9 ABK dan Kapten Diamankan

Dua Kapal Nelayan Sumut Dibakar


riaupotenza.com
Sembilan ABK asal Sumut yang kedapatan menangkap Ikan di perairan Rohil dan kini dibawa ke Pos TNI Al Panipahan.

PANIPAHAN (RPZ) - Dua unit kapal nelayan Sumatera Utara (Sumut) ludes dibakar nelayan Panipahan. Pasalnya para nelayan ini melanggar dengan menangkap ikan di perairan Rokan Hilir. 

Demikian dikatakan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Rokan Hilir, Murkan, Selasa (22/5). “Maraknya aksi Illegal Fishing dan kurangnya perhatian dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) membuat nelayan tradisonal Panipahan berang sehingga terjadi aksi pembakaran kapal,” kata Murkan.

Murkan memaparkan bahwa telah terjadi aksi anarkisme yang dilakukan oleh nelayan tradisional Panipahan Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika). Dipicu maraknya kegiatan penangkapan ikan secara illegal (illegal fishing) oleh nelayan asal Sei Berombang, Labuhan Batu, Sumatera Utara dengan menggunakan alat tangkap terlarang.

Kegiatan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan Panipahan pada Senin 21 Mei 2018 pukul 21.00 WIB di peraian Panipahan.

Nelayan membakar hangus 2 buah kapal dan kini sebanyak 9 orang ABK beserta kapten dan alat tangkap berhasil diamankan oleh nelayan dan lagsung diserahkan ke PSDKP Panipahan. Saat ini posisi 9 orang ABK dan kapten berada di POS TNI AL Panipahan. 

HNSI mengintruksikan secara tegas terhadap PSDKP agar jangan tutup mata dan telinga terhadap kegiatan illegal fishing yang terjadi di perairan Panipahan.

“Aksi pembakaran ini karena nelayan kita kehabisan kesabaran karena hasil tangkap yang berkurang karena maraknya Illegal Fishing di wilayah Panipahan. Jadi kita sangat berharap ada tindakan tegas dari pihak terkait,” kata Murkan.

Sampai saat ini sembilan orang nelayan yang berasal dari Sumut masih berada di Pos TNI Al dan belum tahu kelanjutannya, apakah akan dipulangkan atau menunggu kooordinasi dengan pihak Pemda Labusel.

“Ketika ada kejadian ini harusnya PSDKP tindak cepat, jika tidak sanggup mengemban amanah, lepaskan dan bubarkan saja PSDKP yang ada. Segera lakukan patroli dan pengawasan biar nelayan kita tidak resah sehingga dapat melaut dengan damai dan tenang,” pungkasnya.

Sementara itu petugas PSDKP Panipahan Rudi mengatakan, bahwa memang benar telah terjadi pembakaran kapan asal Sumut oleh nelayan Panipahan. Ia juga menegaskan bahwa alat tangkap Troll Mini memang masuk dengan alat tangkap yang dilarang.

“Tadi malam ada rencana nelayan mau menyerahkan kepada kita secara tertulis namun kita masih ragu karena terjadi pembakaran. Apakah menjadi ranah kita atau ranah kepolisian dan inilah yang tengah kita koordinasikan,” terangnya.

Meskipun diakuinya tetap menerima sembilan nelayan asal Sumut tersebut dan diamankan di Pos TNI Al. Sedangkan alat tangkap sebagai barang buktinya diamankan di fudang PSDKP Panipahan. “Selanjutnya akan kita bawa ke Bagansiapiapi ke PSDKP di Bagansiapiapi bersama Polair untuk tinda lanjutnya mau dibawa kemana para nelayan ini.” pungkasnya.Der