Sekolah Rusak Bikin Guru Di Meranti Khawatir dan Trauma


riaupotenza.com
SMP Negeri 1 Pulau Merbau

SELATPANJANG(RPZ)-Sebanyak 1.263 ruang belajar SD dan SMP yang tersebar di Kepulauan Meranti mengalami rusak ringan, sedang, hingga rusak berat.

Seperti yang terjadi di SMP N I Pulau Merbau, Kepulauan Meranti, yang plafon-nya yaris ambruk termakan usia. Prihal itu diungkapkan Suratno sebagai kepala sekolah, kepada Pekanbaru Pos, Kamis (13/4/18) siang. 

Suratno menilai kondisi itu sangat wajar. Dari informasi yang ia terima, sejak sekolah itu dibangun sekira 1980 silam, sama sekali belum direstorasi kondisi atau struktur bagunannya. 

"Memang saya kira sangat wajar jika kondisi gedung sekolah itu pada lapuk semua. Bayangkan saja, dari info yang saya terima, sekolah itu dibagun era 80an. Sama sekali belum tersentuh perbaikan, " ungkapnya. 

Dampaknya, rasa khawatir akan runtuhnya plafon ruang belajar terus menghantui seluruh guru saat masuknya masa ajar. 

"Kondisi gedung memang sudah tidak layak. Dengan kondisi plafon yang lapuk, saya dan para guru sangat khawatir akan menimbulkan korban."ujarnya

Tambah Suratno lagi, sekolahnya itu sudah mendapat kunjungan dari pihak kementerian dan instansi terkait. 

"Sudah dikunjungi sama orang kementerian dan dinas terkait Desember 2017 lalu. Kabarnya kemarin mau di rehab, namun sampai saat ini belum ada kabar," ujarnya.

Kondisi yang sama juga terjadi di SDN 3 Desa Sialang Pasung, Kecamatan Rangsang Barat, Kepulauan Meranti. Meskipun dibangun permanen, sejumlah bagian gedung SD tersebut juga terlihat keropos.

"Tiang-tiang sekolah sudah rontok. Rangka besinya ada yang sudah putus. Padahal bangunan ini baru berusia 15 tahun," ujar Kepala Sekolah SDN 03 Sialang Pasung, Rahmah, beberapa waktu lalu. 

Hal itu terjadi diduga kuat atas masuknya air pasang laut sehingga menyebakan rusaknya struktur bagunan. Keretakan terlihat di banyak tempat.

Rahmah menuturkan, jika pasang air laut tiba, genangan air masuk hingga ke ruang kelas. Ketinggian air mencapai betis orang dewasa. Kondisi ini bisa berlangsung hingga berhari-hari.

"Kasihan murid-murid, kalau sudah banjir, ular bakau pun masuk ke sekolah," ujarnya.

Kerap pihak sekolah meliburkan siswa di saat banjir melanda. Selain dipenuhi air, pihaknya juga khawatir sisi bangunan yang rawan akan runtuh.

Seperti 2017 lalu, atap dan plafon sekolah pernah runtuh. Hal itu disebabkan kuatnya tiupan angin utara.

Rentannya bangunan sekolah diterpa angin kencang mengingat posisi sekolah yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari laut.

Menurut Rahmah, anak-anak serta guru tidak lagi nyaman belajar. Pasalnya, anak-anak trauma pasca ambruknya plafon dan atap sekolah beberapa waktu lalu.

"Untuk mengantisipasi jatuhnya korban, kami melarang murid berlama-lama di ruangan. Kecuali saat jam belajar," ujarnya.

Rahmah menambahkan, pihak sekolah sudah berulangkali mengajukan proposal ke Disdikbud. Namun hingga saat ini belum ada upaya perbaikan dari pemerintah daerah.

Penulis : Wira Saputra