ASITA Riau Desak Pemerintah Buat Museum Pacu Jalur dan Bakar Tongkang


riaupotenza.com
Dede Firmansyah

PEKANBARU (RPZ) - Riau memiliki tiga Iven Wisata Internasional yakni Pacu Jalur, Bakar Tongkang, dan Ombak Bono. Namun karena dilaksanakan hanya sekali setahun, ramainya ketika iven dan setelah itu tak ada gaungnya lagi.

Menanggapi hal ini, Associationonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Provinsi Riau mendesak pemerintah daerah membuat museum Iven Wisata Pacu Jalur dan Bakar Tongkang. Hal ini perlu dilakukan agar wisatawan tidak hanya berkunjung sekali saja, tapi bisa kapan saja.

''Pacu Jalur dan Bakar Tongkang sudah berumur ratusan tahun sehing sudah semestinya ada museumnya. Pacu Jalur sudah ratusan tahun, seharusnya Bupati Kuansing Mursini bisa saja menganggarkan buat museum. Jadi wisatawan ke sana tidak pas iven saja, bisa tiap pekan ke sana," kata Ketua ASITA Riau, Dede Firmansyah di Pekanbaru.

Saat ini, lanjutnya, pada saat akhir pekan di Riau wisatawan menumpuk dan hanya mencari Mal di Pekanbaru. Tempat lainnya mungkin wisatawan hanya berjalan ke Istana Siak dan baru-baru ini ke tempat wisata di Kampar.

Dede menginginkan Riau ini punya titik banyak untuk perjalanan wisata sehingga bergeraknya tidak hanya di Pekanbaru. Oleh sebab itu dengan adanya museum seperti di Kabupaten Kuantan Singingi dan Rokan Hilir bakal ada juga perjalanan wisata.

Jika ada museum bisa saja dinas pendidikan dan pariwisata bekerjasama mengajak pelajar mengunjungi museum tersebut. Terlebih lagi anak-anak sekarang pengetahuannya soal sejarah agak kurang dibanding dulu. 

"Dengan adanya museum tentu ada pembelajaran juga buat mereka. Supaya tahu juga bahwa Ratu Wihemnina dari Belanda bahkan yang pertama kali ikut menyaksikan Pacu Jalur katena pacuan itu dipersembahkan untuk hari jadinya," ungkap Dede.

Begitu juga, lanjutnya dengan Bakar Tongkang yang sudah berusia ratusan tahun. Apakah mau dibuat museum atau minumrn bisa juga sehingga wisatawan bisa datang kapan saja.rpz