Sumpah Pemuda, Mari Selamatkan Meranti Tolak Keras Kemaksiatan

Meranti Juga Bisa Seperti Palu Donggala


riaupotenza.com

SELATPANJANG (RPZ) - Ahad, 28 Oktober 2018 adalah hari sumpah pemuda. Tak pelak hari krusial itu dijadikan momen penting oleh lemuda di seluruh Indonesia.

Sambut hari besejarah itu, sejumlah Ormas, tokoh pemuda di Kabupaten Kepulauan Meranti deklarasikan tolak keberadaan lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual (LGBT) yang kini tampak secara terang-terangan di daerah tersebut. Perhelatan itu digelar tepat di Taman Cik Puan, Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Kepuluan Meranti, pagi, dihari yang sama. 

Dari penelusuran, gerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual tersebut tampak terbuka dan bisa diakses oleh siapa saja di group Sosmed. Akun group facebook itu dinamakan Gay Kepulauan Meranti. Pantauan wartawan juga di akun iti juga diikuti ratusan orang atau mendapat respon baik dari kalangan pecinta sesama jenis mereka. 

Menyikapi itulah peserta gerakan membeberkan jika mereka takut jika pemuda dan pemudi asal daerah setempat terkontaminasi atas prilaku haram itu. Jika itu terjadi, menurut mereka bukan  tidak mungkin Kabupaten Kepulauan Meranti akan seperti Donggala. Seperti dibeberkan salah seorang peserta deklarasi yang secara bersamaan juga menjabat sebagai Ketua MUI Kepulauan Meranti, Mustafa SAg MM. 

"Deklarasi penolakan terhadap keberadaan LGBT ini adalah satu bentuk kegiatan positif yang menyatakan kalau kita tidak akan memberika ruang terhadap mereka (LGBT). Terlebih hari ini sempena hari Sumpah Pemuda," ujarnya. 

Karenanya, dia kembali mengingatkan agar masyarakat Meranti sadar akan peringatan Allah. Apalagi peringatan tersebut sudah tercatat dengan lengkap di dalam Alquran sebagai pedoman bagi manusia di muka bumi ini. 

"Memang, daerah kita ini tidak termasuk titik gempa dan tsunami. Tapi kalau Allah berkehendak, bukan tidak mungkin suatu saat nanti daerah ini juga akan mengalami nasib sama seperti Donggala dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia yang telah hancur akibat gempa dan tsunami," ujarnya. 

Selain dirinya, Een yang juga salah seorang peserta aksi membeberkan hal yang sama. Banyak yang bisa diartikan terhadap meraknya LGBT ini. "Ingat LGBT itu selain bisa disingkat lesbian, gay, biseksual dan transgender. Kepanjangan LGBT menurut kami juga longsor, gempa, banjir, dan tsunami. Jadi atas aksi ini kita berharap dapat dijadikan sebagai perigatan kepada semua pemuda dan pemudi yang ada di daerah ini agar tidak melakukan hal yang bertentangan dengan syariat," ungkapnya. 

Ketua Panitia, Abdul Rauf menyatakan, kampanye ini bertujuan selain menolak LGBT yang semakin mewabah, juga membangun kesadaran hidup sehat para pemuda. Dia melanjutkan, sudah saatnya masyarakat membentengi para anak muda dan generasi penerus bangsa dari kerusakan moral yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. "LGBT menimbulkan banyak permasalahan. Ini juga bisa diartikan gerakan membunuh kehidupan. Jika ini dilegalkan maka tunggu lah kehancuran bangsa ini," ujar Rauf.

Lebih jauh dikatakan, data yang diperolehnya dari instansi terkait, jumlah yang terjangkit penyakit aids di Kepulauan Meranti terus saja bertambah. "Angka pengidap penyakit Aids terus bertambah, kita sharing ke rumah sakit yang sudah berjangkit HIV minggu lalu berjumlah 26 orang, Minggu ini sudah mencapai 60 orang. Ini angka yang datang melapor untuk berobat, belum yang tidak melapor, ini sungguh sudah sangat meresahkan," ungkap Rauf.

Dalam kegiatan tersebut, ada delapan point deklarasi yang dibacakan. Hasil dari kesepakatan itu akan disampaikan ke pemerintah daerah ;meminta kepada aparat untuk menindak tegas pelaku LGBT, meminta kepada pemerintah daerah untuk mensosialisasikan bahaya LGBT, meminta pemerintah daerah untuk membuat Perda menolak keberadaan LGBT dan tentang busana muslimah bagi muslim serta pakaian sopan kepada non muslim. wira