Menyusuri Indahnya Pulau Jemur (Bagian 2)

Pulau Jemurku Sayang, Pulau Jemurku Malang...


riaupotenza.com
Foto: Najib, Dermaga apung Pulau Apung menambah suasana keindahan Pulau Aruah. Saat berada di atas dermaga apung ini, kita serasa masih di atas kapal karena bergoyang-goyang dihempas gelombang pantai

SAMBIL terus menemani riaupotenza.com menyusuri puncak Pulau Arwah, Pak Dayat yang bertugas dari satu pulau ke pulau lain di Provinsi Riau dan Kepulaan Riau masih dengan beban yang sama menyangkut Navigasi, Pulau Jemur tak asing lagi buatnya. Baginya, Pulau Aruah, Pulau Jemur, Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik, Pulau Batu Mandi, Pulau Sarang Elang, serta pulau-pulau kecil lainnya di Kabupaten Rohil itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Suka dan duka banyak ia kisahkan di tempat itu.


“Dari puncak Pulau Aruah inilah kita bisa memandang luas Pulau Jemur, Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik, Pulau Batu Mandi, Pulau Sarang Elang, serta pulau-pulau kecil lainnya. Makanya pusat aktivitas Pos Penjagaan Pangkalan TNI AL Dumai dan Distrik Navigasi Kelas I Dumai dilaksanakan. Kalau Pos Diskanlut di Pulau Tekong Emas. Meski agak berjauhan dengan kami, tetapi dengan petugas Diskanlut Rohil kami tetap menjaga kekompakan. Intinya bagaimana pun kami tetap menjaga pulau-pulau ini,” sebut Dayat diamini Pak Paul rekan seprofesinya.


Bagi Dayat dan Paul, semakin banyaknya wisatawan berlibur ke Pulau Jemur, maka kejenuhan mereka pun terobati. “Seperti kehadiran anda di sini. Kami sangat senang. Bisa membuat kesunyian kami terobati dan pastinya kami terhibur. Anda bisa menikmati indahnya panorama gugusan pulau-pulau terluar di Indonesia. Malahan, kebanyakan orang yang sudah berkunjung ke sini menyatakan puas dan mereka ingin kembali berlibur ke Pulau Jemur,” sambung Paul yang tak lama lagi pesiun dari tugas kesehariannya.


Ya, di puncak Pulau Aruah ini mata kita tak hanya dimanjakan indahnya sejumlah pulau yang ada. Rindangnya pepohonan menambah keasrian hutan dan semak belukar di lorong jalan terjal menadaki dari Dermaga Apung yang dibangun Pemkab Rohil. Tentunya, suasana itu memicu adrenalin pengunjung untuk naik ke atas puncak Pulau Aruah. Karena, di atas puncak itulah kita dapat melihat segala macam aktifitas nelayan di atas permukaan laut biru. Malahan, kapal-kapal tanker dari Malaysia, Singapura, Thailland dan lainnya berseliweran setiap harinya melakukan aktifitas ekspor-impor berbagai kebutuhan warga pesisir.


“Lebih dekat dari Malaysia ketimbang Bagansiapiapi jika ingin menuju ke pulau ini. Mungkin itu salah satu penyebabnya Malaysia sempat mengklaim Pulau Jemur bagian dari wilayahnya dan dimasukkan dalam daftar paket kunjungan wisata negeri mereka. Bisa jadi dikira Malaysia pulau-pulau ini tidak ada penghuninya. Padahal meski kami berjaga secara bergantian tetapi pulau-pulau di sini tetap ada aktivitas,” sambung Dayat tersenyum yang sudah bertugas di Pulau Jemur sejak tahun 1988 meski setiap 3 bulan pindah tugas lagi dari satu pulau ke pulau lain di Provinsi Riau dan Kepri.


Perputaran Dayat kembali menginjakkan kakinya ke Pulau Jemur dan menjalani rutinitas 3 bulan sebelum pindah ke pulau lainnya dijalani dengan suka dan duka. Harapan Dayat pulau yang indah ini memiliki jaringan komunikasi telepon.


“Sejak tahun 1988, perputarannya 1,5 tahun saya pasti kembali bertugas di sini selama 3 bulan. Malangnya kami di sini tidak bisa komunikasi dengan keluarga dan siapa pun lewat telepon dan handphone. Inilah harapan kami supaya Pemkab Rohil benar-benar memikirkan bagaimana caranya ada jaringan telepon,” harapnya.


Sebab, sambung Dayat dan Paul, radio SSB atau single side band yang mereka gunakan pun sering tidak bisa difungsikan dengan baik. “Radio SSB juga susah. Lebih sering suara kita tidak bisa didengarkan dengan jernih oleh Kantor Navigasi Dumai, tetapi suara mereka bisa kita dengar dengan jelas. Itu pun sesekali. Makanya kalau pemerintah membangun jaringan komunikasi seperti tower telekomunikasi akan sangat bagus dan bisa menjadi dukungan infrastruktur bagi wisatawan,” ungkap Paul.


Mendengar tower telekomunikasi, seketika mata Dayat berkaca-kaca karena dirinya pernah mengalami hal buruk akibat tidak bisa komunikasi dengan anak dan istrinya selama bertugas di Pulau Jemur. “Anak saya pernah kena siram air panas dan melepuh. Itu pun saya ketahui begitu giliran jadwal saya pulang ke Dumai setiap 15 hari sekali dalam sebulan. Saat itu saya masih di pulau ini melaksanakan tugas. Begitu sampai di rumah, anak dan istri saya menangis sejadi-jadinya karena saya tidak bisa menemani buah hati saya saat dirawat di rumah sakit. Beruntung kondisinya terus membaik hingga saya bisa ketemu anak saya sudah dirawat di rumah,” kenang Dayat dengan bibir bergetar.


Rintangan lainnya yang dihadapi Dayat, ia pun pernah mengalami kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya akibat gigitan ular berbisa. Dayat lagi-lagi masih diberi kesempatan terbebas dari malapetaka. “Makanya saya tidak mau mengajak atau mengiyakan wisatawan terlalu lasak masuk ke hutan pulau ini. Karena banyak ular berbisa. Saya saja yang sudah menjadi bagian dari pulau ini terkena gigitan ular, apalagi orang yang jarang menginjakkan kakinya di sini. Di bawah rerimbunan hutan Pulau Aruah ini memang ada dua Goa Jepang dan cagar budaya lainnya, tetapi kami tidak mau menunjukkannya karena takut serangan ular berbisa, bukan karema mistis atau lainnya,” ungkap Dayat.


Untuk itulah, Dayat dan Paul berharap Pemkab Rohil benar-benar menggarap Pulau Jemur menjadi objek wisata andalan di Riau. “Saya dengar Bupati Rohil H Suyatno memprogramkan pembelian kapal bermuatan 150 orang sebagai sarana transportasi Bagansiapiapi-Pulau Jemur. Kalau ini terpenuhi, kami yakin tingkat kunjungan wisatwan ke pulau ini akan meningkat tajam. Coba saja bayangkan indahnya sejumlah gugusan pulau ini. Apalagi di atas puncak Pulau Aruah ini juga ada lapangan helipad untuk kepentingan operasi di laut sewaktu-waktu. Malahan bukan hanya wisatawan saja yang sudah berkunjung ke tempat ini. Banyak para pejabat sering melakukan peninjauan perbatasan di lokasi ini. Bahkan, tidak hanya mantan Gubernur Riau H Annas Maamun serta Bupati Rohil saat ini H Suyatno, kemudian sejumlah anggota DPR RI, DPRD Riau dan Rohil saja yang berkunjung. Mantan Gubernur Sumatera Utara almarhun HT Rizal Nurdin juga sudah menginjakkan kakinya empat kali ke Pulau Jemur,” beber Dayat dan Paul. (najib) BERSAMBUNG.............