Warga Berharap Penegakan Hukum Tidak Tebang Pilih

Pemilik Galangan Kapal Diduga Dalang Ilegal Loging


riaupotenza.com
Ratusan kubik kayu ilegal di galangan kapal milik Alek, warga Rohil yang beroperasi di Desa Kudam, Tasik Putripuyu, Kepulauan Meranti.

SELATPANJANG--Pengungkapan kasus ilegal loging di Kabupaten Kepulauan Meranti, sepertinya tidak berlaku bagi pemilik galangan kapal. Walaupun tidak memiliki izin usaha dan jelas-jelas salah karena menampung kayu hutan secara ilegal, para pengusaha galangan tetap tak tersentuh hukum.

Persoalan itu pula yang membuat warga kesal dan meminta aparat kepolisian bersikap adil dalam menangani kasus ilegal loging. "Jika memang tidak dibolehkan mengambil kayu hutan, benar-benar ditindak tegas dan jangan setengah-setengah. Kalau masyarakat kecil yang menebang kayu pasti ditangkap. Tapi kalau pemilik usaha galangan kapal malah dibiarkan," kata Nizam, salah seorang warga Selatpanjang yang mengaku pernah bermasalah dengan hukum ketika menggeluti usaha ilegal loging.

Kekesalan Nizam bukan tanpa alasan. Gara-gara bekerja mengambil upah sebagai penebang kayu, dirinya pernah dihukum beberapa bulan penjara di Lapas Bengkalis, ketika Meranti belum dimekarkan. Sejak itulah ia berhenti mengambil kayu hutan walaupun hasilnya sangat menggiurkan.

Menurut pandangan Nizam, sebenarnya antara pemilik usaha galangan kapal dengan penebang kayu (pelaku pembalakan liar) tidak ada bedanya. Jika warga sebagai penebang dituduh mencuri, maka pemilik usaha galangan kapal juga bisa disebut penadah karena menampung kayu secara ilegal.

"Tapi mengapa pemilik usaha galangan kapal tidak pernah ditangkap dengan tuduhan menampung kayu ilegal. Sehingga kesan yang timbul bahwa mereka itu kebal hukum. Tapi kalau masyarakat kecil yang nebang kayu langsung ditangkap, tanpa ampun. Hukum seperti apa ini," ucap Nizam lagi.

Dia berharap, instansi terkait tidak tebang pilih dan bisa berlaku adil kepada masyarakat dalam penegakan hukum ilegal loging. Sehingga, masyarakat kecil seperti dirinya juga bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan lebih.

"Masyarakat kecil seperti kami kalau mengambil kayu di hutan bukan untuk cari kaya. Pekerja itu kami lakukan karena tidak adanya pekerjaan lain. Beda dengan pemilik usaha galangan kapal, jelas-jelas mereka cari kaya karena kapal yang dibuat dari kayu ilegal tersebut untuk dijual," tambah Nizam.

Pernyataan pria bertubuh jangkung tersebut juga sangat sesuai dengan kenyataan di lapangan saat ini. Berdasarkan penelusuran Pekanbaru MX, hampir seluruh galangan kapal yang ada Kepulauan Meranti menampung kayu ilegal. Bedanya hanya pada cara memasukkan kayu tersebut ke galangan. Ada yang berani menggunakan jalur darat (gerobak) ada juga melaluinjalur laut.

Khusus galangan kapal yang berada di Kota Selatpanjang (sebagian besar berada di pinggir pantai Selat Airhitam), biasanya memasukkan kayu ilegal dalam jumlah banyak dengan cara membuat seperti rakit dan menenggelamkannya. Cara ini terkesan agak rapi. Sebab, puluhan kubik kayu yang telah dirakit tersebut ditarik dengan kapal atau dengan cara dibawa menggunakan campang oleh pekerja.

Waktu membawanya pun biasanya saat malam hari, sehingga tidak terkesal mencolok. Cara kedua ini sebenarnya sangat berbahaya bagi pekerja karena di daerah ini sangat banyak buaya muara yang terkenal ganas. Namun, nasib mereka selalu baik walaupun membahayakan nyawa.

Sedangkan galangan yang berada di pulau agak jauh dari pusat kota, bisa membawa dengan berbagai cara. Ada yang ditarik pakai gerobak dan ada pula yang dibawa menggunakan pompong.

Seperti halnya galangan kapal yang berada di Desa Kudap, Kecamatan Tasik Putripuyu. Baru beberapa bulan beroperasi, pemilik galangan dengan santai memasukkan ratusan kubik kayu ilegal secara terang-terangan tanpa adanya tindakan.

Anehnya lagi, aparat kepolisian setempat yang dikonfirmasi juga tidak mengetahui adanya ratusan kubik kayu ilegal yang sedang menumpuk di galangan kapal milik Alek, warga Rokan Hilir tersebut.

"Terima kasih pak infonya, nanti kita suruh anggota cek di lapangan," jawab Kapolsek Merbau Iptu Roemin Putra ketika dikonfirmasi pekan lalu. Namun, sampai saat ini belum ada informasi lanjutan darinya tentang kayu hutan yang ditampung di galangan tersebut. Termasuk penindakan yang dilakukan terhadap pemilik galangan karena memakai kayu hutan yang ditampung secar ilegal.(Syamsidir)