Desakan Kadis dan Instruksi Gubernur Dalam Pembangunan Tugu Integritas


riaupotenza.com
2 orang saksi dimintai keterangannya dalam sidang lanjutan dugaan korupsi pembangunan RTH Tunjuk Ajar Integritas.

PEKANBARU (RPZ) - Pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK) proyek pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas, di Jalan Ahmad Yani, Pekanbaru, Yusrizal, menyebutkan bahwa pembangunan Tugu Integritas tidak ada dalam perencanaan awal. 

Tugu itu dibangun atas perintah Kepala Dinas (Kadis) Cipta Karya  Tata Ruang dan Sumber Daya Manusia (Ciptada) Riau, Dwi Agus Sumarno, yang jadi terdakwa dalam kasus dugaan korupsi RTH.

Hal tersebut dikatakannya dalam sidang lanjutan dugaan korupsi pembangunan RTH Tunjuk Ajar Integritas, di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Senin (14/5).

“Perintah kadis,” ujar Yusrizal ketika hakim ketua, Bambang Myanto SH MH saat mempertanyakan dasar pembangunan Tugu Integritas yang tidak ada dalam perjanjian kontrak.

Dalam keterangannya sebagai saksi, sebenarnya ia dan sejumlah panitia lelang tidak menyetujui ada penambahan tugu senilai Rp425 juta tersebut karena tidak masuk item pekerjaan.

“Kadis bilang itu harus dibangun,” ucapnya. 

Mendengar keterangannya tersebut, hakim ketua Bambang langsung bertanya kepada saksi, apakah hal itu dilaporkan Yusrizal ke Tri Riswanto, sebagai peneliti kontrak. 

Yusrizal menjawab, hanya menyampaikan terkait  pembangunan tugu itu silahkan ditanyakan langsung kepada kepala dinas. Hakim ketua lalu mempertanyakan hal itu kepada Tri.

“Apakah saudara ada bertanya kepada kepala dinas.  Ada ditanyakan, kalau itu tidak masuk dalam perjanjian kontrak. Penjelasan Pak Dwi yang bagaimana hingga saudara mau,” tanya Bambang.

Mendengar hal itu, Tri terdiam sesaat. Lalu dia menjawab dengan tersendat.

“Ada. Bukan kerjaan baru tapi masuk dalam pekerjaan,” ucap Tri.

Dikatakan Tri, selain tugu juga ada pekerjaan tempat sampah dan pengecatan.

“Pak Dwi bilang ada dibebankan di lapangan. Jumlah itu sudah masuk perencanaan dan pemasangan,” kata Tri. 

Hakim anggota Khamazaro Waruwu SH MH dan Suryadi SH MH mengingatkan para saksi untuk bertindak cermat dalam mengerjakan suatu proyek. Dia kembali mempertanyakan kepada Yusrizal kenapa mau menerima pembangunan tugu.

“Kata beliau (Dwi) karena ada instruksi gubernur,” ucap Yusrizal. 

Hakim anggota Waruwu langsung menyebutkan kalau saksi tidak perlu menutup-nutupi kebobrokan di proyek RTH itu.

“Kalau cara teliti kontrak seperti ini, tidak hanya RTH tapi juga terjadi di proyek lain (dikorupsi),” terang Waruwu. 

Selain Dwi, dalam sidang ini, juga duduk terdakwa Yuliana J Baskoro.  Dwi didakwa  memerintahkan anak buahnya memberikan proyek kepada Yuliana. 

Dari proyek yang didapat, Yuliana menjanjikan memberikan fee sebesar 1 persen. Dwi memerintahkan anak buahnya menanyakan fee tersebut dan Yuliana memberikan sebesar Rp80 juta lebih untuk Dwi.ppg