Tuntut Pemutusan Lampu yang Dilakukan Perusahaan

600 Buruh PT JJP Unjuk Rasa


riaupotenza.com
600 buruh PT JJP melakukan aksi demo. Mereka tidak terima atas kebijakan manajemen perusahaan memutus lampu listrik dan pemutusan air bersih di perumahan mantan Askep 1 Kebun.

KUBA (RPZ) - Ratusan buruh PT Jatim Jaya Perkasa (JJP), Selasa (31/7) pagi menggelar aksi unjuk rasa di depan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT JJP.

Unjuk rasa yang digelar buruh ini, karena mereka tidak terima atas kebijakan yang diambil pihak manajemen perusahaan dengan  memutus lampu listrik penerang dan pemutusan air bersih di perumahan mantan Askep 1 Kebun Sei Bangko PT JJP, Budi Edwin.

Buruh yang mencapai 600 orang ini semakin gerah karena aksi mereka yang sudah berlangsung sejak, Senin 30 Juli 2018 lalu, tidak mendapat tanggapan baik dari pimpinan PT JJP.

Aksi dorong pintu pagar pabrik PKS sempat terjadi, bahkan buruh yang sudah semangkin berang melakukan balap-balapan, colok-colok gas sepedamotor mereka.

Suara buruh yang tergabung dalam organisasi Federasi Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan (FSPPP-SPSI), PT Jatim Jaya Perkasa tersebut, seakan memilik jalan buntu. Karena manajemen PT JJP tidak keluar dari dalam PKS.

Aksis massa ini semakin runyem karena adanya ancaman Manager PKS Catur Hari Pratomo melalu grup Whats App Grup Karyawan melalui sms dengan dengan kalimat. “Sosialisasikan ke seluruh karyawan kali ini, perusahaan akan bertindak tegas, siapa yang mogok tidak bekerja akan dikenakan sanksi tegas PHK”.

Dalam aksi ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian Polsek Kubu dan Polres Rohil, yang secara langsung dipimpin Kapolsek Kubu AKP Syofyan serta didampingi Kasat Intel Polres Rohil, Kasat dan personil lainnya.

“Tututan kami hanya ingin lampu dan air bersih mantan Askep 1 Kebun Sei Bangko PT JJP, Budi Edwin disalurkan kembali. Karena saat ini beliau masih menunggu proses sidang pengadilan PHI Provinsi Riau,” kata Ketua PUK FSPPP-SPSI PT JJP, Mongoloi Manullang kepada riaupotenza.com disela-sela aksi unjuk rasa.

Lanjut Mongoloi Manullang, terjadinya aksi unjuk rasa tersebut, merupakan solidaritas mereka sesama anggata FSPPP-SPSI. 

“Kebetulan pak Budi Edwin ini salah satu dari anggota FSPPP-SPSI,” ujarnya.

Diteragakan Mongoloi Manullang, mantan Askep 1 Kebun Sei Bangko PT JJP tersebut, dipecat pada tahun 2017 silam oleh perusahaan dan saat masih mengikuti proses sidang di Pengadilan  Hubungan Industrial (PHI) Provinsi Riau.

“Sebelum ada putusan dari PHI, maka segala fasilitas yang diberikan kepada karyawan itu, tidak boleh diambil perusahaan. Jadi kita juga merasa heran kenapa manajemen perusahaan melakukan pemutusan, tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan (Budi Edwin),” terangnya.

Menurut Mongoloi Manullang, pihaknya akan terus melakukan aksi tersebut, sebelum adanya keputusan dari pihak manajemen prusahaan. “Kami tidak akan hentikan aksi ini, sebelum ada keputusan dari manajemen perusahaan, jika perusahaan bersedian menyampubung kembali lampu itu, maka kami bersedia kembali masuk kerja,” ancamnya.

Humas PT JJP, Firdaus ketika dikonfirmasi riaupotenza.com melalui via teleponya di sela-sela unjuk rasa mengatakan, masih dalam rapat dan belum memberikan komentar apapun terkait tuntutan aksi buruh tersebut hingga berita ini diturunkan. “Abang masih rapat, tunggu bentar ya,” pungkasnya mengahiri sambil menutup telpon.Zul