Harga Sagu di Sungai Tohor Anjlok


riaupotenza.com

SUNGAITOHOR (RPZ) – Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, merupakan salah satu daerah penghasil sagu terbaik di Indonesia bahkan dunia. Dalam satu bulan, daerah ini mampu mengekspor lebih kurang 400 ton sagu yang diproduksi 14 kilang.

Semua kilang ini dikelola oleh masyarakat tempatan, dimulai dari tual sagu hingga sagu basah. Hingga saat ini, Desa Sungai Tohor ini dijual hanya pada satu orang pebisnis sagu yang berasal dari Selat Panjang bernama Asiong, warga keturunan Thionghoa. Kemudian sagu ini dibawa ke Malaysia. Dari Sungai Tohor, sagu dibawa dengan menggunakan kapal laut yang sudah menunggu di muara sungai, tepatnya di perbatasan Desa Sungai Tohor dengan Desa Sungai Tohor Barat, kemudia melalui Selat Melaka.

Hingga dua tahun belakangan ini, nilai jual harga sagu di Desa Sungai Tohor anjlok dikarenakan Asiong hanya mampu mengambil sagu dengan jumlah Rp1700 per kilogram dengan pengambilan yang dilakukan satu bulan dua kali. Sedangkan sekarang hanya dilakukan sakali saja.

Kondisi ini sudah berjalan bertahun-tahun lamanya dan sangat membuat perkonomian masyarakat menurun drastis karena kurang lancarnya penjualan sagu dan nilai jual menurun. Semua pemilik kebun sagu bergantung pada hasil penjual sagu basah tersebut merasa resah, karena sagu adalah mata pencarian dan pusat prekonomian masyarakat Sungai Tohor paling utama.

‘’Kami berharap pemerintah bisa mencarikan solusi untuk pemasaran semua sagu kami jika Asiong tidak mengambil sagu kami lagi, sebab dia hanya pengusaha swasta dan belum menjamin akan terus merus mengambil semua sagu kami,’’ papar  Abdul Manan Tokoh Masyarakat sekaligus salah satu pemilik kilang sagu di Sungai Tohor.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kepulauan Meranti, Aza Fahroni mengaku, justru harga jual tepung sagu di Kepaulauan Meranti naik, dibandingkan sebelumnya. Pasalnya, harga tepung sagu yang sebelumnya Rp260 ribu per 50 kilogram menjadi Rp310 ribu.

‘’Semestinya harga sagu juga meningkat. Tapi kalau harganya turun, mungkin karena dijual ke tengkulak, tentu kami tak bisa intervensi. Solusinya, kalau mereka mau, tentu bisa membuat kelompok usaha bersama atau koperasi sehingga sagu tidak lagi dijual ke tengkulak. Kami siap membina dan memfasilitasi,’’ ujar Aza Fahroni. rpz