduk di legislatif. Ini memunculkan rasa cemas pula kepada caleg lain.

Tak jauh beda dengan caleg di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Meski tak segalau Capres, DPD RI dan DPR RI, namun mereka pun dibuat pusing. Seperti itu tadi. Ada yang sudah nyumbang karpet masjid. Begitu hasil pemilu tak sesuai harapan, ya minta bantuannya dikembalikan. Ini sangat miris dan membuat jamaah masjid kesal. Kalau saja banyak yang begini, kan bisa jadi lucu-lucuan lagi. Hehehe.

Sikap kita ...

Mestinya, KPU sebagai penyelenggara wajib netral. KPU tidak boleh didikte, apalagi sampai mau diintervensi. Ya, bisa saja karena intimidasi. Namun, KPU harus kembali berpikir jernih. Mereka adalah satu-satunya lembaga tumpuan terakhir. Sah atau tidak sah hasil pemilu ada pada keputusan KPU. Jika lembaga ini bermain, terlalu mahal nasib bangsa Indonesia dipertaruhkan.

Sebagai timses, ya sah-sah saja saling klaim menang. Atau sebagai caleg yang optimis duduk, ya sah-sah saja klaim hasil penghitungan suara. Tapi, harus pula diingat, bahwa hasil akhir tetaplah ada lembaga yang akan memutuskan dan menetapkannya. Selagi itu belum ada, mestinya sabar dan tidak perlu over dalam menyikapinya.

Kalaupun nanti hasil yang diumumkan KPU tidak sesuai dengan harapan, mestinya itu pun harus disikapi dengan baik. Bayangkan, jika nanti menyikapi hasil tersebut dengan emosional, pasti akan banyak yang stres dan sakit. Jadi, ya harus dipahami, bahwa ini adalah proses saja. Kalau sudah berusaha (ikhtiar) dan berdoa sebaiknya soal hasil serahkan kepadaNya. Jika seperti itu, pasti hati akan lebih tenang.

Lalu sikap kita, sebagai masyarakat. Nah, ini juga penting. Karena kita adalah penentu buat mereka Capres dan caleg tersebut. Sebagai pemilih yang cerdas dan bijaksana, mari kita bersiap-siap untuk menunggu hasil dari penyelenggara. Jika ada kesempatan dan kemampuan untuk ikut mengawal langsung, ya sebaiknya dijalankan dengan baik dan ikhlas.

Sama seperti Capres dan caleg. Usaha kita untuk memilih dan memberikan suara kepada calon pilihan kita, kan sudah kita tunjukkan. Jangan ikut-ikutan pula memperkeruh suasana. Jadi pemilih, kita sudah sukses. Saatnya sekarang kita juga sukses jadi penerima hasil dari lembaga yang berwenang. Mari kita doakan negeri ini mendapat pemimpin yang baik dan cinta rakyatnya. Berdolah untuk keselamatan bangsa, kedamaian negeri dan hendaknya aman damailah Pemilu kita ini. **