Penggalian Lahan Makam Desa Sipang Menuai Protes


riaupotenza.com
Lokasi TPU Sipang yang saat ini digali tanahnya untuk pengambilan batu

BATANGCENAKU (RPZ) — Puluhan warga desa Sipang Kecamatan Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) protes atas penggalian batu di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang dilakukan oleh pemerintahan desa belum lama ini.

Dikatakan sejumlah warga Sipang, jika penggalian tanah makam tersebut merupakan tindakan yang telah membuat kerusakan alam sekitar TPU. Terlebih penggalian batu tersebut dilakukan tanpa musyawarah terlebih dahulu.
     
Dimana sebagian narasumber yang dapat dipercaya mengatakan penggalian tanah itu berada persis di bawah area pemakaman yang terhampar. Hingga jika tidak lekas ditimbun dikhawatirkan akan terjadi longsor dan makampun pasti ambruk ke bawah.
    
Hingga Ramlan (50) juga seorang tokoh adat Desa Sipang dkk, saat menjumpai awak media ini, Selasa (9/10) sekira pukul 11.00 WIB di sekitar pasar Kilan mengatakan area makam tersebut digali dengan kedalaman sekira 2 meter. 
     
Posisi galian berada dibwah hamparan lahan lantaran area yang dimaksud berbentuk miring. “Galian itu ada di bawah makam-makam warga, sehingga kami katakan ini sudah perusakan termasuk pengrusakan lingkungan,” uangkapnya.
    
Hal senada disampaikan Kirman (40) kepada riaupotenza.com menyebut penggalian batu di TPU desa Sipang tidak dilakukan musyawarah terlebih dahulu. Kirman mengaku jika kondisi makam itu sudah rusak ketika hendak melakukan pemakaman warga pada 8 Oktober lalu. Sehingga mengetahui hal itu, wargapun keget dan bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan yang melakukan perusakan.
     
Yudi (23) juga mengungkapkan jika penggalian tanah makam tersebut dilakukan oleh pemdes Sipang. Yudi menuturkan batu dijual ke pemain proyek pengerasan salah satu badan jalan di sekitar wilayah kecamatan Batang Cenaku.
     
Terkait dengan pekerjaan Pemdes itu dianggap oleh warga sangat gegabah karena dampaknya membuat struktur tanah makam jadi rusak berat. Ramlan berharap desa mampu bertanggung jawab, setidaknya segera memperbaikinya lagi. Kendati demikian, Ramlan tak yakin meskipun diperbaiki struktur tanah tersebut tidak akan stabil kembali,” bisa jadi rawa ataupun mengakibatkan aborsi atau longsor di kemudian hari,” katanya.
     
Sementara Pemdes Sipang, dalam hal ini Jamaris selaku kepala desa tidak dapat dikonfirmasi oleh awak media, sebab baik selluler atau keberadaannya tidak aktif dan belum diketahui. Kendati demikian, melalui Sekdes Yusmilar membenarkan penggalian TPU dilakukannya. Namun Yusmilar juga menyangkal jika pekerjaan itu bukanlah perusakan.
    
Sebab, pihaknya akan segera melaakukan perbaikan kondisi TPU dengan menimbunnya kembali, bahkan pihaknya akan merenovasi keadaan makam yang saat ini dianggap rusak oleh sebagian warganya. Yusmilar juga menjelaskan jika batu yang diambil dari galian itu dijual seharga 40 ribu per mobil kepada pihak PU. 
    
Yusmilar melanjutkan, upaya pengambilan batu galian dilakukan dengan memakai 2 unit alat berat (Eksapator). Masih kata Yusmilar, jika tudingan warganya terkait perusakan itu terkesan terburu-buru. 
    
Artinya, belum lagi sempat pihaknya memperbaiki namun tiba tiba sekelompok warga datang memprotes pekerjaannya atas nama desa itu. Yusmilar menjelaskan perolehan batu dari hasil galian itu saat ini berjumlah 250 mobil dan uangnya menjadi uang desa dibawah 2 orang pengelola yang dipercayainya.
     
Sekdes yang baru saja duduk menggantikan Sapriman itu juga menyebut jika sejatinya tanah makam itu dulunya milik salah seorang warga. Namun ketika desa membahas terkait ketidakcukupan lahan makam, maka lahan itu dibeli sebesar Rp20 juta oleh desa. Kemudian menjadi aset desa yang artinya segala hal terkait lahan menjadi urusan bersama masyarakat desa Sipang.
   
Sementara itu menyikapi protes warga desa Sipang kecamatan Batang Cenaku kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) atas penggalian batu di Tanah Pemakaman Umum (TPU) desanya, Kapolsek Batang Cenaku, Iptu. Cecep Sujafar SH melalui Kanit Binmas, Aipda L Nasution meminta masyarakat juga tidak boleh teledor sikapi kebijakan pemerintahan desanya yang mungkin berdampak kurang baik, terlebih melanggar hukum.
   
Ungkapan tersebut disampaikannya pada saat dikonfirmasi riaupotenza.com, Kamis (11/10) sekira pukul 11.00 WIB yang di lapangan sebagai Kanit Binmas bersamaan agenda patroli rutinnya. 
     
Menurut Kanit, yang akrab disapa Pak Letna itu juga menyayangkan sikap masyarakat yang baru melakukan komplen ketika pekerjaan penggalian itu selesai. “Artinya ini bisa jadi pelajaran buat warga desa guna antisipasi konflik sosial yang tidak kita inginkan,” katanya.
    
Letna meminta siapapun masyarakat yang melihat atau mencium sesuatu kejadian yang bisa atau berpotensi menimbulkan hal hal yang buruk hendaknya sigap moelaporkankan kepada pihaknya atau setidaknya melakukan upaya pembatalan, “ ya kalau sudah terjadi ya terlanjur, dan bisa jadi masyarakat ikut serta dalam pembiaran tindakan itu “ tegasnya.  ono