Viral, Gadis Bule Sudah Mualaf, Jatuh Hati pada Pria Ampenan


riaupotenza.com

MATARAM (RPZ) -- Elan Zack, pria asal Ampenan, Mataram, NTB, mampu membuat gadis bule asal Jerman, Jamine, jatuh hati padanya.

CUKUP sulit mencari kontak Elan Zack. Pria beruntung itu usai resepsi langsung loncat ke Bali. Di Pulau Dewata itu ia memadu kasih dengan istri sahnya, Jasmine.

Sementara secepat kilat pula foto pernikahannya viral. Pernikahan beda negara antara Elan dan Jasmine mengundang takjub netizen. Beberapa rekan Elan segan membagi kontak. Mereka khwatir privasi dan kebahagiaan pasangan baru itu terganggu. “Dia sedang honeymoon di Bali,” kata Chungky Fungky, menolak halus.

Beruntung ada layanan messenger. Aplikasi pesan singkat ala facebook itu cukup menolong. Sekalipun bikin deg-degan. Elan baru membalas siang hari, setelah sejak pagi buta disapa. Itu pun Elan masih meminta waktu. Ia harus menemani Jasmine istirahat. “(Hubungi) 30 menit lagi ya,” pinta Elan.

Tapi 30 menit berubah jadi sekitar 3 jam. Elan ketiduran. Agenda schedule bulan madu dengan Jasmine membuat ia lelah. Elan baru nyambung lagi setelah pukul 4 sore. Selain kisah asmara ia juga bertutur beratnya rintangan hubungan mereka. Sebelum akhirnya sukses menuju pelaminan. “Sebenarnya ndak pernah terpikir (menikahi bule),” ujar ia polos.

Ia berkali-kali menjalin asmara dengan gadis lokal. Tapi semua kandas sebelum sampai di pelaminan. Sejak itu Elan merasa hidupnya seperti katak dalam tempurung. Terlalu sibuk memburu gadis lokal yang tidak pernah siap melengkapi kekurangannya. Akibatnya berulang kali hatinya terluka oleh cinta.

Tapi harapan Elan menyala lagi. Jasmine gadis bule Jerman itu mau menampung gelora cinta rock and roll-nya. Jalinan asmara di antara mereka tumbuh subur bak bunga di musim semi. Bahkan dalam kurun waktu cukup lama. Dua tahun. “Beberapa kali saya ajak Jasmine main ke rumah,” tuturnya.

Elan bermaksud mengenalkan calon istrinya. Tapi sebelum pertemuan terjadi Elan sudah membekali Jasmine. Beberapa budaya timur ia perkenalkan pada calon istrinya itu. Jasmine pun terlihat senang dan antusias. Ia belajar cepat banyak hal. “Terutama tata krama,” detailnya.

Tapi ketika ia dan Jasmine sudah mantap menikah, cobaan datang. Konfik muncul antara keluarganya dengan keluarga Jasmine. Ada benteng yang sangat kokoh. Nyaris gagal ditembusnya. “Ada masalah adat, budaya, dan agama,” ungkapnya.

Tiga hal ini begitu tajam. Melatar belakangi perbedaan ia dan Jasmine. Bayang-bayang kegagalan pun menjejali benaknya. Hingga berdampak pada pasang-surutnya hubungannya. Lebih dari enam bulan persolan ini menggoyang tekadnya. Tak terkecuali keluarga besar Elan keras menyuarakan tidak setuju. Ia mempersunting gadis Jerman.

“Saya tidak pernah membela budaya dia atau budaya saya. Saya selalu nentral,” tegasnya. Dengan keyakinan itu ia menggenggam tangan Jasmine. Ia yakin bisa melewati persoalan ini. Sebuah kalimat filosofi begitu menghujam dalam hatinya. “Niat baik selalu ada jalan,” ujarnya mantap.

Tapi bukannya surut, badai cobaan makin menghebat. Paling berat saat fitnah mendera keyakinannya. Ia dituding rela pindah agama. Hanya untuk menikahi Jasmine. Fitnah ini tidak hanya menyakiti perasaannya. Tapi juga keluarga besarnya.

Elan bertutur. Ibunya terus saja dirundung sedih. Tudingan tanpa bukti kuat itu membuat batin orang tuanya tertekan. Berat! “Namun saya berusaha menegarkan hatinya. Saya bilang percayalah pada anakmu bu,” tuturnya.

Jasmine sebenarnya sudah muallaf, ia memeluk Islam sejak Ramadan lalu. Tapi tidak banyak yang tahu. Ada pula yang malas percaya. Kuatnya tudingan banyak mulut pada akhirnya membuat keluarga besarnya ikut gelisah. Beberapa kali ia ditanya soal yang sama. Elan pun harus mengulang-ulang jawaban serupa. Istrinya akan
mengikuti budaya dan keyakinannya.

“(Saya akui) fitnah ini membuat beban mental saya terasa berat,” akunya.

Sampai akhirnya rintangan itu pun diterbangkan angin. Elan membuktikan ia menikahi Jasmine di bawah kalimat syahadat. Ini membungkam banyak kalimat sumbang yang selama ini menderanya. Juga menguatkan hati keluarganya, mereka tidak salah mempercayakan ini pada dirinya.

Saat ijab Kabul, Jasmine mengenakan pakaian budaya timur. Kebaya warna putih dengan kain melilit pinggang hingga mata kakinya. Tubuhnya yang langsing sukses menghipnotis banyak mata.

Sementara Jasmine, gadis 31 tahun itu, tak henti-henti tersenyum. Ia menikmati prosesi adat timur yang mensahkan pernikahannya dengan Elan. “Maskawin saya tidak banyak. Hanya 1,5 gram emas,” bebernya. (rpz/jpnn)