Momen Cheng Beng Dijadikan Objek Wisata


riaupotenza.com
Sekda Rohil Drs H Surya Arfan MSi berdialog dengan sepasang pengunjung dari Jakarta ntuk melakukan sembahyang kubur (Cheng Beng) di Bagansiapiapi.(indra/ppg)

BAGANSIAPIAPI (RPZ)- Proses ritual kebudayaan menghormati arwah para leluhur bagi masyarakat keturunan Tionghoa, Bagansiapiapi menjadi sebuah kebiasaan unik di tanah air.

Demi penghormatan itu, kaum kerabat yang masih hidup berdoa di kuburan para leluhurnya. Orangtua, nenek, kakek dan sebagainya. Itu disebut Cheng Beng (sembahyang kubur). Momen ini oleh pemerintah daerah sangat menarik untuk dijadikan objek wisata, yakni wisata religi khususnya warga keturunan Tionghoa.

Menurut Sekda Rohil Drs H Surya Arfan MSi, yang Rabu (27/3) petang kemarin meninjau langsung proses Cheng Beng, mengaku melihat proses menarik perhatian, terutama berbondong-bondongnya warga luar daerah dalam negeri maupun luar negeri mendatangi Bagansiapiapi.

‘’Menariknya, sebagian besar keluarga besar mereka ada berada di Jawa, Medan, Jakarta, bahkan luar negeri, seperti Singapura, Malaysia dan Tiongkok. Setiap Cheng Beng mereka pulang kampung melakukan sembahyang kubur,’’ kata Surya Arfan.

Karena kali ini momen yang harus dimanfaatkan, maka sebagai bentuk kesempatan masyarakat lokal dapat berjualan produk khas daerah. Dikatakan Surya, pada hari pertama saja sudah 40 mobil dan sepeda motor mencapai 150 unit yang berkunjung.

Saat berjalan-jalan melihat situasi pemakaman yang dibangun kokoh, Sekda menyambang sepasang suami istri yang tengah membakar kertas sembahyang. Sempat bertanya, bahwa mereka datang dari Jakarta. Kemudian, ada pula yang dari Tanjung Balai.

Mereka mengaku, memang saat berkunjung ke pemakaman leluhurnya itu sedikit was-was terhadap issu maraknya aksi copet yang beredar, sehingga untuk membawa tas saja tidak berani. Menanggapi hal itu, Sekda meyakinkan bahwa mulai tahun ini dan seterusnya aktifitas sembahyang kubur selalu aman dan nyaman.

Karena sebagai pemerintah daerah, hal ini harus dilestarikan. Dan pemerintah menciptakan situasi aman dan nyaman dengan menghadirkan pengamanan dari pihak Satpol PP, Polri dan TNI untuk mengantisipasi sepanjang sembahyang kubur berlangsung.

Oleh karena itu, Sekda mengimbau kepada pengunjung, agar mengabarkan kepada teman-teman yang berada diluar daerah bahwa Bagansiapi-api itu aman. Dan tidak ada issu tidak baik yang beredar. Maka, kunjungilah makam leluhur, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

‘’Pemerintah ingin menciptakan rasa aman dan nyaman. Kabarkan kepada teman-teman dan saudara di luar sana. Sebutkan bahwa Bagansiapi-api aman,” ujar Surya.

Pantauan Wartawan di lokasi pemakaman, ratusan bahkan ribuan nisan megah berwarna warni. Dari sisi jalan kiri dan kanan ada. Tiap-tiap makam ada foto. Itu gambar siapa yang dimakamkan di sana.

Diterangkan salah satu pengunjung, proses pemakaman bagi warga Tionghoa sarat akan budaya dan ritual. Untuk bisa mendapatkan tulang yang sudah mati itu, jasad sebelumnya diawetkan sekitar tiga sampai empat hari di rumah. Kemudian itu, barulah dibawa ke pemakaman, tapi tidak dikubur. Melainkan disemayamkan didalam peti dengan jasad dikenakam pakaian lengkap serta dihiasi. Peti yang berisikan jasad ditutup dengan rapat, dibalut plastik terpal, kemudian dilapisi atap dari daun rumbia.

Setelah tiga sampai lima tahun lamanya, pihak keluarga kembali membongkar peti atau kajangan penutup peti. Itu dilakukan guna mengambil tulang-tulang yang kemudian dicuci dengan ritual sembahyang. Selanjutnya dimasukkan ke dalam sebuah guci (kendi). Maka, bagi keluarga berada mereka akan membuat tempat yang bagus dan luas untuk keluarga besar mereka.

Namun adilnya, bagi keluarga dari kalangan tidak mampu ditempatkan disatu tempat terkumpul. Diujung pemakaman, ada dua bangunan kokoh khusus tempat penyimpanan guci tulang warga kurang mampu. Sementara bagi orang kaya akan membuat tempat sendiri.

‘’Ternyata bagi yang miskin atau tidak mampu ada tempatnya disediakan. Di ujung pemakaman ada dua bangunan tempat itu. Kalau yang kaya bangun sendiri, bahkan pakai keramik,’’ ungkap Surya.

Sekda berharap, Cheng Beng ini bisa menjadi momen berkumpulnya warga Bagansiapi api yang telah menetap diluar daerah. Sehingga dapat meningkatkan taraf perekonomian daerah dari objek wisata religi Cheng Beng tersebut.

‘’Ya, kita minta warga Bagansiapi api yang sudah menetap diluar baliklah. Kunjungi Bagansiapi api untuk melaksanakan Cheng Beng. Jangan takut untuk datang, kita sudah kondisikan pengamanan. Selain itu kondisi jalan juga sudah membaik,’’ pungkasnya. (iin/ppg)