Rugikan Negara Rp1,7 M

Dua Pegawai BRI Meranti Jadi Tersangka Korupsi


riaupotenza.com

SELATPANJANG (RPZ) - Seorang dari dua tersangka kasus kredit fiktif Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Teluk Belitung ditahan, usai menjalani proses pemeriksaan oleh Tim Penyidik Pidana Kusus (Pidsus) Kejari Kepulauan Meranti. 

Tersangka yang ditahan berinisial DH. Sedangkan tersangka lainnya adalah FD yang saat ini masih buron alias masuk DPO. Menurut Tim Penyidik, pehanan dilakukan dalam rangka memudahkan proses pemeriksana lanjutan, serta menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan. 

Adapun ekstimasi kerugian negara yang ditimbulkan oleh ulah para tersangka sebesar Rp1,7 milliar. Dari jumlah tersebut kedua tersangka telah menggunakan 70 data nasabah fiktif dan beberapa penggelapan cicilan kreditur. 

Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Meranti, Budi Rahrjo SH MH di Kantor Kejari Kepulauan Meranti, Kamis (8/11/2018) mengatakan, pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2016 dalam penyaluran kredit BRI unit Teluk Belitung telah terjadi fraud yang dilakukan oleh oknum pegawai BRI.

"Berdasarkan hasil penyelidikan memang benar telah terjadi tindak pidana korupsi dalam penyaluran kredit di BRI unit Teluk Belitung pada tahun 2015-2016," ujarnya saat didampingi Kasi Pidsus Robby Prasetya SH MH, Kasi Intel Zea Ulfa SH, Muhammad Ulinnuha, dan Sabar Gunawan. 

Disambung oleh Kasi Pidsus Robby Prasetya, laporan tersebut berawal dari Cabang BRI Selatpanjang. Berdasarkan Sprindik pertanggal 12 Maret 2018 lalu, perkara tersebut ditingkatkan ketahap penyidikan agar mempermudah mereka dalam Pulbaket. "Keterbukaan informasi nasabah di Perbankan memang sulit. Makanya ditingkatkan status mereka. Dari hasil tersebut telah dikumpulkan bukti untuk menjadikan terang suatu perkara yang sama," ujarnya. 

Selain itu diungkapkannya lagi, dua tahun berjalan aksi kedua tersangka berjalan dengan mulus. Hal itu dipermudah atas posisi mereka adalah sebagai pejabat teknis, yakni mantri yang bertugas untuk mencari nasabah serta mengelola permohonan serta analisis kredit yang akan diberikan Bank BRI. 

"Menyalahi wewenang. Modus yang dilakukan mereka penipuan sistem administrasi pinjaman menggunakan dokumen persyaratan kreditur palsu. Jumlah kerugian tersebut dihasilkan para tersangka melalui sekira 70 nasabah, mulai pemalsuan dokumen hingga penggelapan dana kredit. Perlu diketahui bahwasanya pemberian KUR terkandung didalamnya dana yang bersumber dari APBN dan sangat jelas yang dirugikan adalah negara," tambahnya. 

Menurut kemungkinan bertambahnya tersangka bisa saja terjadi karena pemgembangan kasus terus dilakukan oleh tim penyidik. "Nantikan saja perkembangannya. Bisa jadi akan ada tersangka baru. Karena dalam memverifikasi berkas melibatkan banyak orang,"ujarnya.

Secara rinci, terhadap tersangka DH berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh tim penyidik telah merugikan negara sebesar Rp. 926.782.543,-. Sedangkan tersangka FD sebesar Rp. 842.267.378,- sehingga total kerugian yang dialami negara yang ditimbulkan oleh kedua tersabgka sebesar 1.782.062.261,-. 

Adapun tuntutan dan sanksi hukuman yang menanti mereka adalah UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi atau pasal 3 JO pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 Tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 Tentang tindak pidana korupsi. wira