Terkait Lokasi Pembangunan Pelabuhan Jetti di Kubu

Kadis DLH Akui Perusakan Hutan Mangrove


riaupotenza.com
Kondisi lahan tempat dibangun Pelabuhan Jetti di Kubu.

KUBU (RPZ) - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kabupaten Rokan Hilir Suwandi mengakui bahwa terjadi perusakan hutan mangrove di lokasi pembangunan Pelabuhan Jetti di bibir pantai perairan Sungai Kubu, Kelurahan Teluk Merbau, Kecamatan Kubu.

Banyak ditemukan kayu mangrove yang dipotong-potong dengan menggunakan alat berat serta terjadi penggalian di lokasi hutan mangrove saat pembuatan Jetti.

Pelabuhan Jetti itu dibangun sejak tahun 2016 silam oleh PT MAM, pada saat itu PT MAM sebagai pemenang projek pembangunan beton rigid Jalan Lintas Pesisir Kecamatan Kubu. 

Kadis DLH Rohil Suwandi mengatakan, secara langsung melihat lokasi pembangunan Pelabuhan Jetti yang berada di bibir pantai perairan Sungai Kubu yang diduga sebagai hutan mangrove. “Kita lihat tadi ada terjadi perusakan di lapangan, dengan memotong-motong mangrove yang ada di pinggiran sungai,” kata Kepala Dinas DLH Rohil Suwandi kepada riaupotenza.com, Kamis (12/4).

Lanjut Suwandi, akibat perusakan hutan mangrove tersebut, maka tidak menutup kemungkinan menimbulkan dampak bagi lingkungan, terutama akan terjadinya erosi, dan abrasi. “Yang jelas akan terjadi erosi, kemudian mangrove ini sebagai habitat hewan tempat perlindungan ikan berkembang biak, tapi bagaimana dampak lebih besarnya akan kita coba kaji dulu,” jelasnya.

Suwandi mengatakan, pihaknya akan melihat titik kordinat lokasi pembuatan Pelabuhan Jetti tersebut, apakah lokasi pembangunan Jetti masuk hutan terlarang atau tidak. “Kalau Jetti ini dibangun diatas hutan yang tidak diperbolehkan negara maka otomatis akan dikembalikan fungsinya sebagai hutan mangrove,” tegasnya.

Dikatakan Suwandi, bagi pihak PT SAS yang saat ini memanfaatkan Pelabuhan Jetti diperbolehkan untuk melaksanakan aktifias sebagaimana biasanya. Sebelum ada titik terang dari kasus tersebut. “Paling lama selama dua minggu kedepan kita akan mendapatkan hasil, selagi dalam penyelidikan boleh siapa saja yang melaksanakan aktifitas di Pelabuhan Jetti ini,” ujarnya.

Menurut Suwadi, masyarakat yang mempermasalakan Pelabuhan Jetti tersebut, bukan karena alergi masuknya pembangunan di kampung mereka akan tetapi mempersoalkan perusakan lingkungan yang terjadi mengingat kelangsungan masa depan anak-anak mereka. 

“Pada intinya, masyarakat tidak menolak pembangunan masuk, tapi di sini yang dipersoalkan tentang perusakan lingkungan. Apapun bentuk pembangunan yang masuk tetap didukung, tetapi pelaksanaan pembangunan tidak boleh merusak lingkungan yang ada,” pungkasnya.Zul