Masih Membuang Limbah di Kolam 9 yang Belum Ada Izin

PKS SRM Belum Indahkan Sanksi Paksaan Bupati


riaupotenza.com
DLH Rohil bersaman pihak kecamatan, kelurahan, kepenghuluan dan pihak perusahaan saat mematau limbahbPKS PT. SRM, Jumat (3/8) sore

TELUKMEGA (RPZ) - Menindaklanjuti Surat Keputusan Nomor 544 tertanggal 4 Desember 2017 lalu tentang sanksi administrasi paksaan kepada PKS PT. Sawit Riau Makmur (SRM), Jumat (3/8) sekira pukul 14.30 WIB, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rohiil kembali memantau pembuangan limbah milik PT. PKS PT. SRM yang terletak di Kepenghuluan Teluk Mega, Kecamatan Tanah Putih.

Dari hasil pemantauan tersebut, PKS PT. SRM masih melakukan pembuangan limbah di kolam 9 yang belum memiliki izin. Hadir dalam pemantauan itu, Kabid Pendataan dan Penaatan DLH Rohil, M. Nurhidayat SH, Kasi Penegakan Hukum Lingkungan DLH Rohil, Carlos Roshan ST didampingi dua orang staff DLH Rohil, Candra dan Ahmad Darbiyanto.

Selain itu juga hadir, Kasi Trantib Kantor Kecamatan Tanah Putih Alexander ST, Pj Penghulu Teluk Mega Redison SAP, Seklur Sedinginan Epi Rahman SSos, Mill Manager PKS PT. SRM Suryadi, KTU PKS PT. SRM M. Soleh Lubis, dan Assistwn QC PKS PT. SRM, H. Tampubolon.

DLH melalui Carlos menyimpulkan, jika perusahaan sudah melakukan upaya penanggulangan terhadap sumber pencemar namun belum maksimal, dan masih terdapat beberapa kewajiban yang belum dilaksanakan yaitu. A. Penghentian sumber pencemar. B. Retoraai dan atau cara lain yang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (restocking ikan).

Selain itu, lanjut Carlos, perusahaan belum maksimal melakukan upaya membayar biaya kerugian lingkungan hidup, karena proses perhitungan kerugian lingkungan hidup belum selesai dilakukan (tahap proposal pihak Ahli dari Perguruan Tinggi UMRI Pekanbaru ) dan perusahaan belum melakukan audit lingkungan hidup.

Menurut Carlos, sanksi sebenarnya sudah masuk dalam tahapan pembekuan izin operasional. Namun, proses sanksi kepada perusahaan itu adalah kebijakan kepala daerah (bupati), sesuai aturan UU 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan penanggulangan lingkungan hidup.

Carlos juga menjelaskan, bahwa pemantauan kali ini bukan menghilangkan sanksi yang sudah diberikan oleh bupati sebelumnya, melainkan adalah untuk melihat dan mengetahui kembali upaya perbaikan penanggulan yang dilakukan oleh pihak PKS PT. SRM serta untuk mengetahui kembali hasil air limbah yang dibuang oleh perusahaan apakah sudah memenuhi baku mutu air. “Hasil ini nantinya akan kita laporkan kembali kepada bupati untuk bukti dalam menentukan sanksi berikutnya yang lebih berat,” jelasnya.

Sementara itu, Seklur Sedinginan Epi Rahman SSos berharap kepada pihak PKS PT. SRM bisa mematuhi sanksi-sanski yang telah siranda tangani bersama. “Jangan seperti aja terus, sebab limbah itu berdampak kepada orang banyak, terutama bagi nelayan kami yang ada di sebelah hilir PKS SRM ini,” paparnya.

Menanggapi itu, Mill Manager PKS PT. SRM Suryadi sepakat akan segera melakukan perbaikan sanksi administrasi tersebut dan akan segera menyampaikan ke atasan untuk menjalankan sanksi yang telah ditandanganinya. “Kami juga berharap pabrik ini terus berjalan, apalagi banyak tenaga kerja lokal di sini yang harus kita pikirkan,” tutupnya.Fen

Hasil Pemantauan DLH Diantaranya:
1. Bahwa perusahaan masih membuang limbah setiap 7 hari sekali.
2. Air limbah dibuang dari kolam 9 ( sembilan ). 
3. Perusahaan memindahkan titik penaatan ( outlet ) dari IPAL kolam 7 ke kolam 9.
4. Air limbah yang dibuang dari IPAL kolam 9 tidak mempunyai izin pembuangan air limbah. 
5. Berdasarkan hasil pemantauan air limbah silakukan oleh perusahaan pada bulan Mei 2018, terdapat beberapa parameter yang melebih baku mutu, yaitu parameter BOD, COD, Nitrogen Total ( N ) dan TSS.
6. Air limbah yang berasal dari claybath dibuang langsung ke media lingkungan melalui saluran drainase pabrik.
7. Terdapat sampah dan sebu seebuk fiber pada saluran drainase pabrik.
8. Perusahaan belum melakukan upaya pemulihan lingkungan hidup, sebagaimana yang telah ditentukan di dalam sanksi tersebut yaitu, belum melakukan restocking ikan di Sungai Rokan.