Ajaran Baru, Sistem Doble Sift Dan FDS Disorot Dewan


riaupotenza.com
Ilustrasi

SELATPANJANG(RPZ)-Ketua Komisi III Kabupaten Kepulauan Meranti, Basiran, meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti segera melakukan monitoring terhadap sekolah yang melaksanakan penerimaan siswa baru lebih dari kemampuan daya tampung. 

Menurut Basiran hal itu akan berakibat fatal jika dibiarkan seperti tahun tahun sebelumya sehingga masih ada sekolah yang menerapkan pola doble sift. 

Dan praktek tersebut dinilai akan berdampak pada sekolah yang minim peminat sehingga menyebabkan kekurangan murid dan jam ajar bagi pendidik. 

"Kami tidak mau hal itu terjadi secara berlarut larut. Hampir tidak ada penangan ekstra dari dinas terkait. Untuk itu kami meminta seperti dinas Pendidikan Meranti dan Provinsi Riau harus melakukan monitoring sekaligus pengawasan terhadap hal tersebut," ungkapnya, Kamis (5/7/18) kemarin. 

"Masih ada beberapa SD hingga SMA yang menerapkan sistem tersebut, dan itu tidak bisa dibiarkan," tambahnya. 

Selain menyorot masalah itu, ia juga mengaku telah bertandang ke Ditjet Dikdasmen untuk mempertanyakan sistem Fullday Scool (FDS), yang kerap membuat orang tua atau wali murid resah. 

Berdasarkan laporan yang diterima dari ketua forum komite seluruh Meranti, mereka menolak atas sistem itu, menurut mereka tidak ada satu pun sekolah di Meranti layak menjalankan pola FDS tersebut. 

"Makanya kemarin kami mendatangi pemerintah pusat. Disana mereka menerangkan belum ada aturan baku tentang penerapan sistem FDS. 

Menurut mereka FDS tidaklah wajib, disamping itu tidak juga dilarang bagi sekolah sekolah yang dirasa mampu dengan fasilitas laik," ujarnya. 

Menjawab keinginan komisi III DPRD Kepulauan Meranti, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kepulauan Meranti memang tidak memperkenankan sekolah-sekolah di bawah pembinaan dinas menggunakan sistem jam belajar double shift.

Untuk mengantisipasi adanya sekolah yang menerapkan sistem tersebut, pihak Disdikbud Meranti telah melakukan monitoring ke sejumlah sekolah.

"Kita lihat murid yang mendaftar dan berapa daya tampung sekolah, jika melebihi data tampung berarti berpotensi sekolah menerapkan double shift," ujar Kasi Peserta Didik Disdikbud Kabupaten Kepulauan Meranti, Marlina Dewi SE.

Ia juga menjelaskan sistem zonasi yang diterapkan saat ini akan meminimalisir pihak sekolah dalam memakai sistem double shift.

Lagipula kata dia, daya tampung yang disediakan saat ini sudah sangat mencukupi peserta didik baru.

Melihat data kelulusan lalu, hanya sebanyak 3.462 orang dari SD negeri yang akan mendaftar ke SMP negeri.

Sedangkan daya tampung yang tersedia untuk murid baru tingkat SMP negeri kata Marlina, mencapai 3.104 orang.

"Sisanya kan nanti bisa dibantu oleh sekolah swasta. Lagipula sekarang orangtua lebih cenderung memilih anaknya mendaftar di MTs," ujarnya.(Wira)