Kisah Pahlawan Asal Kampar

Sekilas Tentang Perjuangan Pahlawan Kampar, Mahmud Marzuki (Bag 1)


riaupotenza.com
Mahmud Marzuki

BANGKINANG (RPZ) - Mahmud Marzuki dilahirkan di Desa/Kampung  Kumantan, Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada tahun 1915. Ayahnya bernama Pakih Rajo, bekerja sebagai Andemar dan di samping itu anggota partai Serikat Islam. Ia berasal dari Kubang Putih-Bukittinggi. Ibunya bernama Hainah, pekerjaan dagang beras di pasar Bangkinang. Mahmud Marzuki adalah anak tunggal yang hidup dalam kesederhanaan. Ayahnya meninggal dunia sewaktu ia berumur dua tahun. Masih kecil Ia telah yatim.

Kedatangan tentara Jepang memasuki daerah Bangkinang tidaklah menggemparkan masyarakat, karena Jepang jauh sebelumnya telah memberikan bukujan dan janjji-janji yang muluk-muluk kepada pihak kita Indonesia. Seakan-akan ia tidak hendak memusihi kita, malah hendak bekerja sama dalam menghadapi tentara sekutu, termasuk Belanda yang sedang menjajah kita.

Akan tetapi, setelah memperhatikan bahwa janji Jepang yang muluk itu kenyataannya busuk. Katanya bekerja sama, tapi prakteknya kontra bahkan telah memperlihatkan sikap zalimnya karenanya. Pemimpin-pemimpin di daerah Kampar mulai mengadakan perlawanan lewat organisasi Muhammadiyah, antara lain dengan memberikan Latihan Keterampilan Kepanduan (HW) dan lain-lain.

Dalam hal ini Mahmud Marzuki lah orang yang terus menjalankan perlawanannya. Dapat kita kemukakan bahwa sewaktu penjajahan Jepang ini ada suatu badan yang bernama Cu saniin. Badan badan ini beranggotakan  200 orang Ulama dan berkantor di Pekanbaru. Sebagai mewakili ulama dari daaerah Limo Koto, Ninik-Mamak menunjuk Mahmud Marzuki.

Dengan jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki Jepang mengaku kalah kepada tentara sekutu. Maka pada tanggal 17 agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Oleh karena hubungan di waktu itu sulit, maka berita tentang Kemerdekaan RI lambat dan sulit diketahui rakyat di daerah-daerah.

Pada tahun 1942 ketika Jepang berkuasa di Kampar, Riau terbetik kabar sejumlah tokoh agama ditahan. Marzuki yang kala itu dipercayakan rakyat sebagai tokoh pejuang melawan penjajah. Sejumlah tokoh alim ulama di Lima Koto Kampar, ditangkap dan ditahan Jepang. Alasannya karena alim ulama dianggap menentang keberadaan tentara Jepang.

Marzuki dan tokoh lainnya kala itu, menyemangatkan untuk melawan Jepang sebagai kafir. Selanjutnya gerakan yang dia lalukan memboikot beberapa hasil panen padi. Warga diminta untuk tidak menyerahkan seluruh hasil panennya. Usaha yang dilakukan berjalan dengan baik, padi yang diberikan ke Jepang sebagian diisi dengan gabah.

Pada 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Namun, saat itu kabar kemerdekaan tidak langsung diterima masyarakat di daerah, termasuk di Kabupaten Kampar, Riau.

Pada 5 September 1945, berita proklamasi tersiar di Air Tiris (Kampar) lewat tempelan pamplet yang ditempelkan orang yang datang dari Bukittinggi. Adanya pamplet itu mendorong Mahmud Marzuki dan Muhamad Amin pergi mengecek atau mencari informasi kebenaran cerita itu. Kedua tokoh masyarakat itu pergi ke Botok, Kepala Kantor Pos dan Telegraf Bangkinang. Rupanya Botok benar telah mendapat berita kemerdekaan tetapi dia tak berani untuk menyebar luaskan karena takut ancaman Jepang. Naz (bersambung)