Reklame Oppo Dibongkar, Di Meranti PAD Reklame Surplus


riaupotenza.com
Ilustrasi

SELATPANJANG(RPZ)-Masuk pada awal triwulan ke III, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari objek pajak reklame surplus dari target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti.

"Surplus, saat ini pendapatan dari pajak reklame telah melebihi, yakni sebesar 110,7 persen dari target yang ditetapkan pada awal tahun anggaran 2018 lalu," ungkap Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Ery Suhairi, Rabu (25/7/18). 

Walaupun surplus, Ery tetap optimis peningkatan pendapatan pajak reklame akan terus gigenjot agar bertambah atau terus mengalami peningkatan yang signifikan.

Langkah itu diambil mengingat masih ada pengisaha yang reklame bersipat tetap belum melunasi kewajiban mereka atau jatuh tempo. Namun menurutnya tetap akan ditindak melalui surat secara tertulis hingga proses pembongkaran.

Untuk reklame yang bersipat insidental terus dipantau oleh pihaknya, jika tidak taat dengan aturan, ia mengaku tidak segan untuk melakukan langkah yang sama. 

Seperti beberapa hari sebelum ini, diungkapkan Ery, pihaknya telah melakukan penindakan penertiban terhadap satu produk yang tidak taat pajak. 

Adalah promosi produk Oppo. Tanpa kompromi, baleho berukuran besar yang terpajang di Jl. Imam Bonjol  langsung dibongkar paksa dari tempatnya. 

"Baliho ini kita bongkar karena tidak taat pajak", tambah Eri Suheri didampingi Kabid Pajak dan Retribusi Agib Subardi yang ditemui di ruang kerjanya.

Menurut Eri Suheri, pihaknya juga tidak mau bertindak seperti itu jika pemilik usaha taat dengan ketentuan yang berlaku (taat pajak). 

"Sebelum melakukan pembongkaran, kami juga telah menyurati pemilik usaha. Setelah teguran petama dan kedua tidak diindahkan, barulah selanjutnya dilakukan pembongkaran," ujarnya.

Selain papan reklame, dia juga mengimbau pemilik gudang dan walet agar taat pajak. Khusus gudang, ia meminta pemilik segera memasang pasang plank. 

Sedangkan kepada pemilik usaha walet berkaitan dengan pajak dan retribusi yang hingga saat ini usaha tersebut belum memberikan keuntungan bagi daerah.(Wira)