Kita Masih Rp2.000, Mereka Sudah Rp5.000


Kita Masih Rp2.000, Mereka Sudah Rp5.000
Oleh: Khairul Amri, GM Pekanbaru Pos Group

BANYAK Perubahan yang terjadi di Bukittinggi. Kota wisata yang sudah sangat familiar ini, makin hari makin menawan. Tak henti-hentinya bersolek. Terlebih di beberapa kawasan wisata, semua nampak pelan-pelan dibenahi. Wajar, kalau tiba waktu liburan pendek, biasanya dimanfaatkan warga sekitar, seperti Pekanbaru, untuk berlibur di kota yang masih berudara sejuk ini.

Akhir pekan ini. Dua crane nampak masih saja bekerja. Di tengah gelap senja menjelang malam, lampu-lampu crane terlihat makin indah. Warna-warni lampu. Crane bergerak pelan, lampu-lampu itu pun ikut bergerak. Dari kejauhan tak terlihat jelas operator crane. Yang nampak cuma besi penuh lampu berdiri kokoh, tak begitu jauh dari lokasi jam gadang, di jantung kota Bukittinggi.

Ini dulu kawasan Pasar Atas, Bukittinggi. Saat ini pasar yang setiap hari ramai itu, sedang diremajakan. Pemko Bukittinggi terus menggesa pembangunannya. Setelah pembenahan kawasan jam gadang selesai, sekarang giliran kawasan pasar pula yang dibenahi. Meski sedang dibangun ulang, tetap saja pengunjung pasar ini,nampak masih ramai.

Berjalan di seputaran area jam gadang, saat ini sudah jauh berubah. Dulu masih ada berdiri kokoh beberapa pohon besar di sini. Tapi sekarang, sudah menjelma menjadi susunan keramik berwarna gelap. Pohon besar tak lagi. Sekarang malah banyak taman bunga yang disinari gemerlap lampu taman. Di stiap tiang lampu, ada pula tempat duduk yang tertata. Suasana ini membuat pengunjung ingin berlama-lama di kawasan jam gadang.

Tak hanya itu, juga ada dua titik air mancur. Satu sisi taman air mancur dibuat lebih besar. Pancuran air di sini mirip dengan air mancur kebanyakan, di luar negeri sana. Ada pula air mancur seperti menari-nari. Kesannya sangat memesona, ditambah warna-warni lampu di air.

Sedangkan taman air mancur satu lagi, dibangun lebih kecil. Pancuran airnya pun tidak begitu besar. Namun tetap memesona, dan banyak pula wisatawan yang foto bareng dengan latar air mancur. Ya, kawasan jam gadang semakin asyik buat dikunjungi. Ditambah udara Bukittinggi yang sejuk.

Kita Masih Rp2.000

Nah, angka 2 ini tak ada kaitannya dengan politik, hehe. Sebenarnya soal Rp2.000 inilah yang fokus mau saya ceritakan pada kolom kali ini. Kebetulan pula dekat Pilpres, jadi saya agak hati-hati menuliskan angka 2. Takut pula
Sebab hari ini, 14-16 April 2019, sudah memasuki minggu tenang, jelang 17 April 2019.

Ini sebenarnya soal parkir, untuk kendaraan roda empat atau mobil. Di Pekanbaru, sempat heboh.Ketika Wali Kota Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT akan memberlakukan peraturan daerah tentang retribusi parkir di lokasi tertentu. Di perda baru itu, mobil untuk sekali parkir dikenakan Rp5.000. Rencana ini ditentang dan tidak diterima secara luas oleh warga kota. Akhirnya, sampai hari ini, tetap diberlakukan Rp2.000.

Sebenarnya, parkir di lokasi tertentu, dengan Rp2.000 itu sudah untung buat Pemko Pekanbaru. Sesuai dengan kajian yang dilakukan dinas terkait, seperti juga pernah disentil oleh salah seorang anggota DPRD Pekanbaru: bahwa potensi retribusi parkir di kota ini bisa dua kali lipat dari yang diterima sekarang. Nah, dengan Rp2.000 saja sudah untung, apalagi kalau dinaikkan jadi Rp5.000 per parkir. Ini pula yang memunculkan polemik. Maka tak jadilah perda itu diberlakukan.

Sementara di Bukittinggi, kota wisata yang terkenal dengan alamnya itu, ternyata sudah memulainya. Kita masih Rp2.000, tapi mereka sudah berani Rp5.000 per parkir untuk mobil. Apa ada masalah? Secara umum, kelihatan kasat mata, aman-aman saja. Mungkin dengan begitu pula mereka bisa mempercantik kawasan-kawasan wisata di sana.

Ceritanya, saya kaget. Ketika parkir di dua tempat berbeda di Bukittinggi. Awalnya parkir disamping Cafe Enhai. Setelah itu parkir di dekat area jam gadang. Kejadiannya unik. Di tempat pertama, pas saat akan jalan, saya sudah siapkan uang Rp2.000. Begitu diberikan ke tukang parkir, eh dia bilang: parkir Rp5.000. Dia keluarkan karcis parkir warna pink, lengkap tertulis nomor perda-nya. Karcisnya pakai korporasi pula. Mau tak mau, saya harus bayar.

Tapi, di tempat kedua sedikit lucu. Si tukang parkir ngaku: saya tidak resmi, jadi yang parkir bayar dulu, baru pergi. Sama juga. Dia minta Rp5.000, dan kali ini tanpa karcis parkir. Karena dia jujur, ya saya kasih saja uangnya, hehehe.

Dengan dua kejadian ini, saya tentu ingat pula kejadian soal retribusi parkir di Pekanbaru. Apa iya, karena Bukittinggi kota wisata, lalu mereka sudah berani memungut retribusi parkir Rp5.000. Sementara kalau dilihat setiap pekan, tak kurang ramai juga Pekanbaru dikunjungi wisatawan lokal.

Tapi kenapa belum berani menerapkan perda parkir yang baru. Tentu ini sekedar perbandingan. Kalau baik dan burknya, akan lebih baik dikaji masak-masak terlebih dahulu. Bagi yang pernah ke Bukittinggi, apalagi ke kawasan jam gadang, pasti merasakan apa yang saya rasakan. **