Langsung Penuhi Janji, Syamsuar “Menghadang” Banjir di Inhu


riaupotenza.com
Cagub Riau, Syamsuar saat meninjau banjir di Desa Tanjungdanau, Inhu.

INHU (RPZ) -- Calon Gubernur Riau, Drs H Syamsuar MSi, langsung memenuhi hajat masyarakat Desa Tanjungdanau, Kecamatan Rakit Kulim, Indragiri Hulu (Inhu), meninjau lokasi banjir yang dikeluhkan warga ketika dia melakukan kampanye dialogis. Setiba di lokasi banjir, Syamsuar langsung saja melepaskan sepatunya dan menyinsing celana, kemudian “merapah” alias berjalan di air banjir yang tingginya sudah hampir mencapai lututnya.

Syamsuar juga menegur anak-anak yang menjadikan banjir sebagai wahana bermain, berenang, agar tidak berlama-lama berembang di air yang bisa menimbulkan penyakit. Tal hanya itu, pasangan capon nomor urut 1 ini juga meminta agar anak-anak berhati-hati. Syamsuar juga sempat berbincang dan bersalaman dengan sekelompok anak muda yang kelihatan baru saja
bermain-main dengan air banjir. Saat itu, Bupati Siak ini sempat bertanya apakah mereka tidak sekolah?

“Sudah pulang, Pak. Kami di sini hanya main-main saja sambil melihat ketinggian air banjir ini,” kata salah seorang anak muda di atas sepeda motornya. Mantan Kades Desa Tanjungdanau, Muhammad Rajini, yang “menantang” Syamsuar untuk meninjau lokasi banjir, berdecak kagum dengan calon pemimpin Riau ini.

Kepada Syamsuar, Rajini menyampaikan keluh kesah. Katanya, jika banjir seperti yang dialami warga pada saat ini, maka mereka tidak bisa berkerja. Apalagi lahan pertanian juga ikut kebanjiran. Sedangkan anak-anak sekolah di Desa Tanjungdanau, kata Rajini, bila banjir seperti saat ini diungsikan ke rumah saudara yang tidak banjir dan berdekatan dengan sekolah.

“Untuk bisa sampai ke Desa Tanjungdanau ini kan 3 kilometer dari bibir jalan besar, dan desa ini berada di bibir Sungai Indragiri, sementara gedung sekolah berada di jalan besar,” kata Rajini.

Banjir yang melanda Desa Tanjungdanau yang diakibatkan curah hujan yang tinggi dan meluapnya Sungai Indragiri ini, semakin mengkhawatirkan Rajini, terutama masalah kesehatan. Pasalnya, Puskesmas setiap hari hanya buka setengah hari. “Dulu alasannya karena tidak ada listrik, sekarang sudah ada listrik begitu juga. Kalau warga sakit pada saat sore hari ataupun malam hari, susah mau berobat. Apalagi saat ini banjir,” ungkap Rajini.

Menurut Rajini, warga Dusun 1, Desa Tanjungdanau yang dihuni 60 kepala keluarga, kondisi banjir lebih parah dan perlu cepat penanganan banjir.


Korban banjir di Inhu.
Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Daerah (KPBD) Indragiri Hulu, Indra T mengatakan, salah satu pemicu banjir adalah tingginya curah hujan beberapa hari belakangan. Hal itu berimbas debit air sungai Indragiri naik mencapai 6,11 meter.

Di beberapa titik permukaan yang rendah terjadi luapan. Curah hujan turut memperparah banjir. Hampir semua desa di Kecamatan Batang Cenaku kena banjir. Indra merincikan, banjir yang terjadi di Kecamatan Peranap, seperti di Desa Pematang 10 rumah terendam, dan Desa Pematang Benteng 35 rumah kebanjiran.

Sementara di Kecamatan Batang Peranap banjir melanda Desa Setako Raya sebanyak 259 rumah yang terendam, di Desa Pauh Ranap sebanyak 59 rumah.

Sedangkan di Kecamatan Kelayang terdiri dari Desa Pulau Sengkilo yang terendam banjir sebanyak 10 rumah, akses jalan yang menghubungkan Desa Koto Medan Senkilo Dusun Tua Pelang, Teluk Sejua Desa Pasir Beringin, putus. “Terparah di Kecamatan Batang Cenaku antara lain di Desa Anak Talang, Kepayang Sari dan Kilan sebanyak 50 rumah dan jembatan Desa Anak Talang rusak berat,” kata Indra.

Sedangkan di Kecamatan Seberida antara lain di Desa Bandar Padang sebanyak 350 rumah terendam air, satu unit Taman Kanak-kanak, dan SDN 003 Beligan. Di Kelurahan Pangkalan Kasai Dusun Aur Kuning sebanyak 53 rumah, di simpang tiga sebanyak 31 rumah dan satu SDN 001 Seberida. “Untuk Kecamatan Rakit Kulim satu unit jembatan penghubung Desa Kuantan Tenang, Batu Sawar dan Desa Petonggan putus. Untuk pembangunan akan diusulkan dari penanggulangan bencana pusat,” terang Indra.

Pasca banjir, personel KPBD Pemkab Inhu ikut siaga dengan membuat Posko di setiap titik musibah banjir. Sementara itu, Kepala Desa Pring Jaya, Zainal, mengatakan jembatan yang terbuat dari kayu di desa mereka hanyut terbawa arus sungai. Dia menyebutkan, jembatan itu satu-satunya akses untuk keluar dari desa menuju kota kecamatan.

“Kalau menempuh jalan lain, jaraknya bisa mencapai lima kali lipat lebih jauh dari jalur biasanya. Karenaharus melintasi kebun kelapa sawit milik perusahaan,” kata Zainal. (alz/rpz)